kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 31 Agustus 2005

 Bias Bali


Mengetuk
Rasa Kemanusiaan 

Sa id bhojo grhave dadati.

Annakamaya carate krsaya.

Aram asmai bhavati yama huta

Utaparisu krnute sakhyayam. (Regveda.X.117.3)

Artinya, orang yang disebut mulia adalah mereka yang dengan ikhlas melakukan punia kepada yang miskin. Orang-orang dermawan seperti itu akan memperoleh cukup artha seandainya menghadapi suatu bencana. Mereka pun memiliki sejumlah besar sahabat untuk membantunya kalau menghadapi suatu kemalangan.

Kemiskinan di Indonesia umunya struktural, bukan kultural. Demikian juga di Bali yang terkenal sebagai daerah yang cukup makmur. Tetapi di bawah kerlip-kerlip cahaya kemakmuran banyak juga yang miskin, bahkan kekurangan gizi. Ada juga yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Kesenjangan itu terjadi karena bukan karena kultur mereka semata. Umumnya karena kebijakan dari atas. Dalam mempersiapkan suatu pembangunan sering tidak didahului oleh kajian yang holistik. Lebih banyak dilihat dari sudut pertumbuhan ekonomi dengan tidak mempersiapkan masyarakat setempat serta perlindungan alam sekitar.

Masyarakat Bali seharusnya dapat hidup sangat sejahtera dan adil karena dinamika pembangunan ekonomi yang berporos pada industri kepariwisataan. Pembangunan ekonomi yang hanya  menggelembungkan kantong APBD atau APBN saja akan banyak menimbulkan kesenjangan sosial. Suatu contoh adanya pembangunan sarana pariwisata di mana SDM di sekitar pembangunan tersebut tidak disiapkan dengan baik. Ini akan menimbulkan kesenjangan sosial.

Idealnya, setiap ada kesempatan kerja setidak-tidaknya dapat menyerap SDM di sekitarnya. Kalau tenaga kerja untuk golongan menengah ke bawah sebagian besar diambil dari luar, dapat dipastikan akan muncul kesenjangan yang tajam. Seperti di Bali banyak ada lapangan kerja tetapi lebih banyak diambil oleh orang lain. Orang yang tidak banyak berjasa pada pemeliharaan alam dan budaya sekitar justru akan kebagian rezeki. Sedangkan mereka yang berjasa pada pemeliharaan alam dan budaya setempat justru tidak kebagian lapangan kerja.

Hal ini justru akan menimbulkan banyak gejolak sosial yang juga akan membutuhkan biaya yang tidak kecil untuk menyelesaikannya. Seperti kesenjangan yang dialami dewasa ini di Indonesia umumnya maupun di Bali khususnya. Pembangunan itu wajib dilakukan di semua wilayah secara adil sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Tentu diimbangi dengan persiapan yang matang terutama untuk membangun keadilan, kesejahteraan yang berbudaya dan tidak merusak alam. Artinya, pembangunan itu jangan sampai meninggalkan rasa kemanusiaan bagi mereka yang kecil dan tidak berdaya. Karena itu, mereka yang kecil dan kurang berdaya setidak-tidaknya diberdayakan untuk mengisi lowongan kerja pada level bawah dan menengah. Kalau sampai pembangunan itu meninggalkan mereka yang lemah, kecil dan kurang berdaya, berarti bukan pembangunan manusia. Mereka yang diberikan kekuatan, bukan untuk menindas mereka yang lemah dan kecil. Tetapi kekuatan itu dipakai menolong mereka.

Kalau kekuatan itu justru dipakai untuk meminggirkan mereka yang lemah berarti pembangunan itu tanpa kemanusiaan. Karena itu para pengambil kebijakan dalam pembangunan itu perlu memiliki rasa dan wawasan kemanusiaan yang dalam sesuai dengan kepribadian bangsa.

Karena salah satu aspek utama dalam kebudayaan itu adalah kuatnya masyarakat berpegang pada nilai kemanusiaan. Kuatnya nilai-nilai kemanusiaan itulah yang akan dapat menjadi titik awal untuk menghapuskan kesenjangan sosial ekonomi masyarakat. * Ketut Gobyah

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)