kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 29 Agustus 2005

 Bali


Seorang
Dosen Undiknas Tanggalkan Gelar Palsu

Denpasar (Bali Post) -
Pernyataan
keras Dirjen Dikti Satryo Soemantri bahwa dosen yang terbukti mendapatkan gelar palsu alias secara tak wajar akan dicopot, membuahkan hasil. Salah seorang dosen Undiknas yang mendapat gelar doktor dan magister dengan cara tak wajar menanggalkan gelarnya.

Hal itu diakui Rektor Undiknas Dr. Gede Sri Dharma, S.T., M.M. usai mewisuda 198 sarjana S-1 dan S-2 di Nusa Dua, Sabtu (27/8). Ia tak mau menyebutkan identitas dosen itu, yang jelas yang bersangkutan sudah membuat surat pernyataan ke rektor untuk tak menggunakan gelar tersebut. Sri Dharma mengatakan dosen tersebut mengaku tergiur menempuh pendidikan S-2 dan S-3 dengan cara mudah karena terlalu sering ditawari. Namun ia mengatakan cara yang ditempuh dosennya termasuk bagus dengan mengakui kesalahannya. ''Karena sadar dengan kesalahannya, kami memaafkan dan tak dilaporkan ke Dikti,'' ujarnya.

Ia menegaskan Undiknas concern dengan proses pendidikan yang bermutu sesuai prosedur akademis. Ia menyarankan mahasiswa tak perlu mengejar gelar karena akan diperoleh ketika kita tekun mengisi diri. Ia mengakui persaingan perguruan tinggi (PT) di Bali sudah tak mengindahkan aturan. Mereka kebanyakan mengabaikan proses pendidikan hanya untuk memenuhi permintaan sebagian masyarakat yang menginginkan gelar. Padahal PT harusnya memberi contoh dalam kehidupan akademis.

Undiknas menurutnya tak pernah tergiur dan terpengaruh dengan praktik jual-beli gelar, melainkan memberi jaminan mutu dan kepastian masa depan.

Ketua Yayasan Perdiknas yang baru, Dr. Ngurah Oka Suryadinatha, S.E., M.M. mengatakan sikap dosen Undiknas yang menanggalkan gelar palsunya termasuk sikap yang gentle. Sikap ini perlu ditiru oleh dosen lain. ''Dosen harus berani koreksi diri,'' ujarnya.

Kepala TU Kopertis Wilayah VIII Khairulsaleh, S.E., M.M. mengaku bangga kalau ada dosen di PT yang menyadari kekeliruannya. Ia salut dengan sikap rektor dan dosen Undiknas yang cepat bersikap soal gelar palsu. Ia minta para rektor di PTS lainnya segera melakukan pembenahan ke dalam terutama bagi dosen yang mendapatkan gelar secara tak wajar.

''Kami ingin rektor yang lain juga bergerak menertibkan gelar di kalangan dosennya,'' pintanya.

Ditanya soal hasil penyisiran Kopertis soal PT bodong di Bali, Khairulsaleh mengatakan tim masih bekerja. Ia mengharapkan masyarakat ikut memberi informasi soal kemungkinan adanya PT bodong itu. (025)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)