Teror
Juri
dan Ketidakpuasan
Beberapa
waktu
lalu di
harian
ini dimuat
berita
mengenai teror yang
dialami
seorang juri
lomba Gong
Kebyar,
terkait evaluasi
Festival Gong Kebyar PKB
yang baru
lalu,
sehubungan dengan
hal itu
saya
ingin memberikan
komentar
sebagai
berikut:
1. Saya
prihatin dengan
teror yang
dialami
juri dimaksud,
sebagaimana
diberitakan.
Tentu
saya
juga tidak
setuju
dengan penenoran
itu.
Namun
saya
melihat peneroran
itu
merupakan akumulasi
ekstrem
dari ketidakpuasan
terhadap
penilaian
juri Gong
Kebyar yang
tak
pernah menggubris
atau
merespons kerimik
pecinta Festival Gong
Kebyar.
Kerimik
dimaksud karena
selama
ini tak
pernah
terbuka
dipertanggungjawabkan hasil
penilaian
lomba
dimaksud, padahal
lomba
itu yang diikuti 8
kabupaten
dan
satu
kota
cukup
mahal, bisa
menelan
biaya milyaran
rupiah.
Sementara
itu,
pola penilaian yang
dilakukan
selama
ini, yakni
sistem
penggabungan dari
semua
elemen pendukung gong
kebyar
itu, amat
merugikan
para
peserta.
Hal ini
sudah saya
tulis
setahun lalu
di Bali Post
Minggu,
tetapi tak
ada
respons dari
panitia
atau juri
lomba.
Saya
mengusulkan, agar panitia
atau
juri gong kebyar
mengadaptasi
pola
penilaian Festival Film,
sebab elemen yang
mendukung
peserta
lomba gong kebyar
sama,
yakni komposisi
gending (skenario),
pelatih (sutradara),
penabuh
tunggal (aktor)
dan
keutuhan, keindahan,
kekompakan
garapan (film
terbaik).
Bahkan
dalam
lomba gong kebyar,
lebih
banyak lagi
elemennya
seperti
dihadirkannya garapan
drama tari.
Namun
ternyata masing-masing
elemen
itu hanya
mendukung
satu
sama
lainnya
untuk mendapat
rangking
kejuaraan.
2. Sebagaimana
diketahui,
ciri
khas gong di
Buleleng
adalah gong
mepacek.
Tetapi
dalam
beberapa kali festival, gong
pacek ini
ditinggalkan
oleh
peserta dari
Buleleng,
karena
ada selentingan
bahwa
standar bunyi gong
dalam festival
adalah gong
megantung.
Memang
kalau dicermati
sepintas, gong
megantung
melahirkan
bunyi gong yang
panjang,
sedang gong
pacek
berbunyi pendek
dan
tajam dan
mungkin
kurang sreg
bagi
telinga yang sudah
direcoki
oleh gong
megantung.
Itulah
kenyataannya
dalam
lomba gong kebyar PKB.
Haruskah
gong mepacek
disingkirkan
dalam
ajang lomba yang
mengandung
semangat
pelestarian?
Yang menjadi
pertanyaan
saya, yang
dicari
dalam lomba,
apakah
bunyi gong atau
bunyi
gending?
Bunyi
gong berkaitan
dengan
alat yang sangat
relatif,
sedang
gending berkaitan
dengan
kepiawaian kreator
gending.
3. Juri yang
mewakili
daerahnya,
mohon
juga agar memberi
pertanggung
jawaban
tentang proses
dan
catatan bagi
tim
daerahnya
hingga
kalah.
Selama
ini
itulah yang juga
belum
jalan.
4. Untuk
itu,
panitia, utamanya
pejabat
seni yang punya
akses
pada lomba gong
kebyar, agar
mengevaluasi
lomba gong
kebyar.
Putu
Satria
Kusuma
Jl.
Gempol 85
Banyuning
Singaraja