Anjloknya
Rupiah
Untungkan
Eksportir Bali
Terpuruknya
nilai
tukar rupiah
terhadap
dolar yang
sudah
terjadi dalam
waktu
sepekan ini,
direspons
positif
pengusaha yang
bergerak
di
bidang ekspor.
Pasalnya,
pengusaha-pengusaha
ini
mengaku memperoleh
keuntungan yang
cukup
besar dari
adanya
selisih
nilai
tukar tersebut.
Akankah
keuntungan
tersebut
terus
dinikmati pengusaha,
jika
naiknya dolar
ini
akan
berdampak
langsung
pada
pertumbuhan ekonomi
Indonesia?
--------------------
BAGI
para
pengusaha yang bergerak
di
bidang ekspor,
merosotnya
nilai
tukar rupiah
merupakan
peristiwa yang
menggembirakan.
Meski
tidak
semua pengusaha
di
bidang ekspor
kecipratan
rezeki
dari
naiknya nilai
tukar
dolar ini.
Hanya
pengusaha yang
berproduksi
menggunakan
kandungan
lokal
jauh lebih
besar
dari kandungan
impor
saja yang bisa
tersenyum
dengan
anjloknya
nilai
tukar rupiah
tersebut.
Dikatakan
Menteri
Perdagangan Mari
Elka
Pangestu belum lama
ini,
anjloknya rupiah
akan
menguntungkan
eksportir
komoditi.
''Dilihat
dari
sisi perdagangan
komoditi,
anjloknya
rupiah
membawa
dampak yang
positif.
Pasalnya,
produsen
tidak
mesti mengeluarkan
biaya
besar pada
saat yang
bersamaan
untuk
melakukan impor
bahan
baku,''
katanya
ditemui
usai
meresmikan pelaksanaan
perdana
pasar
lelang komoditi
agro di
Bali.
Menurut
Mari, dilihat
dari
tingginya kandungan
lokal yang
diperlukan
komoditi
pertanian,
anjloknya
rupiah
justru
akan
membawa
dampak yang
menguntungkan.
Berdasarkan
banyaknya
kandungan
lokal yang
diperlukan
tersebut,
ia
menilai
petani
maupun
pengusaha
bidang agro
semestinya
bisa
menikmati keuntungan
dari
anjloknya rupiah
ini.
Ia
memperkirakan
komoditi-komoditi
ini
kandungan lokalnya
bisa
mencapai 90 persen
bahkan
sampai 100
persen.
Besarnya
kandungan
lokal
ini, kata Mari,
bisa
menjadikan komoditi
Indonesia mempunyai
harga yang
kompetitif
di
pasaran.
Sebab,
petani
maupun
pengusaha agro
tidak
perlu mengeluarkan
biaya
besar untuk
melakukan
impor
bahan
baku.
Ini
artinya, jika
bersaing
dengan
komoditi
milik
negara lain, harganya
tidak
akan
jauh
beda.
''Harga
mereka
bisa
jadi lebih
kompetitif
di
pasar dunia,''
jelas Mari.
Pengakuan
mengenai
adanya
keuntungan yang
diperoleh
akibat
anjloknya
rupiah
juga
dilontarkan Ketua
Asosiasi
Pengusaha Indonesia (Apindo)
Bali Panudiana Kuhn.
Ia
menilai
naiknya
dolar
setidaknya bisa
membantu
pengusaha
memperoleh
keuntungan yang
lebih
besar.
Alasannya,
selain
bahan
baku
yang hampir
sebagian
besar
lokal, pengusaha
juga
tidak mesti
menaikkan
upah
karyawannya.
Ini
artinya
dengan
biaya
produksi yang masih
tetap,
pengusaha
bisa
menjual dengan
harga yang
cukup
menguntungkan jika
dirupiahkan.
Karena
adanya
optimisme
mengenai
besarnya
keuntungan yang
akan
diperoleh
pengusaha
lewat
anjloknya rupiah,
kalangan
perbankan Bali
juga
ikut-ikutan optimis.
Dikatakan
Manajer Micro Banking
District Center (MBDC) Denpasar
Bank Mandiri
Probosuwarto,
anjloknya
nilai
rupiah tidak
akan
menyebabkan
pembengkakan
kredit
macet.
Justru
dengan
anjloknya
rupiah
ini,
pelaku usaha Bali
akan
diuntungkan
karena
hampir
sebagian
besar
orientasi pasar
mereka
adalah
ekspor.
''Kalau
di
sini (di Bali-red)
karena
pangsa
pasarnya
ekspor
malah
naiknya nilai
tukar
dolar
akan menguntungkan.
Jadi
kredit
macetnya
tidak
mungkin lebih
besar
dari sekarang.
Justru
akan
ada
penurunan kredit
macet
karena besarnya
keuntungan yang
diperoleh
pengusaha,
sehingga
mereka
semakin
lancar
melakukan
kewajibannya
di bank,''
paparnya.
Untuk
sementara
ini,
kemungkinan besar
keuntungan
tersebut
masih
bisa diperoleh.
Namun, yang
perlu
diingat, ketika
harga
dolar naik,
otomatis
beberapa
sumber
daya yang
diperlukan
untuk
berproduksi, seperti
bahan
bakar minyak
juga
akan
mengalami
kenaikan.
Bahkan,
pemerintah
sudah
mengisyaratkan
akan
menaikkan
harga BBM
dalam
waktu dekat
ini
karena tingginya
nilai
subsidi yang mesti
dikeluarkan
akibat
merosotnya
rupiah.
Kenaikan
BBM ini
juga
akan
mempunyai
implikasi yang
lebih
jauh mengingat
hampir
sebagian
besar
pembangkit listrik
di Indonesia
memerlukan BBM
untuk
pengoperasiannya.
Ini
berarti,
pengusaha
mesti
melakukan pengkajian
ulang
terhadap rencana
bisnis
mereka
karena
biaya
energi dalam
industri
cukup
besar porsinya.
Otomatis
biaya
produksi
akan
mengalami
peningkatan
dan
menambah beban
biaya yang
harus
dikeluarkan pengusaha,
baik
itu pengusaha yang
pasarnya
lokal
maupun ekspor.
Maka
keuntungan yang diperoleh
dari
kenaikan nilai
dolar
tentunya tidak
maksimal
karena
harus
menanggung naiknya
ongkos
produksi
maupun
kegiatan lain
seperti
transportasi yang
akan
ikut
naik bila BBM
juga
naik. (iah)