kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 19 Agustus 2005

 Ekonomi


Memprihatinkan
, Peran Pengusaha Tingkatkan Perekonomian Bali

Denpasar (Bali Post) -
Ekonomi
Bali sudah mendapat tekanan jauh lebih dulu dibandingkan ekonomi nasional. Bahkan, peranan pengusaha dan masyarakat Bali dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya mengalami penurunan yang cukup memprihatinkan. Demikian disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali Jaya Susila, Kamis (18/8) kemarin mengomentari pernyataan Presiden bahwa saat ini stabilitas makro ekonomi Indonesia sedang mengalami tekanan yang sangat berat.

Menurut Jaya Susila, berbagai perubahan yang membawa dampak langsung bagi stabilitas makro ekonomi Indonesia berpengaruh pula di Bali. Padahal, perekonomian Bali yang ditopang pariwisata sudah mengalami kelesuan sejak pengeboman gedung WTC di New York. Selain faktor eksternal, masyarakat Bali sendiri mengalami ketergantungan yang relatif besar pada pihak luar. Sebut saja kebutuhan masyarakat Bali yang tidak bisa dipenuhi oleh produksi lokal. Selain itu, di sektor industri, pertanian dan jasa pun, masyarakat Bali juga masih mengandalkan pihak luar. ''Karena ketergantungan dengan pihak luar dalam memenuhi kebutuhannya, peranan pengusaha dan masyarakat Bali semakin berkurang,'' katanya.

Dikatakan Jaya Susila, saat ini masyarakat Bali juga mengalami pola hidup yang cenderung konsumtif. Padahal dengan mengandalkan suplai dari luar, otomatis dana yang terkumpul akibat perilaku konsumtif tersebut lari ke luar. Hal ini tentu akan mempengaruhi perekonomian Bali karena dana yang mengalir untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi jumlahnya sangat kecil.

Dari sisi perbankan pun, dia melihat kebanyakan dana yang dihimpun disalurkan ke luar Bali. Terkait kecenderungan tersebut, dia mengindikasikan produktivitas pengusaha mengalami penurunan. Akibatnya pengusaha tidak mampu menyerap kredit yang ditawarkan perbankan. ''Banyaknya dana yang disalurkan ke luar Bali oleh perbankan menandakan kapasitas produksi pengusaha mengalami penurunan. Sebab, para pengusaha tidak mampu menyerap kredit yang ditawarkan,'' jelasnya.

Selain itu, mantan Ketua Kadin Bali ini melihat bank juga lebih senang memberikan kredit di sektor konsumsi karena keuntungan yang akan diperoleh lebih besar. Kondisi tersebut sangat membahayakan bagi perekonomian Bali, sebab tidak ada dana segar yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi. ''Pemda Bali mesti mengeluarkan kebijakan kongkret untuk mengatasi lesunya perekonomian. Apalagi ke depan akan terjadi kenaikan harga BBM dan barang kebutuhan lainnya yang semakin memperlemah kemampuan produksi pengusaha,'' tegasnya. (kmb18)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)