Pariwisata
Bali di
Persimpangan Jalan
* Konsistensi
terhadap
Pariwisata
Budaya
Dipertanyakan
Terkuaknya
dugaan
permainan judi
jenis
kasino di
lantai 10 Hotel Inna Grand
Bali Beach, Sanur,
Kamis (21/7)
lalu,
sungguh mengejutkan.
Tadinya
masyarakat
mengira
kasino masih
sebatas
wacana.
Ternyata
sudah
ada, bahkan
diduga
tak hanya
di
Hotel Inna Grand
Bali Beach.
Praktik
serupa
juga diduga
terdapat
di
sejumlah hotel di
kawasan
Kuta. Dengan
kejadian
ini,
layak dipertanyakan:
bagaimana
konsistensi
komponen
pariwisata
di
daerah ini
terhadap
pariwisata
budaya?
Bali
dan
pariwisata merupakan
dua hal
yang tidak
dapat
dipisahkan.
Semua
orang
di dunia
ini
mengakui bahwa
membicarakan
Bali
identik
dengan berbicara
tentang
daerah tujuan
atau
destinasi wisata.
Demikian
sebaliknya
membicarakan
pariwisata
seakan
tidak lengkap
kalau
tidak menyinggung
Pulau Bali.
Sejumlah
penghargaan
internasional
bergengsi
sudah
berhasil direngkuh
Bali sebagai
suatu
destinasi wisata.
Dalam
literatur,
pariwisata
merupakan
suatu
resultante dari
banyak
sektor yang satu
sama
lain saling
mendukung
dan
saling membutuhkan.
Banyaknya
sektor yang
mendukung
kepariwisataan
karena
pariwisata merupakan
suatu
kegiatan yang memerlukan
jasa
pelayanan bagi
para
wisatawan yang dibutuhkan
mulai
dari wisatawan
tersebut
datang
ke Bali, perjalanan
ke
objek wisata,
kebutuhan
akan
penginapan, makan-minum
(food and baverage)
dan
kebutuhan jasa-jasa
lainnya
seperti penukaran
mata
uang, transpor,
hiburan
dan sebagainya.
Selama
ini
pariwisata Bali memiliki
kekhasan
tersendiri
hingga
dapat tetap
bertahan
sebagai
daerah tujuan
wisata
terkenal di
dunia.
Kekhasan
tersebut
terwujud
karena
sejak dahulu
pariwisata
di
Bali
mengandalkan
pariwisata yang
berbasis
pada
adat dan
budaya
masyarakat Bali.
Pariwisata
yang berdasarkan
adat
dan budaya
sangat
berbeda dengan
jenis-jenis
pariwisata
lainnya,
di mana
dalam
kegiatan jasa
kepariwisataan yang
dilakukan
di
Bali
sangat
kental nuansa
budaya
tradisional Balinya.
Hal
inilah yang
menjadi
daya tarik
utama
bagi para
wisatawan
khususnya
wisatawan
mancanegara
untuk
datang berwisata
ke
Pulau Bali.
Dalam
sebuah
tulisannya, pengamat
ekonomi Tri
Arya
Dhyana memaparkan
pada
tahun 80-an pariwisata
Bali memang
benar-benar
bernapaskan
pada
adat dan
budaya Bali,
hingga
saat itu
perhatian
dunia
dan para
wisatawan
memang
tertuju pada
Pulau
Dewata ini.
"Kehidupan
adat
budaya masyarakat
Bali
sehari-hari
memang
sangat unik
dan
khas, tidak
ada
duanya di
dunia.
Namun,
belakangan ini
pariwisata Bali
mulai
melenceng dan
mulai
meninggalkan pariwisata
budayanya --
walau
justru saat
ini lips slogan
Pariwisata
Budaya
semakin ditonjolkan
-- dan
mulai menerapkan
pariwisata
budaya
asing, bukan
lagi
bernafaskan pada
budaya Bali,"
begitu
tulisnya dalam
suatu
artikel di Bali Post.
Sudah
menjadi
pemandangan sehari-hari,
di mana
pariwisata
pada
dekade 90-an sampai
tahun
ini, lanjutnya, yang
ditonjolkan
justru
pariwisata dengan
menampilkan
budaya
barat seperti
diskotik,
tarian
streaptease, alkohol
bahkan
perjudian pun diusulkan
sebagai
salah satu
sarana
hiburan bagi
wisatawan yang
berwisata
ke Bali.
