Konferda PDI-P
Bali Minggu Besok---
Banteng Tua Vs Banteng Muda
Konferensi Daerah (Koferda) Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDI-P) Bali yang berlangsung Minggu (31/7)
besok menjadi arena pertarungan antara banteng tua dan
banteng muda. Siapa saja mereka? Dan, siapa pula yang
akan memenangkan ''pertandingan'' ini?
----------------------------------------------------------
BANTENG
tua sekaliber AA Ngurah Oka Ratmadi, S.H. dan Ida Bagus
Wesnawa, B.A. tak akan tersandung dalam penyaringan
calon pada konferda yang akan dibuka Ketua Umum DPP PDI
Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Hotel Nikki
Denpasar. Mulusnya kedua banteng tua itu karena memenuhi
syarat sesuai SK DPP Nomor 017/KPTS/DPP/V/2005 dan
berpengalaman menjadi pengurus, baik di DPD maupun DPC
PDI Perjuangan.
Banteng tua ini diperkirakan dihadang banteng muda
karena prestasinya pada pemilu legislatif dan pilkada
lalu, semisal Adi Wiryatama dan Winasa. Puspayoga juga
diunggulkan, hanya sejak awal dia tak maju menjadi calon.
Sementara banteng tua mulai mengalami penurunan prestasi,
baik pada Pemilu 2004 lalu maupun pilkada.
Hanya untuk maju sebagai calon ketua umum, para banteng
muda itu perjalanannya tak semulus banteng tua. Banteng
muda; Adi Wiryatama, Gede Winasa untuk maju menjadi
calon ketua DPD harus mengantongi rekomendasi Ketua Umum
Megawati Soekarnoputri sesuai SK DPP 017. SK 017 isinya,
orang pertama eksekutif dan legislatif kabupaten --
setingkat di bawah DPD propinsi -- untuk maju menjadi
calon mesti mengantongi rekomendasi ketua umum. Hal yang
sama juga berlaku bagi anggota DPR-RI seperti Urip dan
Rai Wirajaya, mesti mengantongi rekomendasi untuk
jabatan ketua. Anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan hanya
memenuhi syarat sebagai pengurus harian.
Kendala Kepengurusan
Sementara itu, Alit Kelakan terhadang oleh kendala
struktur kepengurusan. Ia selama ini belum pernah duduk
sebagai pengurus harian -- ketua, sekretaris dan
bendahara -- baik di DPC maupun DPD. Dalam tatib minimal
syarat sebagai seorang calon, pernah duduk lima tahun
sebagai pengurus harian, sedangkan Alit Kelakan hanya
duduk di Litbang DPD PDI Perjuangan Bali. ''Persyaratan
ini yang diperkirakan mengganjal Kelakan pada konferda,''
kata Arjaya, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Denpasar.
Berdasarkan hasil konfercabsus, Sekretaris Panitia
Konferda Usdek Maharipa menyebut Ratmadi di peringkat
pertama, disusul Alit Kelakan, Adi Wiryatama dan IB
Wesnawa. Ratmadi di urutan pertama karena namanya muncul
di semua kabupaten. Bahkan, di Denpasar muncul sebagai
calon tunggal. Ratmadi di Bangli dan Buleleng juga
berada di urutan pertama, disusul Alit Kelakan dan Adi
Wiryatama. Kedua, Alit Kelakan juga muncul hampir di
semua kabupaten. Hanya, Badung di urutan pertama disusul
Adi Wiryatama, IBG Suryatmaja dan Ratmadi. Ketiga, Adi
Wiryatama unggul di Tabanan dan Karangasem, disusul
Ratmadi dan Alit Kelakan. Keempat, Wesnawa muncul di
Gianyar dan Bangli, kendati tidak di urutan pertama.
Namun, pihaknya tak merasa perlu mentabulasi jumlah
dukungan, karena konfercabsus sifatnya menjaring
nama-nama bakal calon untuk dibawa ke konferda. Besarnya
dukungan ranting yang diperoleh para calon melalui
konfercabsus, tak menjamin mereka melenggang mulus
menjadi ketua DPD PDI Perjuangan Bali. ''Kalau indikator
besarnya dukungan pada konfercabsus, tak perlu dong
konferda,'' ucapnya.
Ketua panitia pengarah Made Arimbawa, S.H. menyebutkan
konferbasus hanya menjaring nama-nama. Nama-nama itu
kemudian disaring pada konferda sesuai SK 017 dan tatib
yakni minimal lima tahun pernah menjadi pengurus harian.
Baru setelah lolos penyaringan konferda, mereka berhak
menjadi calon. Dalam konferda nanti ditentukan apakah
pemilihan melalui musyawarah atau voting. Jika calonnya
banyak kemungkinan besar voting. Setiap kabupaten yang
diwakili tiga utusan mempunyai satu suara untuk
mendukung salah satu nama calon, sehingga ada sembilan
suara dari kabupaten untuk memilih ketua DPD PDI
Perjuangan Bali. Arimbawa dan Usdek tak menutup
kemungkinan adanya intervensi DPP jika sidang deadlock
sebagaimana pernah terjadi pada konferda di Hotel
Dyanapura. Ketika itu Ratmadi dan Adi Suedandi yang
bersaing ketat. Akhirnya campur tangan Ketua Umum
Megawati waktu itu menetapkan Wesnawa yang ketua panitia
waktu itu sebagai ketua DPD PDI-P Bali.
(sua)