Keluarga
Koruptor
mesti
Ikut Ditangkap
Jakarta (Bali Post) -
Pemerintah
saat
ini masih
susah
payah
membebaskan Indonesia dari
tindak
korupsi.
Namun,
Ketua MPR-RI
Hidayat
Nur Wahid
punya
ide baru
untuk
mempercepat proses
itu.
Inspirasinya
datang
dari
Cina.
Apa
itu
ya?
Pemerintah
Indonesia melalui
kunjungan
Presiden
Susilo
Bambang
Yudhoyono
ke
Cina dapat
menarik
pelajaran
dari
negeri tersebut
dalam
menerapkan hukuman
keras
terhadap para
koruptor.
Hidayat
Nur Wahid yang
juga
mantan Presiden
Partai
Keadilan
Sejahtera (PKS)
ini
menganggap perlunya
keluarga
para
koruptor ditangkap
sebagai
upaya
untuk memperluas
kampanye
pencegahan
tindakan
korupsi.
''Salah
satu yang
bisa
dipelajari dan
diadopsikan
dan
itu mungkin,
yakni
penghukuman yang sangat
berat
kepada para
koruptor
secara
langsung.
Jadi
tidak
perlu melakukan
pengadilan yang
bertele-tele,
apalagi
akhirnya
dibebaskan,''
kata
Hidayat usai
mengikuti
pertandingan bola
voli
antara Tim PKS melawan
Tim Kepresidenan yang
dipimpin
Presiden
Yudhoyono
di Jakarta,
Minggu (31/7)
kemarin.
Hukuman
keras
itu, ujar
Hidayat,
harus
benar-benar diterapkan
kepada
siapa pun yang
terbukti
melakukan
korupsi
dan
merugikan keuangan
negara
serta
kepercayaan rakyat.
Bahkan,
Hidayat
menyatakan
para
koruptor wajar
jika
dikenai hukuman
mati
sambil mengutip
bahwa
Nadhlatul Ulama
memfatwakan
dibolehkannya
hukuman
mati
bagi koruptor.
''Kalaupun
tidak
dihukum mati,
hukuman yang
sangat
keras
diterapkan dengan
penyitaan
aset
ekonomi yang dimiliki
para
koruptor,'' katanya.
Hukuman
yang sangat
keras
itu, tambahnya,
juga
berupa penangkapan
terhadap
keluarga
para
koruptor.
''Kenapa
hal
itu sangat
penting,
karena
kadang-kadang
korupsi
itu
dilakukan oleh
seorang
koruptor
bukan
karena kemauan
dirinya,
tetapi
keluarga yang
mendorong-dorong
terjadinya
korupsi,''
katanya.
Penangkapan
yang dilakukan
terhadap
keluarga
koruptor,
menurutnya,
akan
memberikan
efek
jera bagi
masyarakat.
''Supaya
para
keluarga juga
menjadi
benteng
untuk
mengingatkan para
pejabat
atau
siapa pun yang melakukan
korupsi
untuk
tidak melakukannya
karena
keluarga
nantinya
juga
akan ikut
kena
malu,'' demikian
Hidayat.
(kmb4)