Harus
Sungguh-sungguh
Telusuri
Gelar
Bodong
Denpasar
(Bali Post) -
Lembaga
pendidikan
sebagai
pusat keteladanan
diharapkan
betul-betul
menjadi
contoh dalam
masyarakat.
Penggunaan
gelar yang
diperoleh
dengan
jalan melanggar
aturan,
tentu kurang
mendidik.
Karena
itu,
masyarakat hendaknya
jangan
sampai terbuai
oleh
gelar bodong
untuk
sekadar gagah-gagahan.
Rektor
Universitas Hindu Indonesia
(Unhi)
Denpasar Prof. Dr. IB
Gunadha mengatakan
hal itu
ditemui
saat membuka
pelatihan
kearsipan
bagi
para pegawai
di
lingkungan kampus
setempat,
Rabu (31/8)
kemarin.
Kata
Gunadha,
gelar yang
diperoleh
mesti
dapat dipertanggungjawabkan.
Pun, untuk
mendapatkan
gelar
itu seseorang
mesti
mengikuti aturan.
Jangan
sampai
karena ingin
serba
instan, justru
mengambil
jalan
pintas dengan
membeli
gelar. ''Saya
pun sempat
ditawari
gelar
doktor dengan
hanya
menyiapkan Rp 15
juta
tanpa kuliah.
Tentu
saya
tolak mentah-mentah.
Kami
tidak
ingin dunia
pendidikan
ternoda
oleh praktik-praktik
semacam
itu. Bisa
dibayangkan
bagaimana
jadinya
mutu output jika
para
pendidik bergelar
bodong,''
kata
Gunadha.
Mantan
Sekjen
Parisada Pusat
ini
berharap pihak
terkait
mesti melakukan
penelusuran
gelar
bodong secara
sungguh-sungguh.
Penelusuran
itu
mulai dari
proses
pendidikannya, lembaga
yang menyelenggarakan
dan
peruntukan gelar
tersebut.
Sementara
merespons
pernyataan
Dirjen
Dikti soal
penertiban
gelar
kesarjanaan, Unhi
Denpasar
melakukan
penelusuran
terhadap
gelar
para dosennya.
Kata IB
Gunadha, penelusuran
ini
semata-mata untuk
merespons
wacana
ribut-ribut soal
gelar
bodong yang berkembang
belakangan
ini.
Untuk kepentingan
itu
pihak rektorat
sudah
menyebar
surat
edaran
kepada dosen
kopertis
dan
dosen yayasan
di Unhi.
(08)