Catatan
Pariwisata
Sepekan --------------
Quo Vadis Bali Tourism
Board?
SEDIANYA Jumat (29/7)
kemarin, Bali Tourism Board
(BTB) akan
menggelar
konvensi
di
sebuah hotel di
kawasan
Tuban, Kuta.
Namun,
tanpa alasan yang
jelas
akhirnya ditunda
sampai 6
Agustus
untuk selanjutnya
ditunda
lagi menjadi 26
Agustus 2005.
Mudah-mudahan
tidak
ada penundaan
lagi.
Bagi BTB sendiri,
konvensi kali
ini
cukup strategis,
karena
bisa dipakai
untuk
mengevaluasi kiprahnya
sejak
tiga tahun
lalu.
Sudah sejauh
mana
perannya bagi
kepariwisataan
Bali khususnya
dan
nasional umumnya?
Dalam
press release-nya
disebutkan, BTB
terus-menerus
berusaha
memposisikan
diri
sebagai wahana
komunikasi,
informasi,
representasi,
konsultasi
dan
pemasaran pariwisata
Bali. Kini, BTB
tumbuh
semakin dewasa
dengan
pengalaman menghadapi
berbagai
persoalan
pariwisata,
kebijakan
pemerintah
di
sektor kepariwisataan
serta
upaya memajukan
dan
mengelola Bali sebagai
destinasi
andalan
dunia. Dalam
hubungan
dengan
pemerintah untuk
pengelolaan
pariwisata Bali, BTB
memposisikan
diri
sebagai think-thank dan
mitra
pemerintah.
Bagi
yang baru
mengenal BTB,
mungkin
akan tergugah
dengan
sederet peran
dengan
sejumlah "asi" yang
dijabarkan
di atas.
Namun,
bagi mereka yang
dengan
saksama mengamati
kiprah BTB
selama
ini, justru
bertanya,
kecap
merek apa
lagi
ini? Dengan
segala
hormat kepada
mereka yang
terlibat
di
dalamnya harus
jujur
diakui, BTB belum
berperan
maksimal.
Sebagai
wahana komunikasi,
informasi
dan "asi-asi"
lainnya
seperti yang dipaparkan
tersebut
baru
sebatas harapan.
Tanpa
bermaksud
mengecilkan
Bapak-bapak yang
selama
ini dengan
tulus
mengabdi di BTB,
perlu
ditanyakan adakah
hal fundamental yang
telah
dilakukan lembaga
ini?
Saya mencatat
ada
beberapa terobosan
yang dilakukan.
Antara lain
merintis
pembuatan video
promosi
untuk Bali. ''Proyek''
ini
sempat melibatkan
sejumlah
profesional
dari
luar negeri
dan
saat pembuatannya
dipublikasikan
sempat
mendapat liputan
dari
wartawan lokal,
nasional
dan
bahkan internasional.
Kalau
tak salah
tempatnya
di
salah satu
restoran
di
kawasan Renon.
Sudah
sekian lama
pembuatannya
berlangsung,
bagaimana
kabar
beritanya kita
belum
tahu. Mudah-mudahan
segera
rampung atau
kalaupun
tak
rampung dibeberkan
bagaimana
kendalanya.
Kiprah BTB
berikutnya yang
sempat
dicatat, mampu
menyedot
perhatian
para
kandidat pemimpin
daerah,
sehingga menggiring
mereka
untuk menandatangani
semacam Memorandum of
Understanding (MoU) yang
isinya
seputar komitmen
para
kandidat terhadap
pariwisata Bali.
Kegiatan
ini
juga mendapat
liputan yang
luas
dari media massa.
Patut
dicatat pula BTB
bersama
komponen lainnya
berhasil
memaksa
pemerintah pusat
untuk
meninjau kembali
kebijakan Visa on Arrival (VoA).
Namun,
di luar
itu, BTB yang
menaungi
sembilan stakeholders (PHRI,
Asita, HPI,
Pawiba, Sipco,
Putri,
Gahawisri, PATA dan
Bali Village) belum
sepenuhnya
menyayomi
anggotanya.
Entah
mengapa, BTB hanya
terdiam
ketika ada
perseteruan
dalam HPI Bali.
Demikian pula
ketika
praktik jual-beli
kepala
membuat gusar
jajaran
Asita Bali serta
perang
tarif di
kalangan
perhotelan, BTB
juga
hanya membisu.
Atau
mungkin karena
hal itu
dianggap
masalah intern
organisasi.
Memang
tidak fair
kalau
dalam kondisi
serba
kerterbatasan, kita
lantas
menuntut BTB bisa
berkiprah
bak
sinterklas. Sudah
menjadi
rahasia umum,
lembaga
ini kekurangan
dana (sehingga
ketua
atau pengurus
harus
merogoh kocek
pribadi-red).
Dibutuhkan
niat
tulus dari
masing-masing
pihak,
termasuk pemerintah
dan DPRD Bali
untuk
memberdayakan lembaga
ini.
Kalau lembaga
ini
kuat, unsur
personalitas
bisa
ditekan. Dengan
demikian,
siapa pun
nantinya yang
memimpin BTB,
bersama
jajaran pengurusnya
bisa
berkiprah maksimal.
Semoga!
* gregorius