kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 30 Agustus 2005

 Mimbar Agama Hindu

 

Antara Gengsi dan Fungsi 

MUNCULNYA gaya hidup boros karena lemahnya pemahaman kita pada sistem nilai dalam hidup. Pada zaman Weda yang dianggap paling bernilai oleh masyarakat adalah kebenaran dan kesucian. Karena siapa yang mampu kuat berpegang teguh pada kebenaran untuk mewujudkan kehidupan yang suci dialah yang mendapatkan penghormatan lebih dalam masyarakat. Meskipun orang suci itu miskin dari segi materi dan berpenampilan bersahaja, dia tetap mendapatkan penghormatan yang lebih dalam masyarakat.

Hal itulah yang menyebabkan para Brahmana mendapat kedudukan sangat terhormat dalam masyarakat. Cuma saat itu orang yang disebut Brahmana adalah orang yang ahli Veda dan memiliki kualitas spiritual yang mantap, benar-benar orang suci dan bukan dilihat dari keturunannya.

Ketika sistem nilai bergeser pada zaman Kali, uang dan kekuasaanlah yang dianggap paling bernilai oleh masyarakat. Karena itu penghormatan pun menjadi bergeser pula. Siapa yang kaya atau disebut ''sang maha dana'' dan punya power kekuasaan yang disebut ''sang kasuran'' dialah mendapat penghormatan lebih, dalam masyarakat yang masih belum maju dalam bidang spiritual.

Dengan bergesernya sikap masyarakat pada sistem nilai itu, banyak orang yang hanyut terjebak pada pergeseran sistem nilai tersebut. Hidup tidak lagi mengejar makna hidup, mewujudkan ketenangan hidup. Orang beralih dari mencari ketenangan bergeser mencari kesenangan indria dengan hidup berhura-hura. Hidup tidak lagi mengejar makna hidup tetapi  status sosial sesuai dengan perubahan sistem nilai. Sarana hidup dan atribut kehidupan yang dicari oleh sebagian masyarakat umumnya adalah sarana duniawi yang dapat meningkatkan gengsinya dalam masyarakat yang memuja nilai materialisme.

Sarana hidup dan atribut kehidupan tidak dilihat fungsinya, tetapi yang diutamakan adalah gengsinya. Gaya hidup seperti itulah yang akan menimbulkan hidup boros yang sia-sia yang disebut hight cost ekonomic.

Tidak mengherankan kalau kredit bank yang tersalur di Bali hampir enam puluh persen untuk kebutuhan konsumsi. Seperti mencicil barang-barang bergengsi untuk meningkatkan status sosial. Seandainya sikap hidup itu dapat kita benahi, misalnya dengan mendayagunakan nilai-nilai spiritual agama secara tepat, maka akan lahir sikap hidup yang lebih mengutamakan nilai fungsi daripada gengsi.

Penguatan nilai spiritual agama itu untuk membangun sikap hidup yang seimbang dalam memahami sistem nilai. Dengan sikap hidup yang seimbang orang akan lebih melihat fungsi dari sarana dan atribut hidup itu dari pada gengsinya.

Sayangnya sikap hidup yang lebih mementingkan gengsi dari pada fungsi itu tidak jarang berasal dari kalangan elite sosial kita. Misalnya mobil dinas para pejabat, pengusaha sukses bahkan politisi yang haus kekuasaan lebih mementingkan penampilan gengsi daripada fungsi dalam memilih sarana hidup.

Akibatnya sumber-sumber energi kita sulit dapat dihemat. Mobil mewah, rumah mewah, alat-alat elektronik di rumah dan ruang kerja yang serba mewah umumnya boros energi. Seperti BBM, listrik, telepon dan lain-lain itu umumnya menyedot energi yang besar.

Mereka yang kurang mampulah akan berubah menjadi semakin tidak mampu mengejar kehidupan dengan biaya tinggi ini. Pemandangan akan menjadi sangat tragis dan ironis. Di satu pihak kita menyaksikan mobil mewah antre di restoran bergengsi saat jam-jam makan. Di lain pihak ada sebagian besar penduduk kita kekurangan makan bahkan sampai ada yang busung lapar.

Utamakanlah fungsi dari gengsi demi kehidupan bersama yang lebih adil dalam mencapai kemakmuran.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)