300 Liter/Detik Air Subak
Disedot untuk Non-Pertanian
Denpasar (Bali Post) -
Sumber air untuk pertanian di Bali makin berkurang.
Selain kepentingan subak konflik dengan kepentingan
pariwisata, kini juga konflik dengan kepentingan
industri dan rumah tangga (RT). Di sejumlah kabupaten,
air di tingkat sumber dimanfaatkan untuk kepentingan air
minum, peternakan dan industri kecil rumah tangga.
Demikian diungkapkan pengamat masalah pertanian Ir. Gede
Sedana, M.S. yang juga dosen Fak. Pertanian Universitas
Dwijendra (Undwi) pada orasi ilmiahnya saat dies natalis
dan wisuda Undwi, Kamis (28/7) kemarin.
Dikatakannya, akibat sumber air untuk irigasi dipakai
untuk air minum (PDAM), debit air di tiga kabupaten (Tabanan,
Badung, Denpasar) yang dulunya rata-rata 900 liter/detik
menurun menjadi 600 liter/detik. Dengan kata lain, 300
liter/detik telah disedot untuk keperluan non-pertanian.
Usaha ekonomi keluarga seperti peternakan ayam dan babi
serta industri kecil lainnya sering mengganggu air
irigasi. Hal ini menyebabkan kualitas air irigasi makin
menurun.
Ia mencontohkan di Yeh Aya, Penebel, Kediri dan daerah
lainnya mengalami pencemaran akibat pembuangan limbah
ternak. Di Kapal dan Mambal, air irigasi mengalami
pencemaran kimia dan limbah ternak. Akibat kerusakan ini,
sebagian besar sawah di tiga kabupaten ini menjadi
telantar dan tak produktif lagi.
Kondisi itu baru sebagian kecil yang diungkapkan Gede
Sedana. Kelemahan petani lainnya adalah minimnya
permodalan, kurangnya kemampuan berorganisasi, berusaha
tani dan manajemen serta kurangnya kemampuan
beragrobisnis. Hal ini menyebabkan tingkat kesejahteraan
petani di Bali masih memprihatinkan. ''Padahal untuk
menuju Ajeg Bali, sektor ini harus tetap eksis,''
ujarnya.
Sejumlah solusi yang ia tawarkan yakni mengatur
penggunaan air secara efisien, perlunya profesionalisme
mengembangkan usaha tani baik secara organisasi maupun
individual. Di samping itu diperlukan upaya pemerintah
mencegah terjadinya alih fungsi lahan dan fluktuasi
harga. Jika nasib petani seperti sekarang, ia yakin
generasi muda Bali tetap enggan terjun menjadi petani.
Rektor Undwi Drs. MS Chandra Jaya, M.H. usai mewisuda
130 sarjana baru mengatakan SDM Bali dewasa ini tak
boleh terpaku hanya mengandalkan SDA. Ia harus siap
bersaing di dunia kerja dengan profesionalismenya
masing-masing. Makanya Undwi dikatakannya selain
mencetak SDM (sarjana) yang berkualitas juga bermoral
dan beriman.
Hal serupa diungkapkan Ketua Yayasan Dwijendra Pusat
Drs. IB Gede Wiyana. Menurut Wiyana, sejak awal Undwi
diarahkan menjadi perguruan tinggi yang bernuansa budaya
dan religius. Persaingan di era global dihadapi dengan
peningkatan kepemimpinan melalui tapa, yadnya, yasa,
kerti, bhakti dan satya wacana terhadap kualitas mutu.
(025)