Pandangan
masyarakat Bali
masa
kini cenderung
bergerak
ke
pesimis dan
paradoks.
Di
satu pihak
terkait
dengan
realitas image of limited
goods dengan
bukti
fakta empirik
menipisnya
sumberdaya
tanah, air,
pantai,
jurang yang
disertai
makin
merapuhnya persahabatan,
kasih
sayang, serta
kepercayaan.
Di
pihak lain
di
sekelompok kolektiva
justru
juga
tumbuh pola
pikir
dan tren image of
unlimited right rather than duty yang
dibarengi
oleh
menguatnya mental rakus,
premanisme
dan
vulgarisme.
--------------------------
Hidup
Hemat
sebagai Gerakan
Budaya
Oleh
I Wayan
Geriya
DALAM
perspektif
budaya,
Inpres No. 10/2005
memiliki
semangat
untuk
hemat energi,
sekaligus
sebagai momentum
revitalisasi
budaya
hidup
hemat yang sangat
diperlukan
bangsa Indonesia
kini
dan ke
depan.
Budaya
hidup
hemat perlu
digugah,
diapresiasi
dan
dimaknai sebagai
opsi
filosofi hidup yang
sangat
relevan
untuk
mengkonter budaya
konsumtif,
boros
dan vulgar yang telah
melanda
sebagian
anak
bangsa.
---------------------------------
Budaya
Tradisional
Budaya
tradisional
memiliki
karakter yang
kuat
dalam azas
kebersamaan,
kepekaan
dan
kesusilaan sesuai
dengan habitat
sosial yang
relatif
homogen,
sederhana
dan
religius.
Persepsi
dan
citra mereka
tentang
kapital
dan
sumberdaya berpijak
pada
pandangan image of limited goods,
di
mana kapital
dan
sumberdaya termasuk
energi
bersifat
terbatas.
Bukan
saja
kapital material, kapital
non-material seperti
kekuasaan,
kasih
sayang, kepercayaan,
kekuatan
gaib
juga tersedia
secara
terbatas.
Boros
sumberdaya
dapat
berdampak ketegangan,
konflik
dan
disharmoni.
Pengamanan
dan
penghematan sumberdaya
dan
kapital material, sosial
dan spiritual
secara
seimbang
amat
penting bagi
survival kolektiva,
budaya
dan
adab.
Dalam
masyarakat
tradisional
sebagai
kolektiva
sosial
tumbuh
satu
kesadaran tinggi
tentang shame culture,
perasaan
malu
dan dosa
apabila
menyimpangi
tradisi
seperti
memamerkan
gaya
hidup
boros, rakus,
apalagi
korup
sumberdaya.
Mengkorupsi
sumberdaya,
berarti
telah
merampas milik
publik,
menyengsarakan
publik
dan
dosa terhadap
publik,
leluhur
dan
kekuatan makro
kosmos
dan
dimaknai sebagai
tindakan
asubha karma.
Sebagliknya
hemat
terhadap sumberdaya,
berarti
telah
mengabdi bagi
pemuliaan
alam,
manusia dan
budaya
dan
dimaknai sebagai
tindakan
subha karma
dalam
kerangka ajeg
tradisi.
Konsep
hemat
dalam budaya
tradisional
memiliki
arti
berkelanjutan dan
keutuhan
serta
memberikan refleksi
tentang
kearifan
lokal yang
sangat
azasi,
etis
dan humanis.
Budaya
Modern
Budaya
modern mengkonstruksi
paradigma
berbeda
terkait
dengan
pandangan
tentang
sumberdaya.
Rujukannya
adalah image of unlimited
goods, di
mana
kapital dan
keragaman
sumberdaya,
di
samping dianggap
tersedia
secara
tak
terbatas juga
mampu
diperbarui dan
ditingkatkan
nilai
tambahnya melalui
konsep
wawasan
tentang
ruang,
manajemen
waktu,
serta SDM
sesuai
dengan
habitatnya yang
heterogen,
kompleks
dan
dinamis.
Ketersediaan
dan
pertambahan sumberdaya
dan
kapital dapat
ditingkatkan
secara
terus
menerus.
Image seperti
itu
telah melahirkan
liberalisme,
kompetitivitas
dan
bahkan aneka
konflik
dalam
perebutan sumberdaya
dan
kapital, baik
material, sosial
dan spiritual.
