kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 1 Agustus 2005

 Ekonomi


Catatan
Ekonomi Sepekan------
Negeri
yang Boros Energi

                                                                                                                                                                                 ADA pemandangan  diluar kebiasaan. Menjelang akhir pekan lalu, Bali mengalami 'kelangkaan' bahan bakar minyak (BBM). Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mengaku mulai kehabisan stok. Bisa ditebak, banyak kendaraan menggantri menunggu mendapatkan BBM. --------------

Akhirnya, fenomena kelangkaan BBM juga dijumpai di Bali. Pejabat yang berkepentingan mengakui, kondisi tersebut terjadi kapal tanker kesulitan merapat di depo Manggis sehubungan buruknya cuaca. Bisa ditebak, hal tersebut mengakibatkan terganggungnya pendistribusian BBM hingga di SPBU.

Apa yang baru-baru ini terjadi di Bali, sebelumnya juga dialami di propinsi lainnya. Ada pesan sederhana yang dibawa, pentingnya BBM dalam segala aspek kehidupan. Karenanya sifatnya bukan komoditi yang dapat diperbaharui, selayaknya penggunaannya menggunakan azas manfaat dan bijak.

Hampir satu bulan pula, Inpres Penghematan Energi dikeluarkan. Terlepas dari segala kekurangannya, kebijakan ini mesti didukung seluruh elemen rakyat. Dukungan yang tidak berhenti tiba-tiba dijalan.  Namun, kita tidak mendengar gaungnya bagaimana kebijakan Pemprov Bali dalam pengelolaan energi mendatang.

Meski belum final, di Jakarta berkeinginan membatasi lalu lintas kendaraan bermotor. Di antaranya dengan menaikkan tarif pajak kendaraan bermotor atau memberlakukan pajak progresif bagi kepemilikian kendaran bermotor lebih dari satu.Dalam konteks konsumsi BBM, Indonesia memang dikenal boros energi. Ada satu indikator yang bisa mengukur hal itu, yakni elastisitas energimenggambarkan kebutuhan energi untuk menghasilkan satu persen Produk Domestik Bruto (PDB). Makin tinggi elastisitas, berarti makin boros. Di Indonesia, rasio elastisitas itu mencapai 1,85%, padahal di negara lain hanya 0,5-1%.

Jika kita buka spektrum yang lebih luas, sejatinya pemborosan di Indonesia terjadi di hampir semua sektor. Dari sisi efisiensi investasi, yang diukur dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), Indonesia juga terkenal tinggi alias boros.Contoh sederhana prilaku boros lainnya dapat dijumpai pada pemakaian air dan sumber daya lainnya. Air masih dipandang sebagai sumber daya yang tidak akan habis. Akibatnya, tidak ada upaya konservasi , baik dilevel mikro rumah tangga maupun nasional.

Perilaku boros juga menjadi fenomena di parlemen, Senayan. Mereka mengusulkan kenaikan 'tunjangan' dan studi banding ke luar negeri. Padahal negeri ini tengah menghadapi situasi pelik, krisis BBM. Contoh sikap yang bukan patut ditiru disaat kondisi keprihatinan hebat. Inilah sekuel cerita dari negeri yang penuh ironi dan absurditas. Para elite dan kaya berperilaku boros, memikirkan kepentingannya sendiri ditengah sudah dan derita jutaan rakyatnya jatuh miskin dan kurang gizi.Agaknya bangsa ini memang bangga menjadi bangsa yang boros dalam segala hal. Gerakan penghematan baru sadar dilakukan ketika terbentur kondisi yang genting. Tak ada strategi dan perencanaan antisipatif secara nasional. Semua kebijakan sifatnya reaksioner, dilakukan saat terdesak.Perilaku boros ini barangkali menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia terus tertinggal kesejahteraannya dari bangsa-bangsa tetangga, yang senasib tertimpa krisis.

Sifat boros atau inefisien, dalam dunia bisnis berarti petaka, karena menggerogoti daya saing di tengah liberalisasi dan globalisasi yang tak kenal ampun. Itu sebabnya, gerakan dan kebijakan penghematan seyogianya jangan sekadar untuk urusan BBM dan listrik, tetapi juga menyangkut semua aspek kehidupan.

Lebih penting dari itu, keteladanan para pemegang amanah -pengatur republik ini -harus diperlihatkan terlebih dahulu dengan konsisten. Kalau tidak, mereka dicap sebagai kaum yang hanya doyan berkelakar.

* Indu

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)