Air Sungai
Meluap,
Warga
Satria
Resah
Negara (Bali Post) -
Warga
yang tinggal
di
tepi Sungai
Ijo
Gading, Negara resah.
Pasalnya,
air sungai yang
kadang
meluap
mengancam
tempat
tinggal
mereka.
Apalagi,
dari
hari
ke
hari tanah
di
pinggir sungai
terus
terkikis
dan
nyaris menghanyutkan
bagian
dari
rumah
warga.
Dulu
pernah
ada
rencana menyender
pinggiran
sungai.
Batu-batu
sudah
siap,
tetapi
entah
bagaimana,
kok
ndak jadi
dan
batu dipindahkan
lagi.
''Sekarang
kami
dihantui
keresahan.
Kalau
air sungai
meluap,
dapur
kami
pasti
hanyut,''
tutur Ni Made
Arni,
warga
Lingkungan
Satria,
Pendem,
Senin (29/8)
malam
lalu.
Ibu
enam
anak
ini
menambahkan jika
musim
hujan,
dia
dan keluarganya
tidak
bisa
tidur
nyenyak.
Mereka
khawatir air bah
akan
menerjang
dapur.
Posisi
dapur
mereka
persis
berada
di
pinggir sungai.
Ketika
air bah Senin
lalu,
jembatan yang
ada
di bawah
rumah
mereka
nyaris
tak
terlihat.
Derasnya
air yang mengalir
ini
dikhawatirkan terus
menggerus
tanah yang
menjadi
fondasi
dapur
milik
Arni.
Arni
yang tinggal
bersama
Gede
Subrata (anak)
dan
menantunya mengaku
Kepala
Lingkungan
Satria I
Wayan
Diandra
sudah
pernah
mengecek
ke
lokasi.
Mereka
berharap
pinggiran
sungai
itu
disender.
Sementara
itu,
anggota
Komisi C DPRD
Jembrana
Iskandar
Alfan,
Selasa (30/8)
kemarin,
mengatakan
masalah
senderan
sungai
merupakan
tugas
propinsi.
Namun,
pihaknya
siap
turun
ke
lapangan untuk
melihat
kondisi
pinggiran
Sungai
Ijo
Gading tersebut.
Sebelumnya,
Komisi C
telah
mengecek
proyek
jembatan
Manistutu,
Melaya yang
hancur
diterjang air bah.
Menurut
pemborong I
Ketut
Tenger,
proyek yang
dikerjakan
baru 50%.
Diperkirakan,
banjir
dadakan
ini
memuat kotoran
dan
potongan-potongan kayu
dari
hutan.
Kiriman
dari
hulu
sungai
tersebut
nyangkut
pada
bagian
jembatan yang
belum
rampung.
Pihak
pemborong
berusaha
menyelamatkan
besi
dan
batang kayu
dengan
tali
namun
gagal
karena
arus
terlalu
deras.
Akibat
peristiwa
tersebut,
pemborong
mengalami
kerugian
ratusan
juta
rupiah.
Iskandar
bersama
dua
anggota Komisi C,
Wahyu
Eko
Widianto dan
Gede
Suardana,
minta
pemborong
membuat
laporan
bersama
pimpro
dan
mengajukan permohonan
perpanjangan
pengerjaan.
Jembatan
ini
dianggarkan dari
APBD 2005 Rp
426.227.000.
Pengerjaan
dimulai 27
Juni
dan
seharusnya sudah
selesai 24
Oktober 2005.
(kmb19)