kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 31 Agustus 2005

 Artikel

 

Pandangan masyarakat Bali masa kini cenderung bergerak ke pesimis dan paradoks. Di satu pihak terkait dengan realitas image of limited goods dengan bukti fakta empirik menipisnya sumberdaya tanah, air, pantai, jurang yang disertai makin merapuhnya persahabatan, kasih sayang, serta kepercayaan. Di pihak lain di sekelompok kolektiva justru juga tumbuh pola pikir dan tren image of unlimited right rather than duty yang dibarengi oleh menguatnya mental rakus, premanisme dan vulgarisme.  

--------------------------

Hidup Hemat sebagai Gerakan Budaya
Oleh
I Wayan Geriya

DALAM perspektif budaya, Inpres No. 10/2005 memiliki semangat untuk hemat energi, sekaligus sebagai momentum revitalisasi budaya hidup hemat yang sangat diperlukan bangsa Indonesia kini dan ke depan. Budaya hidup hemat perlu digugah, diapresiasi dan dimaknai sebagai opsi filosofi hidup yang sangat relevan untuk mengkonter budaya konsumtif, boros dan vulgar yang telah melanda sebagian anak bangsa.

---------------------------------

Budaya Tradisional

 

Budaya tradisional memiliki karakter yang kuat dalam azas kebersamaan, kepekaan dan kesusilaan sesuai dengan habitat sosial yang relatif homogen, sederhana dan religius. Persepsi dan citra mereka tentang kapital dan sumberdaya berpijak pada pandangan image of limited goods, di mana kapital dan sumberdaya termasuk energi bersifat terbatas. Bukan saja kapital material, kapital non-material seperti kekuasaan, kasih sayang, kepercayaan, kekuatan gaib juga tersedia secara terbatas.

Boros sumberdaya dapat berdampak ketegangan, konflik dan disharmoni. Pengamanan dan penghematan sumberdaya dan kapital material, sosial dan spiritual secara seimbang amat penting bagi survival kolektiva, budaya dan adab.

Dalam masyarakat tradisional sebagai kolektiva sosial tumbuh satu kesadaran tinggi tentang shame culture, perasaan malu dan dosa apabila menyimpangi tradisi seperti memamerkan gaya hidup boros, rakus, apalagi korup sumberdaya. Mengkorupsi sumberdaya, berarti telah merampas milik publik, menyengsarakan publik dan dosa terhadap publik, leluhur dan kekuatan makro kosmos dan dimaknai sebagai tindakan asubha karma. Sebagliknya hemat terhadap sumberdaya, berarti telah mengabdi bagi pemuliaan alam, manusia dan budaya dan dimaknai sebagai tindakan subha karma dalam kerangka ajeg tradisi.

Konsep hemat dalam budaya tradisional memiliki arti berkelanjutan dan keutuhan serta memberikan refleksi tentang kearifan lokal yang sangat azasi, etis dan humanis.

 

Budaya Modern

Budaya modern mengkonstruksi paradigma berbeda terkait dengan pandangan tentang sumberdaya. Rujukannya adalah image of unlimited goods, di mana kapital dan keragaman sumberdaya, di samping dianggap tersedia secara tak terbatas juga mampu diperbarui dan ditingkatkan nilai tambahnya melalui konsep wawasan tentang ruang, manajemen waktu, serta SDM sesuai dengan habitatnya yang heterogen, kompleks dan dinamis.

Ketersediaan dan pertambahan sumberdaya dan kapital dapat ditingkatkan secara terus menerus. Image seperti itu telah melahirkan liberalisme, kompetitivitas dan bahkan aneka konflik dalam perebutan sumberdaya dan kapital, baik material, sosial dan spiritual. Mentalitas rakus, eksploitatif, menerabas, premanisme dan korupsi yang terstruktur, telah menyertai dan merupakan bagian dari tradisi modern. Shame culture luntur, moral rapuh, pragmatisme makin subur di tengah gaya hidup modern yang materialistik, konsumtif dan sekuler. Namun faktor penting yang mendominasi budaya modern adalah fungsi dari sains dan teknologi. Masyarakat modern juga sadar akan arti hidup hemat yang cenderung dimaknai secara individual atau kelompok tertentu, tidak sebagai kolektiva umum. Arti hemat dipesankan oleh kajian-kajian sains, budaya da agama.

Konsep hemat dalam budaya modern berarti efisiensi, efektif, komulasi tabungan sejalan dengan signifikasi keunggulan sains, teknologi dan SDM yang dinamis dan progresif, kumulasi tabungan harus diamankan dan sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat secara adil.

 

Konteks Bali

Bali merupakan ekologi pulau kecil yang unik, miskin dalam sumberdaya alam, namun kaya dalam potensi kebudayaan dan spiritualitas. Dalam keterbukaannya secara lokal, nasional, global, kebudayaan Bali mengalami transformasi menurut hukum continuity in changes.

Konfigurasi kebudayaan termasuk filosofi, religiusitas dan tata nilai lokal yang unggul hidup berlanjut di tengah gerak perubahan yang diakselerasi oleh iptek, pariwisata, perdagangan, pendidikan, populasi dan komunikasi.

Terkait dengan kondisi sumberdaya dan kapital, pandangan masyarakat Bali masa kini cenderung bergerak ke pesimis dan paradoks. Di satu pihak terkait dengan realitas image of limited goods dengan bukti fakta empirik menipisnya sumberdaya tanah, air, pantai, jurang yang disertai makin merapuhnya persahabatan, kasih sayang, serta kepercayaan.

Di pihak lain di sekelompok kolektiva justru juga tumbuh pola pikir dan tren image of unlimited right rather than duty yang dibarengi oleh menguatnya mental rakus, premanisme dan vulgarisme. Komulasi dan kolaborasi fenomena paradoks tersebut sangat berpotensi mengancam dan merusak alam, budaya dan spiritualitas jagat Bali. Bali ke depan perlu dikelola secara lebih hemat dalam segala aspek kehidupan.

 

Pembudayaan dan Pemberdayaan

Dalam kondisi kontekstual seperti itu, Bali kini dan ke depan sangat memerlukan gaya hidup hemat yang ditata dan dipolakan secara hukum dan budaya. Penataan secara hukum, melalui Inpres No. 10/2005, masyarakat dituntun untuk hemat dalam konsumsi energi. Penataan secara hukum agar efektif wajib dibarengi oleh sosialisasi, pengawasan, koordinasi, evaluasi dalam koridor manajemen yustisial yang efektif dan profesional.

Penataan dan pemberdayaan secara budaya memerlukan pendekatan yang lebih intens, kontemplatif, partisipatif dan berbasis pemberdayaan. Budaya hidup hemat harus kembali digagas, disegarkan dan digetarkan untuk ajeg Bali dan ajeg Nusantara. Gerakan hidup hemat akan berdaya bila terjadi kepedulian semua pihak dalam koridor moral, kepekaan rasa, dan etos bangsa

Penulis, antropolog Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)