Catatan
Ekonomi
Sepekan------
Negeri
yang Boros
Energi
ADA
pemandangan
diluar
kebiasaan.
Menjelang
akhir
pekan lalu,
Bali
mengalami 'kelangkaan'
bahan
bakar minyak (BBM).
Sejumlah
Stasiun
Pengisian Bahan
Bakar
Umum (SPBU) mengaku
mulai
kehabisan stok.
Bisa
ditebak,
banyak
kendaraan menggantri
menunggu
mendapatkan BBM.
--------------
Akhirnya,
fenomena
kelangkaan BBM
juga
dijumpai di Bali.
Pejabat
yang berkepentingan
mengakui,
kondisi
tersebut terjadi
kapal tanker
kesulitan
merapat
di depo
Manggis
sehubungan buruknya
cuaca.
Bisa
ditebak,
hal
tersebut mengakibatkan
terganggungnya
pendistribusian BBM
hingga
di SPBU.
Apa
yang baru-baru
ini
terjadi di Bali,
sebelumnya
juga
dialami di
propinsi
lainnya.
Ada
pesan
sederhana yang dibawa,
pentingnya BBM
dalam
segala aspek
kehidupan.
Karenanya
sifatnya
bukan
komoditi yang dapat
diperbaharui,
selayaknya
penggunaannya
menggunakan
azas
manfaat dan
bijak.
Hampir
satu
bulan pula, Inpres
Penghematan
Energi
dikeluarkan.
Terlepas
dari
segala kekurangannya,
kebijakan
ini
mesti didukung
seluruh
elemen rakyat.
Dukungan
yang tidak
berhenti
tiba-tiba
dijalan.
Namun,
kita
tidak mendengar
gaungnya
bagaimana
kebijakan
Pemprov Bali
dalam
pengelolaan energi
mendatang.
Meski
belum final,
di Jakarta
berkeinginan
membatasi
lalu
lintas kendaraan
bermotor.
Di
antaranya
dengan
menaikkan tarif
pajak
kendaraan bermotor
atau
memberlakukan pajak
progresif
bagi
kepemilikian kendaran
bermotor
lebih
dari satu.Dalam
konteks
konsumsi BBM,
Indonesia
memang
dikenal boros
energi.
Ada
satu
indikator yang bisa
mengukur
hal itu,
yakni
elastisitas energi,
menggambarkan
kebutuhan
energi
untuk menghasilkan
satu
persen Produk
Domestik
Bruto (PDB).
Makin
tinggi
elastisitas, berarti
makin
boros. Di
Indonesia, rasio
elastisitas
itu
mencapai 1,85%,
padahal
di negara lain
hanya 0,5-1%.
Jika
kita
buka spektrum yang
lebih
luas, sejatinya
pemborosan
di Indonesia
terjadi
di hampir
semua
sektor.
Dari sisi
efisiensi
investasi, yang
diukur
dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR),
Indonesia
juga
terkenal tinggi alias
boros.Contoh
sederhana
prilaku
boros lainnya
dapat
dijumpai pada
pemakaian air
dan
sumber daya
lainnya.
Air masih
dipandang
sebagai
sumber daya yang
tidak
akan
habis.
Akibatnya, tidak
ada
upaya
konservasi ,
baik
dilevel mikro
rumah
tangga maupun
nasional.
Perilaku
boros
juga menjadi
fenomena
di
parlemen, Senayan.
Mereka
mengusulkan
kenaikan 'tunjangan'
dan
studi banding ke
luar
negeri.
Padahal
negeri
ini tengah
menghadapi
situasi
pelik, krisis BBM.
Contoh
sikap yang
bukan
patut ditiru
disaat
kondisi keprihatinan
hebat.
Inilah
sekuel
cerita dari
negeri yang
penuh
ironi dan
absurditas.
Para elite
dan
kaya berperilaku
boros,
memikirkan kepentingannya
sendiri
ditengah sudah
dan
derita jutaan
rakyatnya
jatuh
miskin dan
kurang
gizi.Agaknya bangsa
ini
memang bangga
menjadi
bangsa yang boros
dalam
segala hal.
Gerakan
penghematan
baru
sadar dilakukan
ketika
terbentur kondisi
yang genting.
Tak
ada
strategi dan
perencanaan
antisipatif
secara
nasional.
Semua
kebijakan
sifatnya
reaksioner,
dilakukan
saat
terdesak.Perilaku boros
ini
barangkali menjadi
salah
satu faktor yang
membuat
Indonesia terus
tertinggal
kesejahteraannya
dari
bangsa-bangsa tetangga,
yang senasib
tertimpa
krisis.
Sifat
boros
atau inefisien,
dalam
dunia bisnis
berarti
petaka, karena
menggerogoti
daya
saing di
tengah
liberalisasi dan
globalisasi yang
tak
kenal ampun.
Itu
sebabnya,
gerakan
dan kebijakan
penghematan
seyogianya
jangan
sekadar untuk
urusan BBM
dan
listrik, tetapi
juga
menyangkut semua
aspek
kehidupan.
Lebih
penting
dari itu,
keteladanan
para
pemegang amanah -pengatur
republik
ini -harus
diperlihatkan
terlebih
dahulu
dengan konsisten.
Kalau
tidak,
mereka dicap
sebagai
kaum yang hanya
doyan
berkelakar.
*
Indu