kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 31 Agustus 2005

 Nusantara


Taufiq Kiemas:--

Ganti Menteri, Percuma

Jakarta (Bali Post) -
Desakan pergantian menteri Kabinet Indonesia Bersatu makin menguat, menyusul makin melemahnya nilai rupiah. Sejumlah politisi geram melihat kelambanan pemerintahan Presiden Yudhoyono yang tidak mengambil langkah taktis dan fundamental. 

Suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufiq Kiemas, menyatakan pemerintah telah kehilangan kepercayaan rakyat.  ''Sebenarnya, ini masalah trust (kepercayaan rakyat terhadap pemerintah) dan daya beli. Saya rasa apa pun yang terjadi kalau rakyat percaya kan enggak ada krisis,'' tegas Taufiq Kiemas ketika ditemui Bali Post usai pemakaman jenazah Nurcholish Madjid di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa (30/8) kemarin.

 

Reshuffle kabinet, kata Kiemas,  bisa menambah keadaan lebih gawat kalau tidak dilakukan secara tepat dan penggantinya juga tidak pas. Kondisi ini pernah dialami Megawati. Saat menjabat, Mega juga didesak melakukan reshuffle. Cuma, kondisinya tidak tepat sehingga tidak dilakukan. ''Mbak Mega setahun sebelum masa akhir dipaksa mengadakan reshuffle. Secara psikologis reshuffle itu kalau tidak tepat juga membuat tambah gawat.  Penggantinya pun mesti luar biasa,'' tuturnya.

 

Kata Kiemas, jika pergantian kabinet tidak sempurna, rupiah akan terus anjlok hingga menembus batas-batas psikologis. ''Kalau (penggantinya) enggak tepat rupiah akan anjlok saja.''

 

Dalam kondisi seperti ini, kata Kiemas, seharusnya Presiden  Yudhoyono melakukan public hearing, minta mandat sekali lagi dari rakyat. ''Kabinet yang kini sedang dipimpinnya kira-kira masih perlu dipertahankan ataukah tidak. Jika rakyat melihat harus diganti, Presiden segera menggantinya. Tetapi, jika presidennya yang jutsru tidak dipercaya lagi oleh rakyat, pergantian kabinet juga percuma. ''Kalau dolar di atas Rp 10 ribu, pemerintah harusnya bilang kepada rakyat masih oke enggak. Dan, saya rasa kalau rakyat diminta ngasih kepercayaan lagi sama pemerintah sekarang baru Pak Susilo mengadakan reshuffle. Itu kalau saya sebagai Pak Susilo,'' terang Kiemas.

 

Menurut Kiemas, Presiden Yudhoyono memang payah. Rakyat sudah diberi tahu mengenai hal ini, tetapi rakyat tetap memilih Yudhoyono sebagai presiden. Ia menyayangkan kesempatan perubahan yang seharusnya dialami rakyat kembali ambruk. ''Sudah dikasih tahu payah-payah enggak percaya juga. Sayang perubahan yang terjadi bisa bangkit, menyia-nyiakan kesempatan yang bagus.''

 

Mantan Ketua DPR-RI Akbar Tandjung juga ikut menanggapi makin kritisnya rupiah. Baginya, reshuffle kabinet itu hak prerogatif Presiden. Saat ini,  waktunya Presiden melakukan evaluasi terhadap kinerja kabinet. ''Banyak soal yang dihadapi masyarakat yang sekarang ini belum bisa diatasi dengan baik, khususnya di bidang ekonomi.  Kesulitannya semakin berat. Nilai rupiah semakin lemah. Harga barang semakin naik. BBM semakin naik. Sudah waktunya Presiden melalukan evaluasi,'' tegas Akbar. (kmb7)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)