Menggali
Potensi
Seni
Asli
Buleleng---
Hidupkan
Grup "Sebunan",
Bangun
Gedung
Kesenian
Sulit
ditampik
Buleleng
memiliki
bemacam
jenis
kesenian yang
khas
dan
asli Bali Utara.
Kesenian
itu
ada yang masih
sangat
asli
dan
hanya berkembang
di
desa-desa terpencil,
seperti
gambuh
khas
Desa
Bila,
Kubutambahan,
atau
kesenian
Rengganis
di
wilayah Kecamatan
Buleleng,
serta
beberapa
jenis
karawitan
termasuk
sarana
gamelannya yang
khas
dari
wilayah
Buleleng
Barat.
=========================================================
Yang
paling unik,
Buleleng
memiliki
kesenian
rakyat yang
tidak
dimiliki
daerah lain,
yakni
Megoak-goakan.
Atau
jika pun
daerah lain
memilikinya,
seperti drama gong,
joged
bungbung
atau
janger,
namun
di
Buleleng kesenian
itu
sangat berbeda
dan
memiliki ciri-ciri
yang spesifik
dan
terkesan lebih
dinamis.
Sayang
jika
kesenian-kesenian
asli
itu
hilang begitu
saja,
atau
tak
terlacak asal-usulnya.
Sehingga
ada
usulan dari
sejumlah
seniman
di
Buleleng agar semua
jenis
kesenian
itu, yang
asli
maupun yang
sudah
dimodifikasi,
harus
dipetakan
kembali.
Bila
perlu
dilacak
kembali
untuk
diperkenalkan
kepada
publik
kesenian
di
Buleleng atau
di Bali
Selatan
bahkan
hingga
ke
seantero dunia.
Seorang
seniman
alam
dari
Banyuning,
Nengah
Wijana,
menilai
ajang
Pesta
Kesenian Bali (PKB) yang
diselenggarakan
di
setiap kabupaten
memang
bisa
dipakai
sebagai media
untuk
memetakan
kembali
kesenian-kesenian
khas
di
setiap kabupaten
termasuk
Buleleng.
Dalam
PKB kabupaten
dipentaskan
berbagai
kesenian
khas
dari
kabupaten
itu
sendiri, lalu
puncak-puncaknya
dihadirkan
dalam PKB
di
Taman Budaya
Denpasar.
Namun
pihak
penyelenggara,
dalam
hal
ini pemerintah,
tak
boleh asal
comot.
"Sebelumnya
harus
dilakukan
pembinaan
secara
intensif,
terutama
kepada
sekaa-sekaa
sebunan yang
selama
ini
jarang tersentuh,"
katanya.
Kesenian
khas
dari
setiap
kabupaten,
kata
Wijana,
memang
lebih
banyak
diemban
oleh
sekaa-sekaa
sebunan
di
desa-desa yang kadang
lokasinya
sangat
tersembunyi
dan
tak pernah
terjangkau
pembinaan.
Sekaa
sebunan
ini
harus dihidupkan,
diberi
bantuan
materi
dan
pembinaan rutin.
Misalnya
untuk gong
kebyar,
sebaiknya
dipentaskan
grup gong
kebyar
dari
suatu
desa
atau
banjar-banjar,
bukan
melulu
harus
menggunakan
pekerja
seni
dari
sanggar-sanggar
kesenian yang
sudah
mapan.
"Potensi
kesenian
asli
itu
bisa dilacak
pada
sekaa-sekaa
sebunan
di
desa," tegas
Wijana.
Hal senada
juga
disampaikan
seniman modern
dari
Buleleng,
Putu
Satria
Kusuma.
Upaya
untuk
mementaskan
sekaa-sekaa
sebunan,
kata
Putu,
selain
menggairahkan
sekaa
itu
sendiri, juga
dari
sekaa
itu
bisa dilacak
jenis-jenis
komposisi
karawitan yang
mungkin
saja
selama
ini
sudah terlupakan.
