Kenaikan
Suku
Bunga Pukul UKM
Jakarta (Bali Post) -
Himpunan
Pengusaha
Muda Indonesia (Hipmi)
menilai
kebijakan
Bank Indonesia (BI)
menaikkan suku
bunga
akan memukul
sektor
koperasi dan
usaha
kecil menengah (UKM).
Bukan
tidak
mungkin, banyak
usaha
di sektor
ini
terancam gulung
tikar.
"Kita berupaya
mengantisipasi
depresiasi
rupiah.
Sudah
pasti
ongkos produksi
dan
inflasi naik.
Justru
yang kita
takutkan
dampak
suku bunga yang
kita
dengar akan
segera
naik untuk
mengerem
laju
pelemahan rupiah,"
ujar
Ketua Hipmi
Sandiaga S.
Uno
kepada pers
di
Jakarta, Senin (29/8)
kemarin.
Terdepresiasinya
kurs
rupiah terhadap
dolar AS,
membuat
otoritas moneter
berupaya
menyerap
likuiditas
sebesar-besarnya
dengan
menaikkan suku
bunga SBI.
Asumsi APBN-P 2005
tingkat
suku bunga yang
dipatok
sebesar 8 persen,
nampaknya
akan
terlampaui.
Bahkan,
sementara
kalangan
menyebutkan,
suku
bunga bisa
mencapai 9
persen.
Menurut
Sandiaga,
kebijakan
pengetatan
moneter
ini akan
berdampak
negatif
pada sektor
koperasi
dan UKM.
Bagaimanapun,
90 persen
anggota HIPMI
adalah UKM.
Menurutnya,
pada
gilirannya, langkah
BI akan
berpengaruh
pada
kenaikan suku
bungan
kredit. Akibatnya,
bukan
tidak mungkin
hal
tersebut
akan
menghambat
pertumbuhan
sektor real,
khususnya UKM.
Bagaimanapun
juga, 90
persen
anggota HIPMI adalah
UKM yang bersandar
pada Bank
Perkreditan
Rakyat (BPR).
"Gejolak
suku
bunga akan
dirasakan
mereka
dari awal.
Kenaikan
1-2 persen
saja
berdampak cukup
besar,"
ujarnya.
Ia
juga
menampik ada
anggota HIPMI yang
menumpuk
devisa
hasil ekspornya
di luar
negeri.
"Anggota
HIPMI yang berbasis
ekspor
karena UKM, uangnya
langsung
direpatriasi
ke
rupiah untuk modal
kerja,"
ujarnya.
Dia
mengimbau
kepada
anggota Hipmi
lainnya
untuk menyimpan
dananya
di Indonesia sebagai
proses
mendukung devisa yang
kuat.
"Yang
lebih
penting bukan
ajakan
repatriasi tapi
dorongan
insentif
dari
pemerintah yang nantinya
akan
lebih menguntungkan,
dana
mengalir lebih
banyak,"
kata
Sandiaga.
Insentif
yang diberikan
bisa
berupa insentif
perpajakan
dan
konsistensi kebijakan.
Dampak
harga BBM
kepada
Hipmi dinilai
lebih
besar dibandingkan
pelemahan
kurs
rupiah karena
anggota
Hipmi yang merupakan
UKM terbukti
tangguh
menghadapi krisis
di
tahun 1998.
Berdasarkan
kajian,
dari 25 ribu
Hipmi
di 33 propinsi,
kenaikan
harga BBM
berdampak 15-20
persen
kenaikan biaya
produksi.
Sedangkan
dampak
rupiah cukup
variatif,
ada yang
dampaknya
kecil
karena komponen
dolarnya
rendah,
namun ada
juga yang
penerimaannya
besar
karena produknya
diekspor.
(kmb1)