Perangi
Politik
Uang
POLITIK
uang yang
mewarnai bursa
calon
ketua DPD PDI-P Bali
menjelang konferensi
daerah (konferda)
31 Juli
mendatang di Hotel
Nikki, sebagaimana
terungkap
pada
konfercabsus (konferensi
cabang
khusus) di
Bangli,
benar-benar menjadi
tamparan
memalukan
bagi
partai berlambang
banteng
dalam lingkaran
mulut
putih itu.
Adalah
Koordinator DPD PDI-P Bali
Wilayah Bangli
Nengah
Arnawa, S.Sos.
yang
amat berang,
menyusul
adanya
enam orang
pengurus ranting
dan
pimpinan anak
cabang PDI-P
pada
konfercabsus di
Bangli,
tiba-tiba menyeruak
ke
depan kerumunan
pengurus
untuk
mengembalikan amplop
yang berisi
uang
masing-masing berkisar
Rp 20.000
s.d. Rp
300.000.
Uang
dan
politik memang
dua
sisi yang sulit
dipisahkan.
Politik
uang
menjadi wilayah yang
amat
subur dalam
kehidupan
berpolitik,
baik
dalam sistem
demokrasi,
apalagi
dalam sistem
politik
otoritarian.
Namun,
para
utusan dari
Bangli
itu memang
masih
bernyali dan
tak mau
hati
nuraninya tergadai
oleh
sejumlah uang.
Lebih-lebih
tindakan
sejumlah
utusan
itu didukung
Korwil PDI-P Bali
itu.
Arnawa
menuding tindakan
yang dilakukan
oleh
tim
sukses
calon tertentu
telah
merampas kemerdekaan
berdemokrasi
para
utusan yang nantinya
dipercayakan
memberikan
suaranya
pada
konferda.
Rasa salut
wajar
disampaikan kepada
PDI-P Bangli yang
benar-benar
secara
jujur dan
berani
memerangi politik
uang
dalam perebutan bursa
calon
ketua DPD PDI-P Bali.
''Kita nyatakan
perang
terhadap politik
uang
karena adanya
oknum
tertentu yang merampas
kebebasan
berdemokrasi,''
tegasnya.
Isu
tak
sedap ini
memang
tak hanya
terjadi
di Bangli,
musancabsus (musyawarah
anak
cabang khusus)
dan
konfercabsus kabupaten
lain juga
rawan
dengan politik
uang
sebagaimana kasak-kusuk
yang disampaikan
para
kader PDI-P belakangan
ini.
Jauh
sebelum
sinyalemen politik
uang
itu merebak
di
kabupaten, telah
muncul
selentingan, sejumlah
kader yang
berpeluang
besar
menjadi utusan
telah
dikondisikan tak
hanya
di luar
daerah
tetapi di
luar
negeri.
Tak
penting
dipersoalkan berapa
jumlah
uang yang diperoleh
para
kader tersebut
atas
sebuah permainan
kotor
ini.
Namun,
dengan
adanya dugaan
politik
uang, makin
mengindikasikan
bahwa
pemahaman sejumlah
kader
terhadap ideologi
partainya
masih
sangat lemah.
Artinya,
keputusan yang
lahir
dalam musancabsus
maupun
konfercabsus belum
sepenuhnya
lahir
atas dasar
ideologi
dan
kepentingan partai
untuk
membela
wong cilik,
tetapi
lebih banyak
lahir
atas dasar
transaksional.
Kepentingan
yang ditakar
dari
nilai transaksi,
menurut
Ketua Departemen
Kader PDI-P Bali Drs.
Nyoman
Laka, karena
adanya
permainan yang lebih
didasarkan
kepada
kepentingan kader
tertentu yang
ingin
mencalonkan diri.
Dia
prihatin
para
calon yang lahir
atas
dasar transaksional
itu
akan
melemahkan
perjuangan
partai
ke depan.
