kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 31 Agustus 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Ditata dengan Puluhan Milyar --

GOR Ngurah Rai Diharapkan Lahirkan Atlet Berprestasi

GELANGGANG Olah Raga (GOR) Ngurah Rai di Denpasar yang dulunya sempat dicap kumuh dan kurang terawat akan diperbaiki secara menyeluruh. Penataan dan renovasi atas sarana olah raga di jantung kota ini diperkirakan memerlukan dana Rp 70 milyar. Pengerjaan proyek ini secara berlanjut sampai selesai membutuhkan waktu tiga tahun termasuk sampai penataan dalam stadion. Diharapkan tahun 2005 ini gedung serbaguna itu sudah bisa dikerjakan. Bagi sebagian masyarakat soal anggaran tidak perlu diperdebatkan. Karena sejak dulu kita harapkan GOR Ngurah Rai ditata rapi, daripada kumuh dan merusak pemandangan. GOR di tengah kota itu sangat mengecewakan sebagai sebuah gelanggang olah raga yang dimiliki oleh sebuah kota metropolitan. Penggunaan anggaran yang diperuntukkan bagi penataan dan renovasi GOR sebaiknya diserahkan kepada tim audit. GOR tersebut nantinya diharapkan dilengkapi dengan fasilitas dan ada pembinaan kepada atlet-atletnya sehingga nantinya melahirkan atlet berprestasi. Namun di sisi lain anggaran yang mencapai puluhan milyar rupiah itu juga diharapkan disisihkan sedikit untuk keperluan masyarakat miskin. Demikian antara lain terungkap dalam acara Warung Global di Radio Global FM 96,5 Selasa (30/8) kemarin. Acara ini dipancarluaskan Radio Singaraja FM dan Radio Genta Bali. Berikut rangkuman selengkapnya.

 

---------------------------------------------------

Maria di Sidakarya menyambut dengan senang sekali penataan GOR Ngurah Rai karena memang kondisinya kurang memadai, apalagi Bali sepertinya berkelas internasional sehingga gelanggang olah raganya pun harus berkelas internasional. Yang dia perhatikan betul-betul adalah masalah tempat pembuangan sampah. Walaupun membuat gedung atau GOR milyaran rupiah, kemudian tempat sampah memang seple sekali karena budaya masyarakat membuang sampah, juga para perokok yang biasanya sembarangan membuang puntung rokok. Kemudian kamar kecil diharapkan agar disediakan di tiap arena/lantai jangan hanya satu. Juga masalah perawatan atau pemeliharaan karena kebiasaan pemerintah kita bisa membangun tapi tidak bisa memeliharanya. Sehingga dari anggaran sekian M tersebut jangan lupa ada anggaran untuk pemeliharaan dan ditunjuk orang-orang tertentu. Harapannya, prestasi para atlet meningkat dan natinya berarti meningkatkan prestise daerah.

Sementara itu menurut Guru Made di Sanggulan, memang pernah bahkan mungkin juga sampai saat ini ada polemik mengenai pengelolaan GOR Ngurah Rai antara Pemkot Denpasar dan Pemprop Bali. Pati menurut dia, sebenarnya pemeliharaan atau yang menangani GOR dikembalikan saja kepada yang bertanggung jawab. Memang kita akui gampang sekali membangunnya tapi memeliharanya tidak ada. Guru Made mengaku pernah ke GOR Ngurah Rai, memang ada WC tapi terkunci. Ini kembali masalah penanganan, antara Pemkot dan Pemprop agar mencari solusi siapa yang harus menangani. Apalagi GOR tersebut bukan prestise Denpasar tapi juga Bali. Ini hampir sama dengan nasib Senayan karena sejak zaman Bung Karno tetap begitu-begitu saja. Dia menyarankan, cobalah sisihkan dana barang beberapa milyar untuk memelihara dan lebih baik juga agar ditingkatkan.

Jero Wijaya di Kintamani mempunyai pemikiran lain. Kalau 10% dialihkan kepada masyarakat miskin, maka mereka akan terangkat martabatnya. Dia menilai, di sini sudah jelas apa yang dilakukan oleh pemerintah, lebih mementingkan hal-hal yang terkait dengan kekayaan. Hanya olah raganya diperhatikan, kapan memelihara masyarakat miskin? Kenapa olah raga begitu banyak menghabiskan dana? Kalau misalnya GOR milik negara mestinya siapa yang memakai dia yang harus kena uang. Jangan sebaliknya, siapa yang memakai dia malah mendapat uang. Karenanya masyarakat miskin/gepeng tidak ada yang memperhatikan. Orang-orang kaya malah dibuatkan lapangan yang luas dan bagus. Jumlah dana tersebut bagi Jero Wijaya terlalu besar, bahkan keterlaluan.

Sedangkan Mardika di Kuta mendoakan, semoga ini tidak bohong karena dari dulu dikatakan akan diperbaiki padahal ada sponsornya tetapi tidak terealisasi. Sebagai fans sepak bola dirinya sangat mendukung penataan dan renovasi GOR. Kalau bisa, kenapa tidak, daerah-daerah kaya seperti Badung kenapa tidak punya stadion yang bagus dan megah?

