Dari Warung
Global Interaktif Bali Post
Ditata dengan Puluhan Milyar --
GOR Ngurah Rai Diharapkan Lahirkan Atlet Berprestasi
GELANGGANG
Olah Raga (GOR) Ngurah Rai di Denpasar yang dulunya
sempat dicap kumuh dan kurang terawat
akan diperbaiki secara
menyeluruh. Penataan dan renovasi atas sarana olah raga
di jantung
kota
ini diperkirakan memerlukan dana Rp 70 milyar.
Pengerjaan proyek ini secara
berlanjut sampai selesai membutuhkan waktu tiga tahun
termasuk sampai penataan dalam stadion.
Diharapkan tahun 2005 ini gedung
serbaguna itu sudah bisa dikerjakan.
Bagi sebagian masyarakat soal
anggaran tidak perlu diperdebatkan.
Karena sejak dulu kita harapkan GOR
Ngurah Rai ditata rapi, daripada kumuh dan merusak
pemandangan. GOR di tengah
kota
itu sangat mengecewakan sebagai sebuah gelanggang olah
raga yang dimiliki oleh sebuah kota metropolitan.
Penggunaan anggaran yang diperuntukkan bagi penataan dan
renovasi GOR sebaiknya diserahkan kepada
tim audit.
GOR tersebut nantinya diharapkan
dilengkapi dengan fasilitas dan ada pembinaan kepada
atlet-atletnya sehingga nantinya melahirkan atlet
berprestasi. Namun di sisi
lain anggaran yang mencapai puluhan milyar rupiah
itu juga diharapkan disisihkan sedikit untuk keperluan
masyarakat miskin. Demikian antara lain terungkap dalam
acara Warung Global di Radio Global FM 96,5
Selasa (30/8) kemarin. Acara ini
dipancarluaskan Radio Singaraja FM dan Radio Genta Bali.
Berikut rangkuman selengkapnya.
---------------------------------------------------
Maria di Sidakarya menyambut dengan senang sekali
penataan GOR Ngurah Rai karena memang kondisinya kurang
memadai, apalagi Bali sepertinya berkelas internasional
sehingga gelanggang olah raganya pun harus berkelas
internasional.
Yang dia perhatikan betul-betul
adalah masalah tempat pembuangan sampah.
Walaupun membuat gedung atau GOR
milyaran rupiah, kemudian tempat sampah memang seple
sekali karena budaya masyarakat membuang sampah, juga
para perokok yang biasanya sembarangan membuang puntung
rokok. Kemudian kamar kecil
diharapkan agar disediakan di tiap arena/lantai jangan
hanya satu. Juga masalah
perawatan atau pemeliharaan karena kebiasaan pemerintah
kita bisa membangun tapi tidak bisa memeliharanya.
Sehingga dari anggaran sekian M
tersebut jangan lupa ada anggaran untuk pemeliharaan dan
ditunjuk orang-orang tertentu.
Harapannya, prestasi
para atlet meningkat dan natinya berarti meningkatkan
prestise daerah.
Sementara itu menurut Guru Made di Sanggulan, memang
pernah bahkan mungkin juga sampai saat ini ada polemik
mengenai pengelolaan GOR Ngurah Rai antara Pemkot
Denpasar dan Pemprop Bali.
Pati menurut dia, sebenarnya
pemeliharaan atau yang menangani GOR dikembalikan saja
kepada yang bertanggung jawab.
Memang kita akui gampang sekali
membangunnya tapi memeliharanya tidak ada.
Guru Made mengaku pernah ke GOR
Ngurah Rai, memang ada WC tapi terkunci.
Ini kembali masalah penanganan,
antara Pemkot dan Pemprop agar mencari solusi siapa yang
harus menangani. Apalagi GOR
tersebut bukan prestise Denpasar tapi juga
Bali.
Ini hampir sama dengan nasib
Senayan karena sejak zaman Bung Karno tetap
begitu-begitu saja. Dia menyarankan, cobalah sisihkan
dana barang beberapa milyar
untuk memelihara dan lebih baik juga agar ditingkatkan.
Jero Wijaya di Kintamani mempunyai pemikiran lain. Kalau
10% dialihkan kepada masyarakat miskin, maka mereka
akan terangkat martabatnya.
Dia menilai, di sini sudah jelas apa
yang dilakukan oleh pemerintah, lebih mementingkan
hal-hal yang terkait dengan kekayaan.
Hanya olah raganya diperhatikan,
kapan memelihara masyarakat miskin? Kenapa olah
raga begitu banyak menghabiskan dana?
Kalau misalnya GOR milik negara
mestinya siapa yang memakai dia yang harus kena uang.
Jangan sebaliknya, siapa yang
memakai dia malah mendapat uang.
Karenanya masyarakat miskin/gepeng
tidak ada yang memperhatikan.
Orang-orang kaya malah dibuatkan lapangan yang luas dan
bagus. Jumlah dana
tersebut bagi Jero Wijaya terlalu besar, bahkan
keterlaluan.
Sedangkan Mardika di Kuta mendoakan, semoga ini tidak
bohong karena dari dulu dikatakan
akan diperbaiki padahal ada sponsornya tetapi
tidak terealisasi. Sebagai fans sepak bola dirinya
sangat mendukung penataan dan renovasi GOR.
