Dari Warung
Global Interaktif Bali Post
Imbangi Kinerja Menteri dengan 'Direct' dan 'Indirect
Control'
KINERJA
Menteri Kabinet Bersatu disoroti.
Para menteri di kabinet ini dinilai tidak mampu
mengimbangi kerja keras yang dilakukan Presiden SBY.
Sehingga menteri kabinet ini keteteran. Ini berakibat
banyak program presiden kurang disikapi dengan bagus.
Kalau memang demikian adanya, lebih baik kabinetnya di
reshuffle saja. Kalau menteri-menteri SBY sekarang ini
keteteran rakyat lebih keteteran lagi bahkan
terseok-seok. Apa pun kepintaran seorang menteri kalau
tidak diimbangi dengan direct control dan indirect
control akan percuma. Nasionalisme bangsa Indonesia
sedang diuji. Karena terpuruknya bangsa ini juga karena
banyak yang bermain dengan menyerbu dolar. Demikan yang
terungkap dalam acara Warung Global di Radio Global FM
96,5 yang direlay oleh Radio Singaraja FM dan Radio
Genta Bali. Berikut rangkuman selengkapnya.
----------------------------------
Ledang Asmara di Imam Bonjol mengatakan Kabinet SBY
tidak becus mengelola perekonomian karena dolar semakin
hari semakin naik dan mengkhawatirkan. Boleh-boleh saja
Presiden dan kabinetnya meminta masyarakat untuk tidak
khawatir tapi rakyat di bawah sudah ngos-ngosan. Keliru
menaikkan BBM yang akhirnya seluruh lini ikut naik.
Akhirnya apa yang kita nikmati sekarang? Dengan
menaikkan suku bunga dan 5 jurus kebijakan BI lainnya
ini ujung-ujungnya cetak uang baru yang akhirnya
diberikan kepada masyarakat dengan menarik rupiah lama
seabanyak-banyaknya. Ini hal yang sangat tidak populer.
Yang populer adalah agar menciptakan barang, misalnya
emas untuk ditukar dengan uang masyarakat. Menteri
kabinetnya SBY kurang inovasi terhadap seluruh aktifitas
perekonomian . Nilai eksport kita menurun, kepercayaan
masyarakat sudah luntur dan pengangguran besar serta
kecintaan kita terhadap rupiah sendiri kurang bagus.
Sementara Artha Astawa mengatakan apa pun kepintaran
seorang menteri kalau tidak diimbangi dengan direct
control dan indirect control akan percuma. Pengawasan
rutinitas, check and balancing. Menteri harus membuat
laporan rutin.
Jujur di Sanglah mengimbau agar masyarakat lebih banyak
proaktif dan tidak memborong dolar . Karena seperti
diketahui kalau main valas keuntungan akan besar. Kalau
mental sudah bobrok apapun himbauannya pasti tidak
diikuti. Kalau kita sikapnya seperti ini terus untuk
memulihkan negara kita ini pasti akan jauh dari harapan.
Mereka yang memborong dolar dianggap oleh Jujur sebagai
pengkhianat negara. Masyarakat tetap harus menyeimbangi
karena siapa pun presidennya akan melakaukan hal yang
sama.
Made Karya di Mengwi mengatakan kalau negara ada
kemampuan membayar utang jangka pendek atau panjang maka
makmurlah negara itu. Kita harus memikirakn kemampuan
untuk membayar utang . Kalau tidak mampu membayar utang
kita tidak bisa mengatur yang lainnya juga. Sebab
situasi ekonomi sekarang ini tidak lepas dari masalah
ini. Pemerintah SBY harus membuktikan apakah dengan
menaikan BBM nantinya mampu menyejahterakan rakayatnya.
Bagi Aji Binong di Mengwi menteri SBY keteran itu wajar
karena SBY sendiri intelektualnya tinggi dan sudah
banyak orang tahu. Siapa pun menterinya dan pintarnya
seperti apa pun kalau patokannya pada harga minyak dunia
tentu melakukn hal yang sama. Bila kabinet SBY melakukan
keberanian untuk menaikkan harga BBM itu justru tidak
merugikan rakyat kecil dengan syarat kita jangan terlalu
emosi dalam berpikir. Selaku peternak, dirinya mengaku,
dengan naiknya kurs dolar maka harga ternak juga
akan merangkak naik.
Sementara itu Vijay di Pecatu membenarkan adanya
kebijakan antar menteri yang beda-beda. Lebih jauh dia
menilai untuk lepas dari ketergantungan tentu kita harus
lepas dari subsidi. Tapi imbas baliknya adalah Menteri
Pertahanan Keamanan yang akan bingung menghadapi efek
sosial yang timbul dari kebijakan pemerintah. Efeknya
juga pada mahasiswa dan mereka harus berpikiran cerdas
bahwa solusi yang terbaik saat ini adalah menaikan harga
BBM dengan catatatan UMR harus naik. Kalau gaji 10 juta
BBM anik tidak apa-apa. Tapi kalau UMR tidak naik akan
timbul masalah sosial. Saat ini kita harus
bersakit-sakit dahulu bersenang senang kemudian jangalah
suka efek yang instan.
