''Inner Seeking''
PRAKTISI
pariwisata I Gusti Agung Prana mengatakan pariwisata
Bali telah salah diapresiasi selama ini. Setidaknya
tercermin dari pernyataan, pariwisata sebagai perusak
lingkungan, pariwisata penyebab kemacetan dan tudingan
miring lainnya. Padahal, kata Prana, pariwisata Bali tak
sesuram itu. Kendati tak memungkiri ada satu dua oknum
pengusaha yang melakukan tindakan tak terpuji, namun
jauh lebih banyak yang ingin menjaga Bali.
Sebagai contoh kongkret, apa yang tengah dirintisnya
yakni suatu paket atau program wisata spiritual.
Bahwasannya, wisatawan tidak selalu dikonotasikan dengan
suka judi dan seks sebagaimana dianggap selama ini.
Wisatawan spiritual justru banyak sekali mendatangkan
keuntungan. Tak hanya uangnya, juga pengalaman, bahkan
feedback untuk kita. Hanya, segmen ini belum digali
secara maksimal dan belum banyak dilirik orang. Segmen
wisatawan yang banyak di Amerika dan Eropa ini sedang
berpaling ke Pulau Dewata.
Wisatawan jenis ini memang unik. Tidak semata-mata
melihat alam dan budaya Bali, tetapi mereka juga
menyelaminya. Bahkanm menyerap kearifan lokal di sini
yang tak ditemui di negerinya. "Saya tanya, program yang
you mau apa? Mereka jawab pendalaman, mencari ke dalam
atau inner seeking," papar Managing Director Nagasari
Tours ini melukiskan perjumpaannya dengan rombongan
wisatawan minat khusus dari Amerika dan Jerman, belum
lama ini. Begitu tiba di Bandara Ngurah Rai, lanjutnya,
mereka rasakan firbrasi yang kuat.
Selain melakukan meditasi pada jam-jam tertentu, mereka
juga ingin menyaksikan pertemuan di banjar (lokasinya di
Mengwi dan Pemuteran, Buleleng). "Mereka tanya saya, apa
yang warga banjar itu diskusikan. Lalu saya jelaskan,
bahwa untuk memutuskan sesuatu harus dimusyawarahkan
terlebih dahulu. Mendengar itu mereka mengangguk-angguk.
Bukan basa-basi, tetapi penuh ketulusan," papar mantan
Ketua Asita Bali ini. Bahkan, ketika itu mereka tak
segan-segan merogoh kocek untuk kepentingan banjar.
Dari mereka, Prana akhirnya tahu bagaimana kehidupan
orang Bali yang lebih banyak mengamalkan ajaran agamanya
daripada memahaminya. "Justru itulah yang ingin mereka
timba di Pulau Dewata. Ketika kapitalisme dan
pascamodernitas menguasai dunia, justru mereka
membutuhkan keikhlasan seperti yang dilakoni orang Bali.
Jadi ketulusannya penting, pemahamannya belum tentu,"
papar Agung Prana. "Kata penekun meditasi itu, kalau
diri kita dikendalikan nafsu, maka kita lebih banyak
mencari keluar. Sebaliknya, kalau nafsu itu bisa
dikendalikan, kita justru mencari ke dalam," lanjutnya
menirukan ucapan sang tamu.
Perintis ekowisata ini juga mendapat kesan, para
wisatawan ingin melihat keaslian atau otentitas Bali.
Para instruktur meditasi itu sangat terkesan dengan
sikap orang Bali asli dalam suatu ungkapan memandang
sesama manusia itu sama, tidak membeda-bedakan, semuanya
menyenangkan. "Keheningan dalam hati. Apakah mereka
harus kaya sebelum bahagia, apakah mereka harus meraih
sesuatu sebelum bahagia? Tidak. Semua mengalir dalam
ketulusan dan kepasrahan. Bahagia," papar Prana tentang
pandangan para turis itu terhadap orang Bali.
Prana sendiri sangat terkesan dengan perilaku para turis
yang sebagian besar ilmuwan itu. Paket itu dikemas
secara utuh dengan mengadopsi kearifan-kearifan lokal.
Ini cocok sekali dengan upaya kita dalam payung
pariwisata budaya. Pariwisata yang membantu melestarikan
budaya dan alam serta menjaga keberlanjutan
(sustainable) pariwisata itu sendiri. "Saya sudah
ceritakan kepada Pak Gubernur Dewa Beratha, beliau
sangat tertarik. Bahkan beliau mengatakan, kalau mereka
datang lagi, saya ingin ketemu mereka sekaligus menjamu
mereka. Sangat positif. Wisatawan jenis inilah yang
dibutuhkan Bali sekarang," tandas Agung Prana.
(gre)