kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 30 Agustus 2005

 Nusantara


Calo Anggaran Bencana Alam Berkeliaran di DPR

Bali Post/sep
ULTAH DPR - Ketua DPR Agung Laksono menyerahkan nasi tumpeng kepada Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dalam acara syukuran menyambut HUT ke-60 DPR/MPR di gedung DPR/MPR

Praktik percaloan baru di DPR terungkap. Bantuan Anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Alam ternyata diperjualbelikan. Polanya, tiap bupati/wali kota yang mengajukan anggaran ke Dewan, dipaksa masuk melalui jalur calo untuk mempermudah dan mempercepat kucuran dana bantuan alam ke daerahnya. Bagaimana lika-likunya?

PRAKTIK KKN di DPR tersebut terungkap setelah anggota Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (F-BPD) M Darus Agap melakukan interupsi dalam rapat paripurna peringatan HUT ke-60 MPR/DPR, Senin (29/8) kemarin. Ketika itu rapat dipimpin Ketua DPR Agung Laksono. 

Dalam interupsinya, Darus mengungkapkan dokumen tentang pengalokasian dana bencana alam sebesar Rp 609 milyar untuk 174 kabupaten dan kota di Indonesia. 148 di antaranya ''dikawal'' Panitia Anggaran (Panggar) dengan jumlah Rp 538 milyar. 26 kabupaten/kota lainnya ''dikawal'' Bakornas sejumlah Rp 71 milyar. Total dananya Rp 609 milyar. 

Dari data yang juga diterima Bali Post menyebutkan, tiap bantuan yang diajukan kepala daerah ''dikawal'' dan dikoordinasikan oleh oknum-oknum tertentu, baik di lingkungan Dewan maupun di luar lembaga DPR. Dalam dokumen itu terdapat sejumlah nama orang luar yang dijadikan koordinator. Di antaranya A Mus, Naj, EM, War, Bimo, Abim, Her, Gus Has, Umar, Nadham, Endah, Gapensi,  ada juga yang mengatasnamakan wali kota. Bahkan, nama anggota Dewan terlihat masuk dalam daftar koordinator antara lain TL, IB N, H.Mud, Cyp dan AY. 

Nama Mus ditulis paling banyak dalam menguasai kawalan dari tiap daerah yang menjadi kekuasaannya, antara lain Propinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Bali, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur sampai Papua dan Irian Jaya  Barat. Koordinator-koordinator ini, menurut Darus, bergerak ke daerah untuk  melakukan tawar-menawar dengan bupati. ''Menurut yang saya dengar menyebutkan bahwa tiap daerah harus menyetor 4 persen supaya anggaran di kabupaten A dapat diturunkan,'' jelasnya. 

Anehnya, lanjut Darus lagi, ada sejumlah propinsi yang tidak ada bencana alam, tetapi tetap mendapatkan dana. Indikasi tersebut makin jelas, setelah ia menemukan adanya selisih anggaran senilai Rp 26 milyar karena di pagu Angggaran APBN tertera Rp 609 milyar, namun realisasinya menjadi Rp 633 milyar. 

Ketua Panitia Anggaran Emir Moeis saat dimintai konfirmasi tidak membantah jika terjadi praktik percaloan seperti itu. Menurutnya, usulan bantuan dana tersebut datang dari daerah. Kemudian, dari daerah itu ada yang menggunakan berbagai jalur. ''Ada bupati yang langsung datang ke Panitia Anggaran, ada yang lewat anggota DPR dari konstituennya, ada juga yang lewat calo-calo. Jadi mungkin saja,'' kata anggota Fraksi PDI Perjuangan ini. 

Untuk anggota DPR yang ditunjuk, menurutnya, memang resmi dan ada ketentuannya. Hal itu dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi dengan konstituen. Yang salah adalah lewat calo dengan menyalahgunakan prosedur yang ada.  

Emir mengakui dirinya mendengar adanya praktik  percaloan seperti ini. ''Ada yang suka begitu-begitu,'' katanya. Makanya, untuk menghindari praktik seperti itu terjadi, ia telah menetapkan agar dalam memutuskan anggaran di PA, semua harus lewat rapat pleno. ''Jadi menurut saya, interupsi itu bagus buat kita. Kalau ada yang enggak beres, bawa saja ke Badan Kehormatan,'' katanya.  

Anas Yahya yang dimintai konfirmasi membantah isi dokumen tersebut. ''Ini kemungkinan dibuat orang dalam atau pihak ketiga yang lain. Dan, nama saya dicatut di sini,'' katanya.

Anas mengaku tidak pernah melakukan praktik percaloan seperti yang diungkapkan dalam dokumen tersebut. ''Saya sudah melihat dokumen itu. Saya langsung ngomong ke Komisi V, saya tanya data itu dari mana,'' imbuhnya. 

Dalam mengelola anggaran bantuan bencana alam ke tiap daerah ini, kata Anas, DPR telah membentuk tim kecil yang terdiri atas Bursah Zarnubi (ketua), Ali Yahya (wakil), Tamzil Linrung (sekretaris). Anggotanya berjumlah 53 orang, termasuk di dalamnya Anas Yahya. (kmb4)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)