Seorang
Dosen
Undiknas
Tanggalkan
Gelar
Palsu
Denpasar
(Bali Post) -
Pernyataan
keras
Dirjen
Dikti
Satryo
Soemantri
bahwa
dosen yang
terbukti
mendapatkan
gelar
palsu alias
secara
tak
wajar
akan
dicopot,
membuahkan
hasil.
Salah
seorang
dosen
Undiknas yang
mendapat
gelar
doktor
dan
magister dengan
cara
tak
wajar menanggalkan
gelarnya.
Hal itu
diakui
Rektor
Undiknas Dr.
Gede Sri Dharma, S.T.,
M.M. usai
mewisuda 198
sarjana S-1
dan S-2
di
Nusa Dua,
Sabtu (27/8).
Ia
tak
mau menyebutkan
identitas
dosen
itu, yang
jelas yang
bersangkutan
sudah
membuat
surat
pernyataan
ke
rektor untuk
tak
menggunakan gelar
tersebut. Sri Dharma
mengatakan
dosen
tersebut
mengaku
tergiur
menempuh
pendidikan S-2
dan S-3
dengan
cara
mudah
karena
terlalu
sering
ditawari.
Namun
ia
mengatakan
cara yang
ditempuh
dosennya
termasuk
bagus
dengan
mengakui
kesalahannya.
''Karena
sadar
dengan
kesalahannya,
kami
memaafkan
dan
tak dilaporkan
ke
Dikti,'' ujarnya.
Ia
menegaskan
Undiknas concern
dengan
proses
pendidikan yang
bermutu
sesuai
prosedur
akademis.
Ia
menyarankan
mahasiswa
tak
perlu mengejar
gelar
karena
akan
diperoleh
ketika
kita
tekun
mengisi
diri.
Ia
mengakui
persaingan
perguruan
tinggi (PT)
di Bali
sudah
tak
mengindahkan aturan.
Mereka
kebanyakan
mengabaikan
proses
pendidikan
hanya
untuk
memenuhi
permintaan
sebagian
masyarakat yang
menginginkan
gelar.
Padahal
PT harusnya
memberi
contoh
dalam
kehidupan
akademis.
Undiknas
menurutnya
tak
pernah tergiur
dan
terpengaruh dengan
praktik
jual-beli
gelar,
melainkan
memberi
jaminan
mutu
dan
kepastian masa
depan.
Ketua
Yayasan
Perdiknas yang
baru, Dr.
Ngurah
Oka
Suryadinatha, S.E., M.M.
mengatakan
sikap
dosen
Undiknas yang
menanggalkan
gelar
palsunya
termasuk
sikap yang gentle.
Sikap
ini
perlu ditiru
oleh
dosen lain.
''Dosen
harus
berani
koreksi
diri,''
ujarnya.
Kepala
TU Kopertis
Wilayah VIII
Khairulsaleh, S.E., M.M.
mengaku
bangga
kalau
ada
dosen di PT yang
menyadari
kekeliruannya.
Ia
salut
dengan
sikap
rektor
dan
dosen Undiknas
yang cepat
bersikap
soal
gelar
palsu.
Ia
minta
para
rektor
di PTS
lainnya
segera
melakukan
pembenahan
ke
dalam terutama
bagi
dosen yang
mendapatkan
gelar
secara
tak
wajar.
''Kami
ingin
rektor yang lain
juga
bergerak
menertibkan
gelar
di
kalangan dosennya,''
pintanya.
Ditanya
soal
hasil
penyisiran
Kopertis
soal PT
bodong
di Bali,
Khairulsaleh
mengatakan
tim
masih
bekerja.
Ia
mengharapkan
masyarakat
ikut
memberi
informasi
soal
kemungkinan
adanya PT
bodong
itu.
(025)