Hutan
Gundul,
Kualitas Air Memburuk
Denpasar
(Bali Post) -
Dibandingkan
negara-negara ASEAN,
Indonesia memiliki
sumber
daya air terbesar.
Namun,
tidak semua
sumber-sumber
tersebut
dapat
dimanfaatkan secara
maksimal
bahkan
kualitasnya cenderung
memburuk,
terutama
di
wilayah upper water shed,
akibat
penggundulan hutan.
Demikian
disampaikan
Menteri
Pekerjaan Umum
Djoko
Kirmanto, Senin
(29/8) kemarin,
usai
membuka acara Forum
Air Asia Tenggara (FAAT)
ke-2 di
Nusa Dua.
Kirmanto
mengatakan
penggundulan
hutan
dan praktik
pertanian yang
berpindah-pindah
sangat
mempengaruhi kualitas
air.
Akibatnya,
meski
jumlah sumber
daya air
di Indonesia
cukup
banyak tidak
semuanya
layak
dikonsumsi.
Dikatakannya
pula saat
ini
Indonesia
sedang
menghadapi krisis
air.
Hal ini
bisa
dilihat dari
tidak
seimbangnya volume air yang
tersedia ketika
musim
hujan dan
panas.
''Ketika
musim
hujan kita
mengalami
banjir yang
cukup
sering, sementara
ketika
musim panas,
kita
mengalami kekeringan.
Ini
mencerminkan
ketersediaan air
dan
kualitas yang dimiliki
masih
kurang,'' katanya.
Dikatakan
Kirmanto,
saat
ini kompetisi
penggunaan air
di
berbagai sektor
semakin
meningkat dan
intens.
Contohnya saja
bidang
irigasi, yang umumnya
mengkonsumsi 70
persen
dari total air
segar (freshwater)
yang tersedia.
Sementara
itu
sektor industri yang
cukup
penting bagi
pengembangan
ekonomi
mengkonsumsi sekitar
20 persen
dari
sumber mata air.
''Sayang,
tingginya
pemanfaatan
sumber
mata air tidak
diikuti
dengan penggunaan
secara
efisien dan
pendaurulangan air agar
bisa
dimanfaatkan kembali,''
ujarnya.
Dia
mengutarakan
terjadinya
krisis air
ini
lebih disebabkan
kurang
baiknya manajemen air
yang ada.
Persoalan
ini,
tambahnya, tidak
saja
dialami Indonesia, melainkan
negara-negara lain
di
asia
tenggara.
Beberapa
isu
terkait masih
rendahnya
manajemen
pengelolaan air
ini
antara lain
pendistribusian yang
tidak
merata, kurangnya
partisipasi
seluruh stake holders yang
mempunyai
kepentingan
terhadap air,
dan
pengetahuan yang masih
minim mengenai
teknologi
manajemen
pengelolaan air.
Ke
depan
melalui pertemuan
FAAT yang berlangsung
selama
lima
hari (29
Agustus - 3 September)
ini,
Kirmanto berharap
ada
kesamaan kebijakan
dalam
pengelolaan air di
Asia Tenggara.
Penyamaan
prinsip
pengelolaan air ini
penting
mengingat tidak
sedikit
negara-negara di Asia
Tenggara yang
berbagi
pengelolaan sumber
daya air
dan
sungai.
Selain
itu,
kawasan Asia Tenggara
merupakan
salah
satu kawasan
kaya air
di
dunia.
Acara
FAAT diselenggarakan
dalam
dua tahapan,
yaitu
pertemuan antara
stakeholder yang berkepentingan
dalam
bidang sumber
daya air
dan
pertemuan Menteri
Pekerjaan
Umum se-ASEAN
membahas
mengenai
pengelolaan air.
(kmb18)