Peringatan
Peristiwa 27
Juli--
Soerjadi
Dicaci Maki
dan
Diusir
Jakarta (Bali Post) -
Malang
benar
nasib mantan
Ketua
Umum PDI (Kongres
Medan)
Soerjadi.
Keinginannya
mengungkap
skenario
penyerbuan
berdarah
dalam
Tragedi 27 Juli (Kudatuli),
justru
berbuah hujatan.
Soerjadi
diusir
dari arena peringatan
27 Juli
di
kantor PDI, Jalan
Diponegoro, Jakarta
Pusat.
Massa
dari
Aliansi Korban 27
Juli
marah,
memaki
dan menyumpahinya.
Padahal,
Soerjadi
ingin
mengungkap siapa yang
berperan
dalam
peristiwa itu.
Pemandangan
tragis
tersebut terjadi
Rabu (27/7)
kemarin
di
kantor PDI yang kini
cuma
jadi saksi
bisu
pertarungan politik
saat
itu.
Soerjadi
datang
bersama dengan
sejumlah
tokoh PDI-P
Pembaruan
seperti
Sukowaluyo Mintorahardjo,
KH Aris
Munandar dan
dua
tokoh TPDI yaitu RO
Tambunan
dan
Petrus Salestinus.
Memakai
baju hitam-hitam,
Soerjadi
tampak
tenang dan
tersenyum
berjalan
memasuki arena.
Sejumlah
pengawalnya
bahkan
berteriak lantang, ''Hidup
Soerjadi''.
Dr. Tjiptaning,
tokoh PDI-P,
bahkan
sempat disalami.
Mereka
tersenyum-senyum.
Peristiwa
pengusiran
terjadi
ketika Soerjadi
memulai
testimoni. Bram,
salah
satu korban,
langsung
berteriak, ''Pengkhianat...
pengkhianat,
turun
kau.''
Selanjutnya,
kalimat Bram
mengungkap
sejumlah
hewan
penghuni kebun
binatang.
Teriakan
Bram ini
lantas
menyulut emosi
korban
tragedi Kudatuli
lainnya.
Soerjadi
awalnya
tak menggubris.
Tetapi,
beberapa
korban
merangsek maju,
memaki,
dan meminta
Soerjadi
turun
panggung.
Massa
lainnya
tak kalah
sengit.
Pagar
kantor
akan
ditutup dan
Soerjadi
akan
dikeroyok di
dalam.
Namun,
satu
dua politisi
berhasil
mencegah.
Soerjadi
lantas ''digelandang''
keluar area
peringatan
Kudatuli.
Tiga
pengawalnya
berpakaian
hitam-hitam
mengapit.
Polisi
hanya
mengawasi aksi
itu.
Rupanya,
massa
dari
Aliansi Korban 27
Juli
masih belum
puas.
Di
sepanjang
jalan
Soerjadi kenyang
dengan
sumpah serapah.
Lalu
lintas
sempat
macet.
Semua
pengendara
melihat
aksi itu.
Muka
Soerjadi
merah
padam.
Dia
tak
bisa berbuat
banyak.
Beberapa
orang
akan
memukul
tetapi dihalangi.
Juga
seorang
ibu yang histeris
mengejar
Soerjadi
dan
memaki-makinya.
Sekitar 200 meter dari
tempat
peringatan, Soerjadi
dimasukkan
taksi Blue Bird B 2021 EX
dan
wusss...
Aksi
pengusiran
ini
rupanya berlanjut.
Pembawa
acara
mengaku khilaf
dan
meminta maaf.
KH Aris
Munandar, tokoh PDI-P
Pembaruan
memberi
orasi.
Belum
sempat
melanjutkan
kalimat-kalimatnya, seorang
korban
lantas mencabut
kabel
mikrofon dan
mengancam
Aris.
''Siapa
kamu,
turun,'' teriaknya.
Terpaksa,
Aris pun
menurut.
Dia
turun
panggung.
Tinggal
dua
orang di
panggung,
yakni
Sukowaluyo dan RO
Tambunan.
Suko,
mantan
anak buah Megawati
yang kini
berbalik
melawan
itu, menampakkan
muka
masam.
Wajahnya
ditekuk
dan diam.
Ketika
diminta
berorasi, Suko
menyambar
mikrofon.
Tetapi,
sekali
lagi, Suko pun
diteriaki
sebagai
munafik dan
diminta
turun panggung.
Hanya
RO Tambunan yang
kemudian
berorasi
panjang
lebar. Dalam
orasinya,
saksi
mata kasus
Kudatuli
ini
menyatakan penyerangan
kantor
DPP PDI itu
dilakukan
oleh
penguasa dengan
memakai
alat tentara.
Dia
lantas menyebut
sejumlah
nama
yang harus
mempertanggungjawabkan
perbuatan
antikemanusiaan
itu,
seperti Syarwan
Hamid,
Feisal Tandjung,
dan
Susilo Bambang
Yudhoyono (kini
Presiden
RI).
''Syarwan
Hamid,
Feisal Tandjung,
dan SBY
harus dijadikan
tersangka,''
tegasnya.
Usai
berorasi,
Sukowaluyo
mengatakan
Soerjadi
datang
ke area peringatan
Kudatuli
sendirian.
Dia
ingin memberikan
testimoni
seputar
skenario penyerangan
kantor
DPP PDI pada 27
Juli 1996
itu.
Soerjadi mengaku
diperalat
penguasa
untuk
menumpas
gerakan
reformasi pada
masa
itu, sekaligus
menyingkirkan
kekuatan
politik Megawati.
''Dia
dtunggangi
penguasa.
Tetapi,
dia
juga salah
mengapa
dia tidak
melawan,''
sambung RO
Tambunan.
Diusut
Tuntas
Aliansi
Korban 27
Juli
meminta pemerintah
segera
mengusut tuntas
tragedi
kemanusiaan itu.
Tuntutan
serupa
sebenarnya juga
acap kali
didesakkan
kepada Megawati (Ketua
Umum PDI)
selama
tiga
tahun ketika
Mega menjadi
presiden.
Sayangnya,
Mega tak
juga
mengungkap kasus
ini.
Bahkan,
putri Bung
Karno
itu melakukan
tindakan
kontraproduktif
dengan
mendukung Sutiyoso
sebagai
Gubernur DKI Jakarta dan
menendang
kader PDI-P.
Dalam
peringatan
itu, Mega
dan
seluruh pengurus DPP
PDI-P tidak
satu pun yang
hadir.
Dr. Tjiptaning
menecap DPP PDI-P
sekarang
ini
dikuasai oleh
orang-orang
orde
baru. (kmb7)