kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 30 Juli 2005

 Kultur

 

Menggali Potensi Seni Asli Buleleng---
Hidupkan
Grup "Sebunan", Bangun Gedung Kesenian

Sulit ditampik Buleleng memiliki bemacam jenis kesenian yang khas dan asli Bali Utara. Kesenian itu ada yang masih sangat asli dan hanya berkembang di desa-desa terpencil, seperti gambuh khas Desa Bila, Kubutambahan, atau kesenian Rengganis di wilayah Kecamatan Buleleng, serta beberapa jenis karawitan termasuk sarana gamelannya yang khas dari wilayah Buleleng Barat

========================================================= 

Yang paling unik, Buleleng memiliki kesenian rakyat yang tidak dimiliki daerah lain, yakni Megoak-goakan. Atau jika pun daerah lain memilikinya, seperti drama gong, joged bungbung atau janger, namun di Buleleng kesenian itu sangat berbeda dan memiliki ciri-ciri yang spesifik dan terkesan lebih dinamis.

Sayang jika kesenian-kesenian asli itu hilang begitu saja, atau tak terlacak asal-usulnya. Sehingga ada usulan dari sejumlah seniman di Buleleng agar semua jenis kesenian itu, yang asli maupun yang sudah dimodifikasi, harus dipetakan kembali. Bila perlu dilacak kembali untuk diperkenalkan kepada publik kesenian di Buleleng atau di Bali Selatan bahkan hingga ke seantero dunia.

Seorang seniman alam dari Banyuning, Nengah Wijana, menilai ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan di setiap kabupaten memang bisa dipakai sebagai media untuk memetakan kembali kesenian-kesenian khas di setiap kabupaten termasuk Buleleng. Dalam PKB kabupaten dipentaskan berbagai kesenian khas dari kabupaten itu sendiri, lalu puncak-puncaknya dihadirkan dalam PKB di Taman Budaya Denpasar. Namun pihak penyelenggara, dalam hal ini pemerintah, tak boleh asal comot. "Sebelumnya harus dilakukan pembinaan secara intensif, terutama kepada sekaa-sekaa sebunan yang selama ini jarang tersentuh," katanya.  

Kesenian khas dari setiap kabupaten, kata Wijana, memang lebih banyak diemban oleh sekaa-sekaa sebunan di desa-desa yang kadang lokasinya sangat tersembunyi dan tak pernah terjangkau pembinaan. Sekaa sebunan ini harus dihidupkan, diberi bantuan materi dan pembinaan rutin. Misalnya untuk gong kebyar, sebaiknya dipentaskan grup gong kebyar dari suatu desa atau banjar-banjar, bukan melulu harus menggunakan pekerja seni  dari sanggar-sanggar kesenian yang sudah mapan. "Potensi kesenian asli itu bisa dilacak pada sekaa-sekaa sebunan di desa," tegas Wijana.

Hal senada juga disampaikan seniman modern dari Buleleng, Putu Satria Kusuma. Upaya untuk mementaskan sekaa-sekaa sebunan, kata Putu, selain menggairahkan sekaa itu sendiri, juga dari sekaa itu bisa dilacak jenis-jenis komposisi karawitan yang mungkin saja selama ini sudah terlupakan. Apalagi, sejauh ini ada dugaan masih banyak jenis komposisi karawitan dan gerak tari asli yang masih diemban oleh seniman-seniman alam di desa. "Jadi, sangat benar jika sekaa sebunan lebih dihidupkan dalam ajang PKB maupun dalam event kesenian lainnya," kata Putu.

Baik Putu Satria maupun Wijana mengacungkan jempol kepada penyelenggara PKB di Buleleng tahun ini, terutama kepada keberanian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk menampilkan sekaa gong kebyar sebunan dalam PKB. Sebelumnya, gong kebyar itu selalu diwakili seniman-seniman yang dicomot dari sejumlah sanggar di Buleleng.

"Saya kira sejak Pak Puja (Ida Bagus Puja Erawan-red) memimpin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sistem pembinaan sudah tampak bagus. Seperti tahun ini, gong kebyar yang diadu di PKB datang dari sekaa sebunan, dari Desa Lemukih. Kalau dulu, semuanya diborong oleh satu sanggar. Gong kebyar anak-anak sanggar itu juga memainkan, gong kebyar dewasa juga sanggar itu, janger juga. Ini monopoli," kata Wijana.

Jika hanya memburu juara, lanjut Putu Satria, penampilan sanggar-sanggar yang sudah mapan itu itu memang bagus, namun hidupnya sebuah proses berkesenian bukan melulu diukur dari seringnya sebuah daerah mendapatkan juara. Hidupnya kesenian lebih diukur dari seberapa subur iklim berkesenian di sebuah daerah. Lihat misalnya penampilan gong kebyar sebunan yang dikirim Buleleng dalam lomba di PKB tahun ini.

 

Gedung Kesenian

 

Mau tak mau, menggali dan mengembangkan potensi kesenian di Buleleng juga harus dikaitkan dengan pengadaan gedung kesenian sebagai media untuk memperkenalkan potensi-potensi alami tersebut. Apalagi, sejumlah seniman di Buleleng sangat berharap agar lomba gong kebyar PKB dipentaskan secara keseluruhan di Buleleng. "Lomba gong kebyar itu sebaiknya dipentaskan di Buleleng, karena cikal-bakal gong kebyar itu berasal dari Buleleng," kata Wijana.

Agar gong kebyar atau jenis-jenis kesenian lainnya bisa dipentaskan di Buleleng, Wijana dan seniman dari Bali Utara itu berharapa agar Pemkab dan DPRD segera membangun membuat gedung kesenian yang bagus. "Waktu PKB sebulan lalu, sebagian peserta gong kebyar memang pentas di Buleleng, dan kita membuat panggung terbuka di tengah lapangan Bhuana Patra. Itu sebagai pancingan bahwa Buleleng memang sudah saatnya memiliki gedung yang bagus," kata Wijana.

Menurut Wijana, gedung kesenian yang ada sekarang (di Jalan Udayana-red) dinilai sudah tak memadai. Lebih baik tukar guling saja dan cari lokasi yang lebih bagus. Jika tak bisa seperti Taman Budaya Denpasar, setidaknya gedung itu lebih luas dari yang ada saat ini. (ole)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)