kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Paing, 29 Juli 2005

 Surat Pembaca


Teror
Juri dan Ketidakpuasan 

Beberapa waktu lalu di harian ini dimuat berita mengenai teror yang dialami seorang juri lomba Gong Kebyar, terkait evaluasi Festival Gong Kebyar PKB yang baru lalu, sehubungan dengan hal itu saya ingin memberikan komentar sebagai berikut:

1. Saya prihatin dengan teror yang dialami juri dimaksud, sebagaimana diberitakan. Tentu saya juga tidak setuju dengan penenoran itu. Namun saya melihat peneroran itu merupakan akumulasi ekstrem dari ketidakpuasan terhadap penilaian juri Gong Kebyar yang tak pernah menggubris atau merespons kerimik pecinta Festival Gong Kebyar. Kerimik dimaksud karena selama ini tak pernah terbuka dipertanggungjawabkan hasil penilaian lomba dimaksud, padahal lomba itu yang diikuti 8 kabupaten dan satu kota cukup mahal, bisa menelan biaya milyaran rupiah. Sementara itu, pola penilaian yang dilakukan selama ini, yakni sistem penggabungan dari semua elemen pendukung gong kebyar itu, amat merugikan para peserta.

Hal ini sudah saya tulis setahun lalu di Bali Post Minggu, tetapi tak ada respons dari panitia atau juri lomba. Saya mengusulkan, agar panitia atau juri gong kebyar mengadaptasi pola penilaian Festival Film, sebab elemen yang mendukung peserta lomba gong kebyar sama, yakni komposisi gending (skenario), pelatih (sutradara), penabuh tunggal (aktor) dan keutuhan, keindahan, kekompakan garapan (film terbaik). Bahkan dalam lomba gong kebyar, lebih banyak lagi elemennya seperti dihadirkannya garapan drama tari. Namun ternyata masing-masing elemen itu hanya mendukung satu sama lainnya untuk mendapat rangking kejuaraan.

2. Sebagaimana diketahui, ciri khas gong di Buleleng adalah gong mepacek. Tetapi dalam beberapa kali festival, gong pacek ini ditinggalkan oleh peserta dari Buleleng, karena ada selentingan bahwa standar bunyi gong dalam festival adalah gong megantung. Memang kalau dicermati sepintas, gong megantung melahirkan bunyi gong yang panjang, sedang gong pacek berbunyi pendek dan tajam dan mungkin kurang sreg bagi telinga yang sudah direcoki oleh gong megantung. Itulah kenyataannya dalam lomba gong kebyar PKB. Haruskah gong mepacek disingkirkan dalam ajang lomba yang mengandung semangat pelestarian?

Yang menjadi pertanyaan saya, yang dicari dalam lomba, apakah bunyi gong atau bunyi gending? Bunyi gong berkaitan dengan alat yang sangat relatif, sedang gending berkaitan dengan kepiawaian kreator gending.

3. Juri yang mewakili daerahnya, mohon juga agar memberi pertanggung jawaban tentang proses dan catatan bagi tim daerahnya hingga kalah. Selama ini itulah yang juga belum jalan.

4. Untuk itu, panitia, utamanya pejabat seni yang punya akses pada lomba gong kebyar, agar mengevaluasi lomba gong kebyar.

Putu Satria Kusuma
Jl
. Gempol 85 Banyuning Singaraja

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)