kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Paing, 29 Juli 2005

 Bali


300 Liter/Detik Air Subak

Disedot untuk Non-Pertanian

Denpasar (Bali Post) -
Sumber air untuk pertanian di Bali makin berkurang. Selain kepentingan subak konflik dengan kepentingan pariwisata, kini juga konflik dengan kepentingan industri dan rumah tangga (RT). Di sejumlah kabupaten, air di tingkat sumber dimanfaatkan untuk kepentingan air minum, peternakan dan industri kecil rumah tangga.

Demikian diungkapkan pengamat masalah pertanian Ir. Gede Sedana, M.S. yang juga dosen Fak. Pertanian Universitas Dwijendra (Undwi) pada orasi ilmiahnya saat dies natalis dan wisuda Undwi, Kamis (28/7) kemarin.

Dikatakannya, akibat sumber air untuk irigasi dipakai untuk air minum (PDAM), debit air di tiga kabupaten (Tabanan, Badung, Denpasar) yang dulunya rata-rata 900 liter/detik menurun menjadi 600 liter/detik. Dengan kata lain, 300 liter/detik telah disedot untuk keperluan non-pertanian. Usaha ekonomi keluarga seperti peternakan ayam dan babi serta industri kecil lainnya sering mengganggu air irigasi. Hal ini menyebabkan kualitas air irigasi makin menurun.

Ia mencontohkan di Yeh Aya, Penebel, Kediri dan daerah lainnya mengalami pencemaran akibat pembuangan limbah ternak. Di Kapal dan Mambal, air irigasi mengalami pencemaran kimia dan limbah ternak. Akibat kerusakan ini, sebagian besar sawah di tiga kabupaten ini menjadi telantar dan tak produktif lagi.

Kondisi itu baru sebagian kecil yang diungkapkan Gede Sedana. Kelemahan petani lainnya adalah minimnya permodalan, kurangnya kemampuan berorganisasi, berusaha tani dan manajemen serta kurangnya kemampuan beragrobisnis. Hal ini menyebabkan tingkat kesejahteraan petani di Bali masih memprihatinkan. ''Padahal untuk menuju Ajeg Bali, sektor ini harus tetap eksis,'' ujarnya.

Sejumlah solusi yang ia tawarkan yakni mengatur penggunaan air secara efisien, perlunya profesionalisme mengembangkan usaha tani baik secara organisasi maupun individual. Di samping itu diperlukan upaya pemerintah mencegah terjadinya alih fungsi lahan dan fluktuasi harga. Jika nasib petani seperti sekarang, ia yakin generasi muda Bali tetap enggan terjun menjadi petani.

Rektor Undwi Drs. MS Chandra Jaya, M.H. usai mewisuda 130 sarjana baru mengatakan SDM Bali dewasa ini tak boleh terpaku hanya mengandalkan SDA. Ia harus siap bersaing di dunia kerja dengan profesionalismenya masing-masing. Makanya Undwi dikatakannya selain mencetak SDM (sarjana) yang berkualitas juga bermoral dan beriman.

Hal serupa diungkapkan Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Drs. IB Gede Wiyana. Menurut Wiyana, sejak awal Undwi diarahkan menjadi perguruan tinggi yang bernuansa budaya dan religius. Persaingan di era global dihadapi dengan peningkatan kepemimpinan melalui tapa, yadnya, yasa, kerti, bhakti dan satya wacana terhadap kualitas mutu. (025)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)