kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 28 Juli 2005

 Pariwisata


''Inner Seeking''

PRAKTISI pariwisata I Gusti Agung Prana mengatakan pariwisata Bali telah salah diapresiasi selama ini. Setidaknya tercermin dari pernyataan, pariwisata sebagai perusak lingkungan, pariwisata penyebab kemacetan dan tudingan miring lainnya. Padahal, kata Prana, pariwisata Bali tak sesuram itu. Kendati tak memungkiri ada satu dua oknum pengusaha yang melakukan tindakan tak terpuji, namun jauh lebih banyak yang ingin menjaga Bali.

Sebagai contoh kongkret, apa yang tengah dirintisnya yakni suatu paket atau program wisata spiritual. Bahwasannya, wisatawan tidak selalu dikonotasikan dengan suka judi dan seks sebagaimana dianggap selama ini. Wisatawan spiritual justru banyak sekali mendatangkan keuntungan. Tak hanya uangnya, juga pengalaman, bahkan feedback untuk kita. Hanya, segmen ini belum digali secara maksimal dan belum banyak dilirik orang. Segmen wisatawan yang banyak di Amerika dan Eropa ini sedang berpaling ke Pulau Dewata.

Wisatawan jenis ini memang unik. Tidak semata-mata melihat alam dan budaya Bali, tetapi mereka juga menyelaminya. Bahkanm menyerap kearifan lokal di sini yang tak ditemui di negerinya. "Saya tanya, program yang you mau apa? Mereka jawab pendalaman, mencari ke dalam atau inner seeking," papar Managing Director Nagasari Tours ini melukiskan perjumpaannya dengan rombongan wisatawan minat khusus dari Amerika dan Jerman, belum lama ini. Begitu tiba di Bandara Ngurah Rai, lanjutnya, mereka rasakan firbrasi yang kuat.

Selain melakukan meditasi pada jam-jam tertentu, mereka juga ingin menyaksikan pertemuan di banjar (lokasinya di Mengwi dan Pemuteran, Buleleng). "Mereka tanya saya, apa yang warga banjar itu diskusikan. Lalu saya jelaskan, bahwa untuk memutuskan sesuatu harus dimusyawarahkan terlebih dahulu. Mendengar itu mereka mengangguk-angguk. Bukan basa-basi, tetapi penuh ketulusan," papar mantan Ketua Asita Bali ini. Bahkan, ketika itu mereka tak segan-segan merogoh kocek untuk kepentingan banjar.

Dari mereka, Prana akhirnya tahu bagaimana kehidupan orang Bali yang lebih banyak mengamalkan ajaran agamanya daripada memahaminya. "Justru itulah yang ingin mereka timba di Pulau Dewata. Ketika kapitalisme dan pascamodernitas menguasai dunia, justru mereka membutuhkan keikhlasan seperti yang dilakoni orang Bali. Jadi ketulusannya penting, pemahamannya belum tentu," papar Agung Prana. "Kata penekun meditasi itu, kalau diri kita dikendalikan nafsu, maka kita lebih banyak mencari keluar. Sebaliknya, kalau nafsu itu bisa dikendalikan, kita justru mencari ke dalam," lanjutnya menirukan ucapan sang tamu.

Perintis ekowisata ini juga mendapat kesan, para wisatawan ingin melihat keaslian atau otentitas Bali. Para instruktur meditasi itu sangat terkesan dengan sikap orang Bali asli dalam suatu ungkapan memandang sesama manusia itu sama, tidak membeda-bedakan, semuanya menyenangkan. "Keheningan dalam hati. Apakah mereka harus kaya sebelum bahagia, apakah mereka harus meraih sesuatu sebelum bahagia? Tidak. Semua mengalir dalam ketulusan dan kepasrahan. Bahagia," papar Prana tentang pandangan para turis itu terhadap orang Bali.

Prana sendiri sangat terkesan dengan perilaku para turis yang sebagian besar ilmuwan itu. Paket itu dikemas secara utuh dengan mengadopsi kearifan-kearifan lokal. Ini cocok sekali dengan upaya kita dalam payung pariwisata budaya. Pariwisata yang membantu melestarikan budaya dan alam serta menjaga keberlanjutan (sustainable) pariwisata itu sendiri. "Saya sudah ceritakan kepada Pak Gubernur Dewa Beratha, beliau sangat tertarik. Bahkan beliau mengatakan, kalau mereka datang lagi, saya ingin ketemu mereka sekaligus menjamu mereka. Sangat positif. Wisatawan jenis inilah yang dibutuhkan Bali sekarang," tandas Agung Prana. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)