Kalau bisa, kenapa tidak,
daerah-daerah kaya seperti Badung kenapa tidak punya
stadion yang bagus dan megah?
Lintang di Gianyar mengatakan bahwa jumlah anggaran
untuk penataan dan renovasi GOR tersebut lumayan asalkan
tidak mubazir.
Seperti yang di lihat di
daerah-daerah seperti Jawa Timur atau DKI Jakarta, agar
nantinya tidak mubazir. Artinya begitu dibangun
untuk kepentingan umum juga memperhatikan atau
disisihkan dana untuk
masyarakat kecil terutama untuk desa adat.
Yang diharapkannya agar GOR tersebut
dilengkapi dengan fasilitas dan ada pembinaan kepada
atlet-atletnya sehingga nantinya atletnya berprestasi.
Dewa Kakiang di Denpasar mengaku dirinya selama seminggu
dua kali ada di GOR tersebut sehingga
fasilitas-fasilitasnya perlu diperbaiki.
Misalnya kamar mandinya agar
diperbaiki, demikian juga tembok-temboknya agar
diperbaiki. Juga yang terpenting adalah
keseriusan dalam perbaikan dengan jumlah
dana tersebut.
Putu Suarjana di Singaraja menambahkan, kalau ada
kemauan dari pemerintah untuk memperbaiki GOR kita
sambut dengan gembira.
Karena Bali sedemikian mendunia.
Kita membangun GOR tingkat
internasional, fasilitas, prestasi-prestasi yang juga
internasional. Dengan
fasilitas-fasilitas yang internasional maka
penanganannya juga harus bersifat internasional.
Made Karya di Mengwi melihat, terbangunyya GOR
tersebut seperti yang
terdahulu yang tidak beres dalam kepengurusan olah raga.
Menurutnya, kalau GOR ini sudah bagus dengan
dana yang milyaran justru
diskriminasi ini akan semakin tumbuh subur.
Diharapkan kepada pengurus-pengurus
KONI agar bijak, jangan hanya untuk sepak bola padahal
olah raga itu banyak. Sekarang ini banyak
dana habis untuk sepak bola
saja. Sementara untuk seni, untuk pariwisata tidak
mendapat dana.
Jangan sampai kita terkilau dengan
stadion.
Prianus di Denpasar mendukung jika ada usaha untuk
membangaun fasilitas baru dengan segala perlengkapannya.
Dia juga mengharapkan pelayanannya
jangan hanya sibuk di luar.
Karena pelayanan itu terkait dengan fasilitasi.
Kemudian memang di sini kita
memerlukan bukan hanya berolah raga tetapi memerukan
orang-orang yang mempunyai niat dan kemauan baik untuk
kemajuan suatu prestasi.
Dia juga menekankan
bahwa fasilitas GOR ini adalah fasilitas umum sehingga
harus diperhatikan keperluan-keperluan umun yang
bersifat emergency.
Ledang Asmara di Denpasar melihat suatu ironisme
terhadap fasilitas-fasilitas di Denpasar sebagai ibu
kota
propinsi yang merupakan kota metropolitan.
Kenapa dibiarkan cerobo saja?
Itu faktor dari luar. Dengan
dana yang besar di tengah
krisis sangat ironis. Belum lagi
bekas lahan Puspem Badung di Lumintang seperti kuburan.
Jadi dengan 70
milyar ini harapan masyarakat agar segera terwujud.
Jujur di Sanglah menambahkan, GOR tersebut harus
dibentuk sedemikian rupa tidak terkesan kumuh, asalkan
saja nilai proyek dengan dana
yang dianggarakan disesuaikan.
Biasanya kalau proyek ujung-ujungnya tidak demikian.
Apalagi kalau dikemas sedemikian
rupa, lapangan sepak bola kelihatan bergeliat.
Kadek Mako di Denpasar menilai, dana
sebesar itu memang pantas bahkan kurang.
Menurutnya, memang
Bali pantas
memiliki sarana dan prasarana bertaraf internasional
karena Bali sebagai daerah wisata internasional.
Kenapa harus dikalahkan oleh
negara-negar kecil yang bisa mendatangkan klub-klub
sepak bola dunia. Tetapi
persoalannya kalau ada proyek dananya selalu disunat.
Kalau penyunatan ini tidak terjadi masyarakat tidak
akan berbicara keras kepada
pemerintah. Kalau memang dana
70 M itu benar-benar digunakan semestikan sangat luar
biasa.
Sudira di Gianyar merasa ini tidak perlu diperdebatkan.
Dirinya setuju karena hal-hal ini
sejak dulu kita harapkan ditata rapi, daripada merusak
pemandangan. Setiap kita melintas di
sana
merasa kecewa memiliki gelanggang olah raga yang
dimiliki oleh kota metropolitan. Mengenai besarnya
anggaran, menurutnya, diserahkan saja kepada
tim audit.
Sementara itu Jerry di Kuta menyarankan, kompleks GOR
tersebut itu direncanakan dulu penempatannya di mana.
Jangan sampai ada pelebaran lapangan
saat GOR sudah jadi. Sehingga
penataannya bisa bertahap. Biar nantinya
betul-betul apa yang dibuat
ini tidak tumpang tindih. Perbaikan
ini sangat bagus walaupun APBD harus digerogoti.
*
panca