kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 30 Agustus 2005

 Ekonomi


Hutan
Gundul, Kualitas Air Memburuk

Denpasar (Bali Post) -
Dibandingkan
negara-negara ASEAN, Indonesia memiliki sumber daya air terbesar. Namun, tidak semua sumber-sumber tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal bahkan kualitasnya cenderung memburuk, terutama di wilayah upper water shed, akibat penggundulan hutan. Demikian disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Senin (29/8) kemarin, usai membuka acara Forum Air Asia Tenggara (FAAT) ke-2 di Nusa Dua.

Kirmanto mengatakan penggundulan hutan dan praktik pertanian yang berpindah-pindah sangat mempengaruhi kualitas air. Akibatnya, meski jumlah sumber daya air di Indonesia cukup banyak tidak semuanya layak dikonsumsi. Dikatakannya pula saat ini Indonesia sedang menghadapi krisis air. Hal ini bisa dilihat dari tidak seimbangnya volume air yang tersedia ketika musim hujan dan panas.

''Ketika musim hujan kita mengalami banjir yang cukup sering, sementara ketika musim panas, kita mengalami kekeringan. Ini mencerminkan ketersediaan air dan kualitas yang dimiliki masih kurang,'' katanya.

Dikatakan Kirmanto, saat ini kompetisi penggunaan air di berbagai sektor semakin meningkat dan intens. Contohnya saja bidang irigasi, yang umumnya mengkonsumsi 70 persen dari total air segar (freshwater) yang tersedia. Sementara itu sektor industri yang cukup penting bagi pengembangan ekonomi mengkonsumsi sekitar 20 persen dari sumber mata air. ''Sayang, tingginya pemanfaatan sumber mata air tidak diikuti dengan penggunaan secara efisien dan pendaurulangan air agar bisa dimanfaatkan kembali,'' ujarnya.

Dia mengutarakan terjadinya krisis air ini lebih disebabkan kurang baiknya manajemen air yang ada. Persoalan ini, tambahnya, tidak saja dialami Indonesia, melainkan negara-negara lain di asia tenggara. Beberapa isu terkait masih rendahnya manajemen pengelolaan air ini antara lain pendistribusian yang tidak merata, kurangnya partisipasi seluruh stake holders yang mempunyai kepentingan terhadap air, dan pengetahuan yang masih minim mengenai teknologi manajemen pengelolaan air.

Ke depan melalui pertemuan FAAT yang berlangsung selama lima hari (29 Agustus - 3 September) ini, Kirmanto berharap ada kesamaan kebijakan dalam pengelolaan air di Asia Tenggara. Penyamaan prinsip pengelolaan air ini penting mengingat tidak sedikit negara-negara di Asia Tenggara yang berbagi pengelolaan sumber daya air dan sungai. Selain itu, kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan kaya air di dunia. Acara FAAT diselenggarakan dalam dua tahapan, yaitu pertemuan antara stakeholder yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air dan pertemuan Menteri Pekerjaan Umum se-ASEAN membahas mengenai pengelolaan air.

(kmb18)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)