kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 30 Agustus 2005

 Ekonomi


Kenaikan
Suku Bunga Pukul UKM 

Jakarta (Bali Post) -
Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai kebijakan  Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga akan memukul sektor koperasi dan usaha kecil menengah (UKM). Bukan tidak mungkin, banyak usaha di sektor ini terancam gulung tikar. "Kita berupaya mengantisipasi depresiasi rupiah. Sudah pasti ongkos produksi dan inflasi naik. Justru yang kita takutkan dampak suku bunga yang kita dengar akan segera naik untuk mengerem laju pelemahan rupiah," ujar Ketua Hipmi Sandiaga S. Uno kepada pers di Jakarta, Senin (29/8) kemarin.

Terdepresiasinya kurs rupiah terhadap dolar AS, membuat otoritas moneter berupaya menyerap likuiditas sebesar-besarnya dengan menaikkan suku bunga SBI. Asumsi APBN-P 2005 tingkat suku bunga yang dipatok sebesar 8 persen, nampaknya akan terlampaui. Bahkan, sementara kalangan menyebutkan, suku bunga bisa mencapai 9 persen.

Menurut Sandiaga, kebijakan pengetatan moneter ini akan berdampak negatif pada sektor koperasi dan UKM. Bagaimanapun, 90 persen anggota HIPMI adalah UKM. Menurutnya, pada gilirannya, langkah BI akan berpengaruh pada kenaikan suku bungan kredit. Akibatnya, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menghambat pertumbuhan sektor real, khususnya UKM. Bagaimanapun juga, 90 persen anggota HIPMI adalah UKM yang bersandar pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

"Gejolak suku bunga akan dirasakan mereka dari awal. Kenaikan 1-2 persen saja berdampak cukup besar," ujarnya. Ia juga menampik ada anggota HIPMI yang menumpuk devisa hasil ekspornya di luar negeri. "Anggota HIPMI yang berbasis ekspor karena UKM, uangnya langsung direpatriasi ke rupiah untuk modal kerja," ujarnya.

Dia mengimbau kepada anggota Hipmi lainnya untuk menyimpan dananya di Indonesia sebagai proses mendukung devisa yang kuat. "Yang lebih penting bukan ajakan repatriasi tapi dorongan insentif dari pemerintah yang nantinya akan lebih menguntungkan, dana mengalir lebih banyak," kata Sandiaga.

Insentif yang diberikan bisa berupa insentif perpajakan dan konsistensi kebijakan. Dampak harga BBM kepada Hipmi dinilai lebih besar dibandingkan pelemahan kurs rupiah karena anggota Hipmi yang merupakan UKM terbukti tangguh menghadapi krisis di tahun 1998.

Berdasarkan kajian, dari 25 ribu Hipmi di 33 propinsi, kenaikan harga BBM berdampak 15-20 persen kenaikan biaya produksi. Sedangkan dampak rupiah cukup variatif, ada yang dampaknya kecil karena komponen dolarnya rendah, namun ada juga yang penerimaannya besar karena produknya diekspor. (kmb1)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)