Mentalitas
rakus,
eksploitatif,
menerabas,
premanisme
dan
korupsi yang terstruktur,
telah
menyertai dan
merupakan
bagian
dari
tradisi modern. Shame culture
luntur, moral
rapuh,
pragmatisme
makin
subur di
tengah
gaya
hidup modern yang
materialistik,
konsumtif
dan
sekuler.
Namun
faktor
penting yang
mendominasi
budaya modern
adalah
fungsi
dari
sains dan
teknologi.
Masyarakat modern
juga
sadar
akan arti
hidup
hemat yang cenderung
dimaknai
secara individual
atau
kelompok tertentu,
tidak
sebagai kolektiva
umum.
Arti
hemat
dipesankan oleh
kajian-kajian
sains,
budaya
da agama.
Konsep
hemat
dalam budaya modern
berarti
efisiensi,
efektif,
komulasi
tabungan
sejalan
dengan
signifikasi
keunggulan
sains,
teknologi
dan SDM yang
dinamis
dan
progresif, kumulasi
tabungan
harus
diamankan dan
sebesar-besarnya
dimanfaatkan
untuk
kesejahteraan masyarakat
secara
adil.
Konteks
Bali
Bali
merupakan
ekologi
pulau
kecil yang unik,
miskin
dalam
sumberdaya alam,
namun
kaya dalam
potensi
kebudayaan
dan
spiritualitas.
Dalam
keterbukaannya
secara
lokal,
nasional, global,
kebudayaan
Bali mengalami
transformasi
menurut
hukum continuity in
changes.
Konfigurasi
kebudayaan
termasuk
filosofi,
religiusitas
dan
tata nilai
lokal yang
unggul
hidup
berlanjut di
tengah
gerak
perubahan yang
diakselerasi oleh
iptek,
pariwisata,
perdagangan,
pendidikan,
populasi
dan
komunikasi.
Terkait
dengan
kondisi
sumberdaya
dan
kapital, pandangan
masyarakat Bali
masa
kini cenderung
bergerak
ke
pesimis dan
paradoks.
Di
satu pihak
terkait
dengan
realitas image of limited
goods dengan
bukti
fakta empirik
menipisnya
sumberdaya
tanah, air,
pantai,
jurang yang
disertai
makin
merapuhnya persahabatan,
kasih
sayang, serta
kepercayaan.
Di
pihak
lain di
sekelompok
kolektiva
justru
juga
tumbuh pola
pikir
dan tren image of
unlimited right rather than duty yang
dibarengi
oleh
menguatnya mental rakus,
premanisme
dan
vulgarisme.
Komulasi
dan
kolaborasi fenomena
paradoks
tersebut
sangat
berpotensi
mengancam
dan
merusak alam,
budaya
dan
spiritualitas jagat
Bali.
Bali
ke
depan perlu
dikelola
secara
lebih
hemat dalam
segala
aspek
kehidupan.
Pembudayaan
dan
Pemberdayaan
Dalam
kondisi
kontekstual
seperti
itu, Bali
kini
dan ke
depan
sangat memerlukan
gaya
hidup
hemat yang ditata
dan
dipolakan secara
hukum
dan budaya.
Penataan
secara
hukum,
melalui
Inpres No. 10/2005,
masyarakat
dituntun
untuk
hemat dalam
konsumsi
energi.
Penataan
secara
hukum agar
efektif
wajib
dibarengi oleh
sosialisasi,
pengawasan,
koordinasi,
evaluasi
dalam
koridor manajemen
yustisial yang
efektif
dan
profesional.
Penataan
dan
pemberdayaan secara
budaya
memerlukan
pendekatan yang
lebih
intens, kontemplatif,
partisipatif
dan
berbasis pemberdayaan.
Budaya
hidup
hemat harus
kembali
digagas,
disegarkan
dan
digetarkan untuk
ajeg
Bali
dan
ajeg Nusantara.
Gerakan
hidup
hemat
akan berdaya
bila
terjadi kepedulian
semua
pihak dalam
koridor moral,
kepekaan
rasa,
dan etos
bangsa.
Penulis,
antropolog
Fakultas
Sastra,
Universitas
Udayana.