Beri
Jalan
bagi
Perkembangan
Bahasa Bali
Denpasar
(Bali Post) -
Sebagai
warisan
leluhur yang menjadi
roh
kebudayaan Bali, bahasa
Bali mesti
mendapat
perhatian
lebih
serius.
Terkait
dengan ini, Guru
Besar
Fakultas Sastra
Universitas
Udayana Prof. Dr.
Tjokorda
Rai
Sudarta, M.A. mengharapkan
elite politik
di Bali,
baik yang
duduk
di eksekutif
maupun
legislatif memberi
jalan
bagi berkembangnya
bahasa Bali,
bahasa
Kawi (Jawa
Kuno)
dan bahasa
Sanskerta.
Harapan
itu
disampaikannya di
kampus FS
Unud,
Jumat (29/7) kemarin
usai
peluncuran buku
Kusumanjali (persembahan)
dari
para peneliti
dan
akademisi yang menjadi
sahabat
maupun mahasiswanya
dengan
judul ''Kompetensi
Budaya
dalam Globalisasi''.
Buku
tersebut
berisikan
kumpulan
tulisan
para peneliti
dan
akademisi sebagai
persembahan
kepada
Tjok.
Sudarta
yang memasuki
masa
pensiun, Juli
ini.
Buku
setebal 466
halaman
lebih itu
diedit
oleh I Nyoman
Darma
Putra dan I
Dewa
Gede Windhu
Sancaya.
Diakuinya,
bahasa Bali
apalagi
bahasa Sanskerta
dan
bahasa Kawi
belum
bisa memberikan
jaminan
masa depan yang
cerah.
Meski
begitu,
ketiga bahasa
itu
bisa mengasah
spiritualitas
dan
moralitas.
Tjok.
Rai
Sudarta
dikenal sebagai
ahli
bahasa Sanskerta yang
rendah
hati. Lelaki
kelahiran
Puri
Saren Kangin,
Ubud,
Gianyar, 27 Juli 1935
ini
merupakan salah
satu
tokoh yang turut
memperjuangkan
eksistensi Hindu
di Indonesia.
Tjok.
Rai
Sudarta pula yang
turut
menyusun buku ''Upadesa'',
sebuah
buku pegangan
terlengkap
pertama
di
Indonesia
mengenai
ajaran-ajaran agama Hindu.
Kerendahan
hati
Tjok.
Rai
Sudarta
juga diakui
Dekan
FS Unud Prof. Dr.
I Wayan
Ardika, M.A.
Menurutnya,
Tjok.
Rai
Sudarta
tidak memiliki
jiwa
meledak-ledak dalam
menyampaikan
gagasan
ataupun
pemikiran-pemikirannya.
Namun,
imbuh
Ardika, Tjok.
Rai
merupakan
pemikir yang
sangat
ulet, tekun
juga
sabar. (*/08)