Mengetuk
Rasa Kemanusiaan
Sa
id bhojo
grhave
dadati.
Annakamaya
carate
krsaya.
Aram
asmai
bhavati
yama
huta
Utaparisu
krnute
sakhyayam.
(Regveda.X.117.3)
Artinya,
orang yang
disebut
mulia
adalah
mereka yang
dengan
ikhlas
melakukan
punia
kepada yang
miskin.
Orang-orang
dermawan
seperti
itu
akan
memperoleh
cukup
artha
seandainya
menghadapi
suatu
bencana.
Mereka
pun memiliki
sejumlah
besar
sahabat
untuk
membantunya
kalau
menghadapi
suatu
kemalangan.
Kemiskinan
di Indonesia
umunya
struktural,
bukan
kultural.
Demikian
juga
di
Bali yang
terkenal
sebagai
daerah yang
cukup
makmur.
Tetapi
di
bawah kerlip-kerlip
cahaya
kemakmuran
banyak
juga yang
miskin,
bahkan
kekurangan
gizi.
Ada
juga yang
tinggal
di
rumah yang tidak
layak
huni.
Kesenjangan
itu
terjadi karena
bukan
karena
kultur
mereka
semata.
Umumnya
karena
kebijakan
dari
atas.
Dalam
mempersiapkan
suatu
pembangunan
sering
tidak
didahului
oleh
kajian yang
holistik.
Lebih
banyak
dilihat
dari
sudut
pertumbuhan
ekonomi
dengan
tidak
mempersiapkan
masyarakat
setempat
serta
perlindungan
alam
sekitar.
Masyarakat
Bali seharusnya
dapat
hidup
sangat
sejahtera
dan
adil karena
dinamika
pembangunan
ekonomi yang
berporos
pada
industri
kepariwisataan.
Pembangunan
ekonomi yang
hanya
menggelembungkan
kantong APBD
atau APBN
saja
akan
banyak
menimbulkan
kesenjangan
sosial.
Suatu
contoh
adanya
pembangunan
sarana
pariwisata
di
mana SDM di
sekitar
pembangunan
tersebut
tidak
disiapkan
dengan
baik.
Ini
akan
menimbulkan
kesenjangan
sosial.
Idealnya,
setiap
ada
kesempatan kerja
setidak-tidaknya
dapat
menyerap SDM
di
sekitarnya.
Kalau
tenaga
kerja
untuk
golongan
menengah
ke
bawah sebagian
besar
diambil
dari
luar,
dapat
dipastikan
akan
muncul
kesenjangan yang
tajam.
Seperti
di Bali
banyak
ada
lapangan kerja
tetapi
lebih
banyak
diambil
oleh
orang lain.
Orang yang
tidak
banyak
berjasa
pada
pemeliharaan
alam
dan
budaya sekitar
justru
akan
kebagian
rezeki.
Sedangkan
mereka yang
berjasa
pada
pemeliharaan
alam
dan
budaya setempat
justru
tidak
kebagian
lapangan
kerja.
Hal ini
justru
akan
menimbulkan
banyak
gejolak
sosial yang
juga
akan
membutuhkan
biaya yang
tidak
kecil
untuk
menyelesaikannya.
Seperti
kesenjangan yang
dialami
dewasa
ini
di
Indonesia
umumnya
maupun
di Bali
khususnya.
Pembangunan
itu
wajib dilakukan
di
semua wilayah
secara
adil
sesuai
dengan
potensi
daerah
masing-masing.
Tentu
diimbangi
dengan
persiapan yang
matang
terutama
untuk
membangun
keadilan,
kesejahteraan yang
berbudaya
dan
tidak merusak
alam.
Artinya,
pembangunan
itu
jangan sampai
meninggalkan
rasa
kemanusiaan
bagi
mereka yang
kecil
dan
tidak berdaya.
Karena
itu,
mereka yang
kecil
dan
kurang berdaya
setidak-tidaknya
diberdayakan
untuk
mengisi
lowongan
kerja
pada level
bawah
dan
menengah.
Kalau
sampai
pembangunan
itu
meninggalkan mereka
yang lemah,
kecil
dan
kurang berdaya,
berarti
bukan
pembangunan
manusia.
Mereka
yang diberikan
kekuatan,
bukan
untuk
menindas
mereka yang
lemah
dan
kecil.
Tetapi
kekuatan
itu
dipakai menolong
mereka.
Kalau
kekuatan
itu
justru dipakai
untuk
meminggirkan
mereka yang
lemah
berarti
pembangunan
itu
tanpa kemanusiaan.
Karena
itu
para pengambil
kebijakan
dalam
pembangunan
itu
perlu memiliki
rasa
dan
wawasan kemanusiaan
yang dalam
sesuai
dengan
kepribadian
bangsa.
Karena
salah
satu
aspek
utama
dalam
kebudayaan
itu
adalah kuatnya
masyarakat
berpegang
pada
nilai
kemanusiaan.
Kuatnya
nilai-nilai
kemanusiaan
itulah yang
akan
dapat
menjadi
titik
awal
untuk
menghapuskan
kesenjangan
sosial
ekonomi
masyarakat.
* Ketut
Gobyah