Taufiq Kiemas:--
Ganti Menteri, Percuma
Jakarta (Bali Post) -
Desakan pergantian menteri Kabinet Indonesia Bersatu
makin menguat, menyusul makin melemahnya nilai rupiah.
Sejumlah politisi geram melihat kelambanan pemerintahan
Presiden Yudhoyono yang tidak mengambil langkah taktis
dan fundamental.
Suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufiq
Kiemas, menyatakan pemerintah telah kehilangan
kepercayaan rakyat. ''Sebenarnya, ini masalah
trust (kepercayaan rakyat terhadap pemerintah) dan daya
beli. Saya rasa apa pun yang terjadi kalau rakyat
percaya kan enggak ada krisis,'' tegas Taufiq Kiemas
ketika ditemui Bali Post usai pemakaman jenazah
Nurcholish Madjid di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa
(30/8) kemarin.
Reshuffle kabinet, kata Kiemas, bisa menambah
keadaan lebih gawat kalau tidak dilakukan secara tepat
dan penggantinya juga tidak pas. Kondisi ini pernah
dialami Megawati. Saat menjabat, Mega juga didesak
melakukan reshuffle. Cuma, kondisinya tidak tepat
sehingga tidak dilakukan. ''Mbak Mega setahun sebelum
masa akhir dipaksa mengadakan reshuffle. Secara
psikologis reshuffle itu kalau tidak tepat juga membuat
tambah gawat. Penggantinya pun mesti luar biasa,''
tuturnya.
Kata Kiemas, jika pergantian kabinet tidak sempurna,
rupiah akan terus anjlok hingga menembus batas-batas
psikologis. ''Kalau (penggantinya) enggak tepat rupiah
akan anjlok saja.''
Dalam kondisi seperti ini, kata Kiemas, seharusnya
Presiden Yudhoyono melakukan public hearing, minta
mandat sekali lagi dari rakyat. ''Kabinet yang kini
sedang dipimpinnya kira-kira masih perlu dipertahankan
ataukah tidak. Jika rakyat melihat harus diganti,
Presiden segera menggantinya. Tetapi, jika presidennya
yang jutsru tidak dipercaya lagi oleh rakyat, pergantian
kabinet juga percuma. ''Kalau dolar di atas Rp 10 ribu,
pemerintah harusnya bilang kepada rakyat masih oke
enggak. Dan, saya rasa kalau rakyat diminta ngasih
kepercayaan lagi sama pemerintah sekarang baru Pak
Susilo mengadakan reshuffle. Itu kalau saya sebagai Pak
Susilo,'' terang Kiemas.
Menurut Kiemas, Presiden Yudhoyono memang payah. Rakyat
sudah diberi tahu mengenai hal ini, tetapi rakyat tetap
memilih Yudhoyono sebagai presiden. Ia menyayangkan
kesempatan perubahan yang seharusnya dialami rakyat
kembali ambruk. ''Sudah dikasih tahu payah-payah enggak
percaya juga. Sayang perubahan yang terjadi bisa bangkit,
menyia-nyiakan kesempatan yang bagus.''
Mantan Ketua DPR-RI Akbar Tandjung juga ikut menanggapi
makin kritisnya rupiah. Baginya, reshuffle kabinet itu
hak prerogatif Presiden. Saat ini, waktunya
Presiden melakukan evaluasi terhadap kinerja kabinet. ''Banyak
soal yang dihadapi masyarakat yang sekarang ini belum
bisa diatasi dengan baik, khususnya di bidang ekonomi.
Kesulitannya semakin berat. Nilai rupiah semakin lemah.
Harga barang semakin naik. BBM semakin naik. Sudah
waktunya Presiden melalukan evaluasi,'' tegas Akbar.
(kmb7)