kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 30 Juli 2005

 Politik

 

Konferda PDI-P Bali Minggu Besok---
Banteng Tua Vs Banteng Muda

Konferensi Daerah (Koferda) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Bali yang berlangsung Minggu (31/7) besok menjadi arena pertarungan antara banteng tua dan banteng muda. Siapa saja mereka? Dan, siapa pula yang akan memenangkan ''pertandingan'' ini?

---------------------------------------------------------- 

BANTENG tua sekaliber AA Ngurah Oka Ratmadi, S.H. dan Ida Bagus Wesnawa, B.A. tak akan tersandung dalam penyaringan calon pada konferda yang akan dibuka Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Hotel Nikki Denpasar. Mulusnya kedua banteng tua itu karena memenuhi syarat sesuai SK DPP Nomor 017/KPTS/DPP/V/2005 dan berpengalaman menjadi pengurus, baik di DPD maupun DPC PDI Perjuangan.

Banteng tua ini diperkirakan dihadang banteng muda karena prestasinya pada pemilu legislatif dan pilkada lalu, semisal Adi Wiryatama dan Winasa. Puspayoga juga diunggulkan, hanya sejak awal dia tak maju menjadi calon. Sementara banteng tua mulai mengalami penurunan prestasi, baik pada Pemilu 2004 lalu maupun pilkada.

Hanya untuk maju sebagai calon ketua umum, para banteng muda itu perjalanannya tak semulus banteng tua. Banteng muda; Adi Wiryatama, Gede Winasa untuk maju menjadi calon ketua DPD harus mengantongi rekomendasi Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sesuai SK DPP 017. SK 017 isinya, orang pertama eksekutif dan legislatif kabupaten -- setingkat di bawah DPD propinsi -- untuk maju menjadi calon mesti mengantongi rekomendasi ketua umum. Hal yang sama juga berlaku bagi anggota DPR-RI seperti Urip dan Rai Wirajaya, mesti mengantongi rekomendasi untuk jabatan ketua. Anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan hanya memenuhi syarat sebagai pengurus harian. 

Kendala Kepengurusan 

Sementara itu, Alit Kelakan terhadang oleh kendala struktur kepengurusan. Ia selama ini belum pernah duduk sebagai pengurus harian -- ketua, sekretaris dan bendahara -- baik di DPC maupun DPD. Dalam tatib minimal syarat sebagai seorang calon, pernah duduk lima tahun sebagai pengurus harian, sedangkan Alit Kelakan hanya duduk di Litbang DPD PDI Perjuangan Bali. ''Persyaratan ini yang diperkirakan mengganjal Kelakan pada konferda,'' kata Arjaya, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Denpasar.

Berdasarkan hasil konfercabsus, Sekretaris Panitia Konferda Usdek Maharipa menyebut Ratmadi di peringkat pertama, disusul Alit Kelakan, Adi Wiryatama dan IB Wesnawa. Ratmadi di urutan pertama karena namanya muncul di semua kabupaten. Bahkan, di Denpasar muncul sebagai calon tunggal. Ratmadi di Bangli dan Buleleng juga berada di urutan pertama, disusul Alit Kelakan dan Adi Wiryatama. Kedua, Alit Kelakan juga muncul hampir di semua kabupaten. Hanya, Badung di urutan pertama disusul Adi Wiryatama, IBG Suryatmaja dan Ratmadi. Ketiga, Adi Wiryatama unggul di Tabanan dan Karangasem, disusul Ratmadi dan Alit Kelakan. Keempat, Wesnawa muncul di Gianyar dan Bangli, kendati tidak di urutan pertama.

Namun, pihaknya tak merasa perlu mentabulasi jumlah dukungan, karena konfercabsus sifatnya menjaring nama-nama bakal calon untuk dibawa ke konferda. Besarnya dukungan ranting yang diperoleh para calon melalui konfercabsus, tak menjamin mereka melenggang mulus menjadi ketua DPD PDI Perjuangan Bali. ''Kalau indikator besarnya dukungan pada konfercabsus, tak perlu dong konferda,'' ucapnya.

Ketua panitia pengarah Made Arimbawa, S.H. menyebutkan konferbasus hanya menjaring nama-nama. Nama-nama itu kemudian disaring pada konferda sesuai SK 017 dan tatib yakni minimal lima tahun pernah menjadi pengurus harian.

Baru setelah lolos penyaringan konferda, mereka berhak menjadi calon. Dalam konferda nanti ditentukan apakah pemilihan melalui musyawarah atau voting. Jika calonnya banyak kemungkinan besar voting. Setiap kabupaten yang diwakili tiga utusan mempunyai satu suara untuk mendukung salah satu nama calon, sehingga ada sembilan suara dari kabupaten untuk memilih ketua DPD PDI Perjuangan Bali.  Arimbawa dan Usdek tak menutup kemungkinan adanya intervensi DPP jika sidang deadlock sebagaimana pernah terjadi pada konferda di Hotel Dyanapura. Ketika itu Ratmadi dan Adi Suedandi yang bersaing ketat. Akhirnya campur tangan Ketua Umum Megawati waktu itu menetapkan Wesnawa yang ketua panitia waktu itu sebagai ketua DPD PDI-P Bali. (sua)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)