Kasus
penggerebekan di
lantai 10 Inna Hotel Grand
Bali Beach merupakan
bukti
bahwa praktik yang
melanggar
hukum,
etika dan
norma
itu
sesungguhnya sudah
cukup
marak di Bali.
Berbagai
tragedi yang
menjadi
ujian berat
mulai
dari tragedi WTC
sampai yang
terakhir
dampak tsunami
di awal
tahun,
tampaknya belum
bisa
mengubah perilaku
para (oknum)
pelaku
bisnis pariwisata
agar tidak
menghalalkan
segala
cara.
Oknum-oknum
ini
tampaknya juga
tak
mempedulikan frame
pariwisata budaya
di Bali.
Bisa
dipastikan mereka
juga
tak mengindahkan
konsep
pembangunan pariwisata
yang berwawasan
kerakyatan,
alami
dan ramah
lingkungan
serta
menampilkan kebudayaan
Bali secara
utuh.
Mereka
tempaknya
lebih
suka menampilkan
pariwisata
dengan
budaya luar
ataupun
budaya yang tidak
sesuai
dengan budaya
masyarakat Bali.
Seperti
halnya
dengan pengadaan
paket
wisata yang menampilkan
tarian striptease,
perjudian
dengan
mengusulkan keberadaan
kasino,
wisata seks,
maupun
pengadaan kegiatan
penunjang
pariwisata
lainnya yang
tidak
bernuansa budaya
Bali.
Dengan
demikian,
paket yang
dikemas
disamarkan menjadi "paket
pariwisata",
padahal
di dalamnya yang
sesungguhnya
terjadi
adalah paket
hedonis
seperti yang dipaparkan
tadi.
Dalam
workshop reposisi
pariwisata Bali
di Nusa
Dua
belum lama ini,
kembali
dikedepankan pariwisata
kerakyatan
adalah
pariwisata yang pelaku
utamanya
adalah
rakyat itu
sendiri
dengan bermodalkan
pada
kesederhanaan dan
keunikan
kehidupan
keseharian
dan
adat budaya
rakyat Bali.
Di mana,
kelak
rakyat
akan mendapat
value added dalam
kehidupan
ekonominya.
Pariwisata
kerakyatan
ini
akan
mampu
mewujudkan apa yang
didengung-dengungkan
sebagai
pariwisata budaya
dan
juga merupakan
perwujudan
dari
ekonomi kerakyatan.
Pengawasan
Lemah
Parahnya
lagi,
pengawasan sangat
lemah.
Dalam
kondisi
seperti itu,
segenap
masyarakat
Bali
termasuk
para
pengusaha pariwisatanya
tak
bisa berpangku
tangan.
Harus
ada
keberanian untuk
mengawal
pariwisata
budaya,
sehingga tidak
ada
praktik yang mengangkanginya.
Harus
ada
upaya agar benar-benar
mencerminkan
pariwisata
kerakyatan.
Pariwisata
budaya
bukan hanya
sebagai slogan.
Pariwisata
budaya
harus benar-benar
diterapkan
dan
budaya yang mendasari
adalah
budaya
Bali yang berbasis
pada
pertanian tradisional
Bali, bukan
berupa
budaya asing yang
menampilkan striptease,
kasino
maupun seks.
Sudah
saatnya
industri pariwisata
di Bali,
benar-benar
dikelola
oleh
masyarakat Bali dengan
benar
yaitu dengan
mengembalikan
napas
budaya Bali sebagai
andalan
pariwisata di Bali.
Selama
ini
para oknum
seperti yang
disinggung
di atas
hanya
menjadikan
Bali
sebagai
sasaran untuk
dieksploitasi.
Dijual
guna mendapatkan
dolar
tanpa ada yang
peduli
akan
degradasi
budaya,
terganggunya kelestarian
alam Bali
maupun
keajegan Bali secara
keseluruhan. Yang
dipikirkan
hanyalah
bagaimana
cara
menjual Bali
demi
mendatangkan dolar
sebanyak-banyaknya.
Perilaku
ini
harus diluruskan.
Kalau
bukan
oleh kita,
siapa
lagi? (gre)