Sebab,
orientasi
mereka
setelah meraih
kedudukan
menjadi
ketua partai
adalah
jabatan, tanpa
mempedulikan
nasib
partai ke
depan.
Inilah
ironi
demokrasi pada
sebuah
partai yang berembel-embel
demokrasi,
begitu
mudahnya demokrasi
dibeli
oleh sekolompok
orang yang
mempunyai
kekuasaan
dan
uang.
Dalam
kondisi
seperti ini
layak
dipertanyakan
siapakah
calon yang
betul-betul
berkeringat
di
partai yang layak
ditampilkan.
Artinya,
calon yang
telah
teruji loyalitas,
kesetiaan
dan
pengabdiannya di
partai,
bukan sekadar
berkeringat
karena
telah mendapatkan
sesuatu
dari partai
lantas
dibagi-bagikan dalam
bentuk
politik uang.
Titipan
Nama
Laka
juga
mengamati keanehan
yang muncul
dalam
konfercabsus.
Nama-nama yang
muncul
bukan atas
saringan
kader-kader
terbaik
di kabupaten
tersebut,
tetapi
tiba-tiba saja
nama
kader
dari kabupaten lain
muncul
dan didukung
oleh
peserta. Ini
mengindikasikan
adanya
titipan
nama untuk
dimunculkan
pada
konfercabsus, bukan
atas
dasar aspirasi
dari
bawah yang muncul
di
setiap kabupaten.
Kader-kader
dari
Badung atau
Karangasem
wajar
tersinggung jika yang
muncul
dan didukung
oleh
peserta untuk
dinominasikan
sebagai
calon ketua DPD,
bukan
berasal dari
daerah
kelahirannya.
Melihat
realitas
tersebut, PDI-P
tak
hanya dihadapkan
pada
tantangan internal, juga
tantangan
eksternal
terutama
dari
pesaing partai lain.
Maka
sangat
wajar dalam
konferda
ini,
layak dikedepankan
kader-kader yang
betul-betul
telah
teruji kekaderannya
dalam
mengatasi tantangan,
ketimbang
kader
karbitan yang haus
kekuasaan
dan
uang.
Sekretaris
PDI-P Kota Denpasar Made
Arjaya
condong memilih
kader yang
berkeringat
di
partai lebih
layak
ditampilkan mengingat
mereka
telah teruji
ketokohannya,
baik
pada masa
sulit
maupun tantangan yang
dihadapi
ke
depan. Jika PDI-P
ingin
tetap eksis
ke
depan, militansi
dan
kesetiaan seorang
kader
jauh lebih
penting
ketimbang kader
debutan
baru yang faktanya
gampang
sekali loncat
pagar,
ketika
apa yang diharapkan
jauh
dari kenyataan yang
ada.
Alasan menampilkan
kader
militan karena
telah
teruji kekaderannya,
tak
akan
mudah
loncat pagar
karena
mereka lahir
atas
dasar pemahaman
ideologi
partainya yang
sudah
kuat dan
teruji.
Selain
itu,
melihat kepentingan
yang makin
pragmatis,
konferda yang
menjadi
ajang suksesi
pengurus
di
tingkat propinsi,
mesti
hati-hati memilih
pengurus
baru,
tak hanya
menempatkan
kader
berpengalaman tetapi
memiliki basis
ideologi yang
kuat
dan telah
teruji
ketangguhannya selama
ini. ''Kita
harus
hati-hati memilih
kader,
uang memang
penting,
tetapi
pilihan jangan
didasarkan
pada
finansial semata,''
saran Ketua
Komisi A
DPRD Bali ini.
Selain
itu,
Laka menyarankan PDI-P
layak
juga memperhatikan
pendidikan
dan
penjenjangan kader
partai
mengingat selama
ini
terkesan perekrutan
tak
jelas, sehingga
memunculkan
kekecewaan
baik
kader senior maupun
yunior.
(sua)