kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 30 Agustus 2005

 Ekonomi


Anjloknya
Rupiah Untungkan Eksportir Bali 

Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sudah terjadi dalam waktu sepekan ini, direspons positif pengusaha yang bergerak di bidang ekspor. Pasalnya, pengusaha-pengusaha ini mengaku memperoleh keuntungan yang cukup besar dari adanya selisih nilai tukar tersebut. Akankah keuntungan tersebut terus dinikmati pengusaha, jika naiknya dolar ini akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia?

-------------------- 

BAGI para pengusaha yang bergerak di bidang ekspor, merosotnya nilai tukar rupiah merupakan peristiwa yang menggembirakan. Meski tidak semua pengusaha di bidang ekspor kecipratan rezeki dari naiknya nilai tukar dolar ini. Hanya pengusaha yang berproduksi menggunakan kandungan lokal jauh lebih besar dari kandungan impor saja yang bisa tersenyum dengan anjloknya nilai tukar rupiah tersebut.

Dikatakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu belum lama ini, anjloknya rupiah akan menguntungkan eksportir komoditi. ''Dilihat dari sisi perdagangan komoditi, anjloknya rupiah membawa dampak yang positif. Pasalnya, produsen tidak mesti mengeluarkan biaya besar pada saat yang bersamaan untuk melakukan impor bahan baku,'' katanya ditemui usai meresmikan pelaksanaan perdana pasar lelang komoditi agro di Bali.

Menurut Mari, dilihat dari tingginya kandungan lokal yang diperlukan komoditi pertanian, anjloknya rupiah justru akan membawa dampak yang menguntungkan. Berdasarkan banyaknya kandungan lokal yang diperlukan tersebut, ia menilai petani maupun pengusaha bidang agro semestinya bisa menikmati keuntungan dari anjloknya rupiah ini. Ia memperkirakan komoditi-komoditi ini kandungan lokalnya bisa mencapai 90 persen bahkan sampai 100 persen.

Besarnya kandungan lokal ini, kata Mari, bisa menjadikan komoditi Indonesia mempunyai harga yang kompetitif di pasaran. Sebab, petani maupun pengusaha agro tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk melakukan impor bahan baku. Ini artinya, jika bersaing dengan komoditi milik negara lain, harganya tidak akan jauh beda. ''Harga mereka bisa jadi lebih kompetitif di pasar dunia,'' jelas Mari.

Pengakuan mengenai adanya keuntungan yang diperoleh akibat anjloknya rupiah juga dilontarkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bali Panudiana Kuhn. Ia menilai naiknya dolar setidaknya bisa membantu pengusaha memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Alasannya, selain bahan baku yang hampir sebagian besar lokal, pengusaha juga tidak mesti menaikkan upah karyawannya. Ini artinya dengan biaya produksi yang masih tetap, pengusaha bisa menjual dengan harga yang cukup menguntungkan jika dirupiahkan. Karena adanya optimisme mengenai besarnya keuntungan yang akan diperoleh pengusaha lewat anjloknya rupiah, kalangan perbankan Bali juga ikut-ikutan optimis. Dikatakan Manajer Micro Banking District Center (MBDC) Denpasar Bank Mandiri Probosuwarto, anjloknya nilai rupiah tidak akan menyebabkan pembengkakan kredit macet. Justru dengan anjloknya rupiah ini, pelaku usaha Bali akan diuntungkan karena hampir sebagian besar orientasi pasar mereka adalah ekspor.

''Kalau di sini (di Bali-red) karena pangsa pasarnya ekspor malah naiknya nilai tukar dolar akan menguntungkan. Jadi kredit macetnya tidak mungkin lebih besar dari sekarang. Justru akan ada penurunan kredit macet karena besarnya keuntungan yang diperoleh pengusaha, sehingga mereka semakin lancar melakukan kewajibannya di bank,'' paparnya.

Untuk sementara ini, kemungkinan besar keuntungan tersebut masih bisa diperoleh. Namun, yang perlu diingat, ketika harga dolar naik, otomatis beberapa sumber daya yang diperlukan untuk berproduksi, seperti bahan bakar minyak juga akan mengalami kenaikan. Bahkan, pemerintah sudah mengisyaratkan akan menaikkan harga BBM dalam waktu dekat ini karena tingginya nilai subsidi yang mesti dikeluarkan akibat merosotnya rupiah

Kenaikan BBM ini juga akan mempunyai implikasi yang lebih jauh mengingat hampir sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia memerlukan BBM untuk pengoperasiannya. Ini berarti, pengusaha mesti melakukan pengkajian ulang terhadap rencana bisnis mereka karena biaya energi dalam industri cukup besar porsinya.

Otomatis biaya produksi akan mengalami peningkatan dan menambah beban biaya yang harus dikeluarkan pengusaha, baik itu pengusaha yang pasarnya lokal maupun ekspor. Maka keuntungan yang diperoleh dari kenaikan nilai dolar tentunya tidak maksimal karena harus menanggung naiknya ongkos produksi maupun kegiatan lain seperti transportasi yang akan ikut naik bila BBM juga naik. (iah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)