Lintang di Gianyar mengatakan bahwa jumlah anggaran untuk penataan dan renovasi GOR tersebut lumayan asalkan tidak mubazir. Seperti yang di lihat di daerah-daerah seperti Jawa Timur atau DKI Jakarta, agar nantinya tidak mubazir. Artinya begitu dibangun untuk kepentingan umum juga memperhatikan atau disisihkan dana untuk masyarakat kecil terutama untuk desa adat. Yang diharapkannya agar GOR tersebut dilengkapi dengan fasilitas dan ada pembinaan kepada atlet-atletnya sehingga nantinya atletnya berprestasi.

Dewa Kakiang di Denpasar mengaku dirinya selama seminggu dua kali ada di GOR tersebut sehingga fasilitas-fasilitasnya perlu diperbaiki. Misalnya kamar mandinya agar diperbaiki, demikian juga tembok-temboknya agar diperbaiki. Juga yang terpenting adalah keseriusan dalam perbaikan dengan jumlah dana tersebut.

Putu Suarjana di Singaraja menambahkan, kalau ada kemauan dari pemerintah untuk memperbaiki GOR kita sambut dengan gembira. Karena Bali sedemikian mendunia. Kita membangun GOR tingkat internasional, fasilitas, prestasi-prestasi yang juga internasional. Dengan fasilitas-fasilitas yang internasional maka penanganannya juga harus bersifat internasional.

Made Karya di Mengwi melihat, terbangunyya GOR tersebut  seperti yang terdahulu yang tidak beres dalam kepengurusan olah raga. Menurutnya, kalau GOR ini sudah bagus dengan dana yang milyaran justru diskriminasi ini akan semakin tumbuh subur. Diharapkan kepada pengurus-pengurus KONI agar bijak, jangan hanya untuk sepak bola padahal olah raga itu banyak. Sekarang ini banyak dana habis untuk sepak bola saja. Sementara untuk seni, untuk pariwisata tidak mendapat dana. Jangan sampai kita terkilau dengan stadion.

Prianus di Denpasar mendukung jika ada usaha untuk membangaun fasilitas baru dengan segala perlengkapannya. Dia juga mengharapkan pelayanannya jangan hanya sibuk di luar. Karena pelayanan itu terkait dengan fasilitasi. Kemudian memang di sini kita memerlukan bukan hanya berolah raga tetapi memerukan orang-orang yang mempunyai niat dan kemauan baik untuk kemajuan suatu prestasi. Dia juga menekankan bahwa fasilitas GOR ini adalah fasilitas umum sehingga harus diperhatikan keperluan-keperluan umun yang bersifat emergency.

Ledang Asmara di Denpasar melihat suatu ironisme terhadap fasilitas-fasilitas di Denpasar sebagai ibu kota propinsi yang merupakan kota metropolitan. Kenapa dibiarkan cerobo saja? Itu faktor dari luar. Dengan dana yang besar di tengah krisis sangat ironis. Belum lagi bekas lahan Puspem Badung di Lumintang seperti kuburan. Jadi dengan 70 milyar ini harapan masyarakat agar segera terwujud.

Jujur di Sanglah menambahkan, GOR tersebut harus dibentuk sedemikian rupa tidak terkesan kumuh, asalkan saja nilai proyek dengan dana yang dianggarakan disesuaikan. Biasanya kalau proyek ujung-ujungnya tidak demikian. Apalagi kalau dikemas sedemikian rupa, lapangan sepak bola kelihatan bergeliat.

Kadek Mako di Denpasar menilai, dana sebesar itu memang pantas bahkan kurang. Menurutnya, memang Bali pantas memiliki sarana dan prasarana bertaraf internasional karena Bali sebagai daerah wisata internasional. Kenapa harus dikalahkan oleh negara-negar kecil yang bisa mendatangkan klub-klub sepak bola dunia. Tetapi persoalannya kalau ada proyek dananya selalu disunat. Kalau penyunatan ini tidak terjadi masyarakat tidak akan berbicara keras kepada pemerintah. Kalau memang dana 70 M itu benar-benar digunakan semestikan sangat luar biasa.

Sudira di Gianyar merasa ini tidak perlu diperdebatkan. Dirinya setuju karena hal-hal ini sejak dulu kita harapkan ditata rapi, daripada merusak pemandangan. Setiap kita melintas di sana merasa kecewa memiliki gelanggang olah raga yang dimiliki oleh kota metropolitan. Mengenai besarnya anggaran, menurutnya, diserahkan saja kepada tim audit.

Sementara itu Jerry di Kuta menyarankan, kompleks GOR tersebut itu direncanakan dulu penempatannya di mana. Jangan sampai ada pelebaran lapangan saat GOR sudah jadi. Sehingga penataannya bisa bertahap. Biar nantinya betul-betul apa yang dibuat ini tidak tumpang tindih. Perbaikan ini sangat bagus walaupun APBD harus digerogoti. 

* panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)