HaKI
Dituding
Penyebab
Mahalnya
Harga
Obat
Jakarta (Bali Post)-
Makin
mahalnya
harga
obat-obatan dan
perangkat
kesehatan
disebabkan
penerapan
Hak
atas Kekayaan
Intelektual (HaKI),
sebagaimana
dituntut
industri
farmasi
di negara-negara
maju.
Semestinya, penemu
cukup
diberi kompensasi
hadiah,
bukan royalti
dari
setiap produk yang
dijual. "Seharusnya
tidak
perlu ada
royalti
untuk penemuan
dalam
bidang kedokteran
dan
obat-obatan," ujar
pakar
Bioteknologi Dr Demin
Shen
kepada pers
di Jakarta,
Kamis (28/7)
kemarin.
Menurut
penemu
Jantung Buatan yang
baru
diujicobakan kepada
sapi
tersebut, penemuan
dalam
bidang kedokteran
dan
obat-obatan cukup
diberi
imbalan hadiah,
tidak
perlu mendapatkan
royalti
atas paten hingga
bertahun-tahun yang
membuat
obat tersebut
menjadi
sangat mahal.
Tujuan
riset itu,
ujarnya,
untuk
kesejahteraan umat
manusia
dan bisa
bermanfaat
untuk
kesembuhan bagi
siapa
saja yang sakit
termasuk
bagi
pihak yang tidak
mampu. "Saya
terkejut
riset
obat-obatan bisa
membuat
seseorang menjadi
milyarder yang
uangnya
terus berlipat
ganda
karena royalti yang
didapatkan
dari paten
saja.
Padahal riset
obat-obatan
tak
seharusnya untuk
komersial,"
katanya.
Harga
obat-obatan yang
tinggi
semakin meroket
dengan
berbagai keharusan
izin-izin
dari Food and Drug
Administration atau FDA (lembaga
pangan
dan obat-obatan
di AS), International
Organization for Standardization (ISO)
dan
sejenisnya yang sebenarnya
tidak
terlalu berguna. "Inggris
tak
perlu menjajah
lagi,
sudah kaya
raya
dari rezim ISO.
Sayangnya
banyak
perusahaan mau
dibohongi,
merasa
bangga dengan
mendapatkan ISO
dan
merasa bisa
menjadi
laku. Padahal
biarkan
saja masyarakat yang
menilai,
untuk
apa membuat
harga
barang menjadi
mahal
dengan mendaftarkan
diri ke
ISO," tandasnya.
Dengan
cara
itu, lanjutnya,
pasien
diperas, padahal
pasien
sedang benar-benar
sekarat
kehidupannya. "Harga
jantung
buatan di AS
mencapai 50
ribu
dolar AS," ujarnya
membandingkan
dengan
harga jantung
buatan yang
akan
ditawarkannya dengan
harga
hanya 1.000 dolar AS
untuk
sekadar menutupi
modal penelitian.
Dalam
kesempatan tersebut,
ia juga
menekankan
perlunya
pemerintah
mengembangkan
bioteknologi agar
tidak
hanya menjadi
pengimpor
temuan-temuan
dari
luar negeri yang
harganya
tidak
terjangkau untuk
kantong
rakyat Indonesia.
Sekretaris
Konsorsium
Bioteknologi Indonesia (KBI)
Debbie S Retnoningrum PhD,
mengatakan
sebenarnya
di Indonesia
sudah
banyak temuan-temuan
bioteknologi
di
berbagai laboratorium
yang tersebar
di
universitas ataupun
lembaga-lembaga
penelitian.
Karena
itu, perlu
dipadukan
dalam
satu wadah
Konsorsium
sehingga
di
antara para
peneliti
bisa
saling berbagi
dalam
memperlancar kemajuan
bioteknologi
di Indonesia. KBI,
lanjutnya,
akan
menjadi simpul
Indonesia dalam
bidang
bioteknologi dalam
jaringan Asia
atau Biotechnology
Information Network Asia (Binasia)
yang telah
terjalin
di 14
negara seperti
Malaysia, Korea dan India.
(kmb1)