Antara
Gengsi
dan
Fungsi
MUNCULNYA
gaya
hidup
boros
karena
lemahnya
pemahaman
kita
pada
sistem
nilai
dalam
hidup.
Pada
zaman
Weda yang
dianggap paling
bernilai
oleh
masyarakat
adalah
kebenaran
dan
kesucian.
Karena
siapa yang
mampu
kuat
berpegang
teguh
pada
kebenaran
untuk
mewujudkan
kehidupan yang
suci
dialah yang
mendapatkan
penghormatan
lebih
dalam
masyarakat.
Meskipun
orang
suci
itu
miskin dari
segi
materi
dan
berpenampilan bersahaja,
dia
tetap mendapatkan
penghormatan yang
lebih
dalam
masyarakat.
Hal itulah
yang menyebabkan
para
Brahmana
mendapat
kedudukan
sangat
terhormat
dalam
masyarakat.
Cuma
saat
itu
orang yang disebut
Brahmana
adalah
orang yang
ahli Veda
dan
memiliki kualitas
spiritual yang mantap,
benar-benar
orang
suci
dan
bukan dilihat
dari
keturunannya.
Ketika
sistem
nilai
bergeser
pada
zaman Kali,
uang
dan
kekuasaanlah yang
dianggap paling bernilai
oleh
masyarakat.
Karena
itu
penghormatan pun menjadi
bergeser pula.
Siapa yang
kaya
atau
disebut ''sang
maha
dana''
dan
punya power kekuasaan
yang disebut ''sang
kasuran''
dialah
mendapat
penghormatan
lebih,
dalam
masyarakat yang
masih
belum
maju
dalam
bidang spiritual.
Dengan
bergesernya
sikap
masyarakat
pada
sistem
nilai
itu,
banyak
orang yang
hanyut
terjebak
pada
pergeseran
sistem
nilai
tersebut.
Hidup
tidak
lagi
mengejar
makna
hidup,
mewujudkan
ketenangan
hidup.
Orang
beralih
dari
mencari
ketenangan
bergeser
mencari
kesenangan
indria
dengan
hidup
berhura-hura.
Hidup
tidak
lagi
mengejar
makna
hidup
tetapi
status sosial
sesuai
dengan
perubahan
sistem
nilai.
Sarana
hidup
dan
atribut kehidupan
yang dicari
oleh
sebagian
masyarakat
umumnya
adalah
sarana
duniawi yang
dapat
meningkatkan
gengsinya
dalam
masyarakat yang
memuja
nilai
materialisme.
Sarana
hidup
dan
atribut kehidupan
tidak
dilihat
fungsinya,
tetapi yang
diutamakan
adalah
gengsinya.
Gaya
hidup
seperti
itulah yang
akan
menimbulkan
hidup
boros yang
sia-sia yang
disebut
hight cost
ekonomic.
Tidak
mengherankan
kalau
kredit bank yang
tersalur
di Bali
hampir
enam
puluh
persen
untuk
kebutuhan
konsumsi.
Seperti
mencicil
barang-barang
bergengsi
untuk
meningkatkan status
sosial.
Seandainya
sikap
hidup
itu
dapat kita
benahi,
misalnya
dengan
mendayagunakan
nilai-nilai spiritual
agama secara
tepat,
maka
akan
lahir
sikap
hidup yang
lebih
mengutamakan
nilai
fungsi
daripada
gengsi.
Penguatan
nilai spiritual agama
itu
untuk membangun
sikap
hidup yang
seimbang
dalam
memahami
sistem
nilai.
Dengan
sikap
hidup yang
seimbang
orang
akan
lebih
melihat
fungsi
dari
sarana
dan
atribut hidup
itu
dari pada
gengsinya.
Sayangnya
sikap
hidup yang
lebih
mementingkan
gengsi
dari
pada
fungsi
itu
tidak jarang
berasal
dari
kalangan elite
sosial
kita.
Misalnya
mobil
dinas
para
pejabat,
pengusaha
sukses
bahkan
politisi yang
haus
kekuasaan
lebih
mementingkan
penampilan
gengsi
daripada
fungsi
dalam
memilih
sarana
hidup.
Akibatnya
sumber-sumber
energi
kita
sulit
dapat
dihemat.
Mobil mewah,
rumah
mewah,
alat-alat
elektronik
di
rumah dan
ruang
kerja yang
serba
mewah
umumnya
boros
energi.
Seperti BBM,
listrik,
telepon
dan lain-lain
itu
umumnya menyedot
energi yang
besar.
Mereka
yang kurang
mampulah
akan
berubah
menjadi
semakin
tidak
mampu
mengejar
kehidupan
dengan
biaya
tinggi
ini.
Pemandangan
akan
menjadi
sangat
tragis
dan
ironis.
Di
satu
pihak
kita
menyaksikan
mobil
mewah
antre
di
restoran bergengsi
saat jam-jam
makan.
Di
lain pihak
ada
sebagian besar
penduduk
kita
kekurangan
makan
bahkan
sampai
ada yang
busung
lapar.
Utamakanlah
fungsi
dari
gengsi
demi
kehidupan
bersama yang
lebih
adil
dalam
mencapai
kemakmuran.