Guru Made di Tabanan mengatakan kalau menteri keteran
itu jelas ada tapi kalau menterinya berseberangan dengan
SBY lebih baik mengundurkan diri saja. Kebijakan seorang
presiden itu pasti juga datangnya dari menteri. Kalau
keteteran itu jelas pasti ada dengan menteri. Lebih jauh
kata Guru Made, kalau berseberangan dengan Wakil
Presiden jelas ada dan kelihatannya memang ada gap. Guru
Made menilai ada menteri yang bisa memilah mana urusan
pribadi dan urusan negara dengan 100 persen baik, tapi
ada juga yang 50 persen bahkan ada yang tidak baik. Tapi
itu wajar karena masih ada badan kontrol yaitu DPR dan
MPR mereka inilah yang harus jalan juga. Tidak mungkin
presiden jalan sendiri .
Adnyana Gianyar menilai jika BBM naik semua akan
mengacaukan harga. Dari lauk-pauk dan barang apa pun
akan naik semua. Baru rencana kenaikan BBM saja, harga
barang sudah naik bagaimana kalau sudah naik?
Sementara Mangku Kastawa di Denpasar merasa bingung,
kenapa pemerintah selalau mencari tolak ukur harga BBM
dengan harga di luar negeri. Ketika sudah menaikkan
pemerintah tidak pernah menaikkan gaji buruh di
Indonesia. Pikirkan dulu pendapatan rakyat kecil seperti
buruh, baru berpikir kenaikan harga BBM. Kalau menaikkan
BBM dulu dengan memikirkan gaji buruh dengan UMR maka
ini belum tentu akan jadi masalah . Sekarang ini hanya
PNS saja yang dinaikkan gajinya apakah sebagian besar
penduduk Indonesia PNS?
Anton di Klungkung menganggap nasionalisme bangsa
Indonesia sedang diuji. Karena terpuruknya bangsa ini
karena juga banyak yang bermain dengan menyerbu dolar
untuk mencari keuntungan. Parahnya, banyak bank di
Indonesia ikut bermain maka jebollah bangsa kita.
Menurut Anton harus ada undang-undang yang melarang aksi
borong dolar. Karena kalau kita berharap pada
nasionalisme saja pada seseorang sudah tidak bisa lagi.
Kalau kita lihat impor kita juga tinggi. Disadari atau
tidak barang-barang kita kebanyakan impor. Karena
ekspornya lebih kecil dari import maka terjadilah
hal-hal seperti ini.
Maria di Sidakarya menambahkan, kalau menterinya
keteteran itu artinya menterinya tidak bekerja maksimal.
Dia menilai, bangsa Indonesia ini masih suka sesuatu itu
serba instan serba mau enak. Padahal kemampuan otak
bangsa Indonesia ini lumayan bagus. Cuma kalau ketemu
malas maka semua ingin cari mudah. Inilah yang membuat
Indonesia tertinggal karena tidak ada daya juang.
Selain itu Sugata di Bangli berpendapat kalau menteri
keteteran lebih baik reshuffle kabinet saja. Kalau sudah
keteteran itu berarti menterinya SBY tidak solid.
Sementara Putu artha di Padangsambian mengatakan kalau
menteri SBY sekarang ini keteteran rakyat lebih
keteteran lagi bahkan terseok-seok. Dari dulu rakyat
biasanya disuruh mengencangkan ikat pinggang. Biar
disuruh mengencangkan ikat pinggang sampai pinggangnya
habis juga tidak ada perbaikan. Dia menilai,
sinkronisasi antara departemen kurang baik dan tumpang
tindih. Semangat berjuang pejabat untuk rakyatnya masih
belum tulus dan jujur pejabatnya tulus dan jujur tidak
mungkin masyarakatnya tersiksa. Tidak mempunyai sikap
saja, seken, beneh. Rakyat sudah semakin tidak percaya
pada pemerintah. Apa pun yang dikerjakan pemerintah
tidak akan mengubah nasib walaupun kabinet dirombak.
Karena basis ketulusan hati dan jujur tidak ada pada
para pejabat.
Sedangkan Jero Wijaya di Kintamani mengelurakan
pendapatnya bahwa kabinet SBY itu terlalu optimis,
overacting, penghayal dan selalu mengedepankan
kepentingan kelompok. Mereka menggampangkan cara dikira
mengelola pemerintahan itu gampang. Jadi itu semua sudah
jauh dari kepentingan negara. Lihat saja kelompoknya
pemerintah tidak ada yang tersentuh hukum.
Prianus di Denpasar mengatakan, menjadi presiden
sekarang ini makin berat. Keteteran itu menurut dia sama
dengan tertinggal. Di kabinet SBY ia belum tahu yang
terjadi keteteran seperti apa. Seharusnya dulu sewaktu
kampanye sudah mengidentifikasi permasalahan dari A
sampai Z. Umpanya jutaan jumlahnya itu seperti apa harus
dipilah, dikaji dan dicarikan solusinya. Kalau sekarang
baru memikirkan sudah terlambat.
*bram