Apalagi,
sejauh
ini
ada dugaan
masih
banyak
jenis
komposisi
karawitan
dan
gerak tari
asli yang
masih
diemban
oleh
seniman-seniman
alam
di
desa. "Jadi,
sangat
benar
jika
sekaa
sebunan
lebih
dihidupkan
dalam
ajang PKB
maupun
dalam event
kesenian
lainnya,"
kata
Putu.
Baik
Putu
Satria
maupun
Wijana
mengacungkan
jempol
kepada
penyelenggara PKB
di
Buleleng tahun
ini,
terutama
kepada
keberanian
Dinas
Kebudayaan
dan
Pariwisata untuk
menampilkan
sekaa gong
kebyar
sebunan
dalam PKB.
Sebelumnya,
gong kebyar
itu
selalu diwakili
seniman-seniman yang
dicomot
dari
sejumlah
sanggar
di
Buleleng.
"Saya
kira
sejak Pak
Puja (Ida
Bagus
Puja
Erawan-red)
memimpin
Dinas
Kebudayaan
dan
Pariwisata, sistem
pembinaan
sudah
tampak
bagus.
Seperti
tahun
ini, gong
kebyar yang
diadu
di PKB
datang
dari
sekaa
sebunan,
dari
Desa
Lemukih.
Kalau
dulu,
semuanya
diborong
oleh
satu
sanggar. Gong
kebyar
anak-anak
sanggar
itu
juga memainkan,
gong kebyar
dewasa
juga
sanggar
itu,
janger
juga.
Ini
monopoli,"
kata
Wijana.
Jika
hanya
memburu
juara,
lanjut
Putu
Satria,
penampilan
sanggar-sanggar yang
sudah
mapan
itu
itu memang
bagus,
namun
hidupnya
sebuah
proses
berkesenian
bukan
melulu
diukur
dari
seringnya
sebuah
daerah
mendapatkan
juara.
Hidupnya
kesenian
lebih
diukur
dari
seberapa
subur
iklim
berkesenian
di
sebuah daerah.
Lihat
misalnya
penampilan gong
kebyar
sebunan yang
dikirim
Buleleng
dalam
lomba
di PKB
tahun
ini.
Gedung
Kesenian
Mau tak
mau,
menggali
dan
mengembangkan potensi
kesenian
di
Buleleng juga
harus
dikaitkan
dengan
pengadaan
gedung
kesenian
sebagai media
untuk
memperkenalkan
potensi-potensi
alami
tersebut.
Apalagi,
sejumlah
seniman
di
Buleleng sangat
berharap agar
lomba gong
kebyar PKB
dipentaskan
secara
keseluruhan
di
Buleleng.
"Lomba
gong kebyar
itu
sebaiknya dipentaskan
di
Buleleng, karena
cikal-bakal gong
kebyar
itu
berasal dari
Buleleng,"
kata
Wijana.
Agar gong kebyar
atau
jenis-jenis
kesenian
lainnya
bisa
dipentaskan
di
Buleleng, Wijana
dan
seniman dari Bali
Utara
itu
berharapa agar Pemkab
dan DPRD
segera
membangun
membuat
gedung
kesenian yang
bagus.
"Waktu
PKB sebulan
lalu,
sebagian
peserta gong
kebyar
memang
pentas
di
Buleleng, dan
kita
membuat
panggung
terbuka
di
tengah lapangan
Bhuana
Patra.
Itu
sebagai
pancingan
bahwa
Buleleng
memang
sudah
saatnya
memiliki
gedung yang
bagus,"
kata
Wijana.
Menurut
Wijana,
gedung
kesenian yang
ada
sekarang (di
Jalan
Udayana-red)
dinilai
sudah
tak
memadai.
Lebih
baik
tukar
guling
saja
dan
cari lokasi yang
lebih
bagus.
Jika
tak
bisa seperti
Taman
Budaya
Denpasar,
setidaknya
gedung
itu
lebih luas
dari yang
ada
saat ini.
(ole)