kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 28 Juli 2005

 Kolom


Berdagang
dengan Cina 

HARI Rabu kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongannya pergi ke Cina dalam kunjungan yang dilakukan selama empat hari. Muncul banyak pendapat di dalam negeri, apakah kunjungan itu pantas dilakukan di saat negara masih dalam keadaan kalut dengan kelangkaan bahan bakar minyak,  flu burung, busung lapar, serta perundingan dengan GAM yang masih dimasalahkan. Muncul pula suara-suara yang mengaitkan Presiden dengan tindakan yang dilakukan beberapa anggota DPR bepergian ke luar negeri yang konon untuk studi banding.

Yang harus dilihat dalam perjalanan presiden ke luar negeri, adalah sisi diplomasinya. Dengan demikian, perjalanan yang dilakukan tersebut masuk dalam katagori diplomasi tingkat tinggi, tingkat kepala pemerintahan. Perundingan yang dilakukan  oleh kepala pemerintahan pasti memiliki  tingkat urgensi besar, menentukan hidup orang banyak, dan mendesak untuk segera dilakukan demi memenuhi kepentingan nasional.

Bisa pula diplomasi tingkat kepala pemerintahan tersebut merupakan  penandatanganan kesepakatan yang telah berproses cukup lama sebelumnya pada tingkat di bawah kepala pemerinatahan.

Diplomasi merupakan sebuah keperluan amat vital di zaman globalisasi  karena setiap negara tidak mungkin lagi hidup sendirian tanpa menggantungkan diri dengan negara lain. Karena itu zaman sekarang, diplomasi tersebut adalah sebuah keharusan dan kewajiban. Negara yang tidak melakukan diplomasi adalah sama dengan negara tanpa usaha. Jika tidak ada usaha, maka tinggal menunggu waktu negara tersebut bangkrut. Diplomasi langsung yang dilakukan itu memberikan dampak kepastian, keyakinan dan ketulusan dalam bekerjasama, bukan sekadar harapan dan janji-janji belaka. Artinya proses pelaksanaan terhadap kerjasama itu akan segera terealisir.

Dari titik pandang itu, agak sukar membandingkan dengan tuntutan penghematan yang dilakukan di Indonesia dengan sebuah kewajiban diplomasi yang sebenarnya terkatagori sebagai kepentingan nasional.  Selama empat hari di Cinadi samping bertemu dengan presiden, Ketua Kongres Rakyat  dan  Perdana Menteri Cina, Presiden SBY juga akan bertemu  dengan Gubernur  Bank Pembangunan, Gubernur Bank Exim, Pejabat Tras Perminyakan, Investasi serta kereta api CinaMereka-mereka yang  akan ditemui oleh presiden bukanlah orang sembarangan. Dalam arti, mempunyai kaitan dengan sektor yang paling memerlukan perhatian di Indonesia.

Cina bukanlah negara  yang terkatagori identik dengan negara berkembang lain. Tetapi negara berkembang yang mempunyai pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen per tahun dengan jumnlah penduduk 1 milyar 200 juta jiwa.

Pembangunan ekonomi Cina yang demikian pesat, mampu mempengaruhi harga pasar minyak internasional. Harga minyak saat ini yang mencapai 60 dolar As per barel itu, sebagian dipengaruhi oleh aktivitas industri mereka yang sangat dinamis. Bergeraknya pabrik-pabrik industri Cina membuat keperluan minyak dunia meningkat dan para pialang minyak  lebih banyak berjualan ke Cina. Inilah salah satu faktor  yang membuat harga minyak dunia melambung tinggi. Ketika inilai mata uang Yuan diambangkan di pasar internasional, hal demikian justru mampu membantu menaikkan nilai mata uang lain di Asia Timur dan Tenggara, termasuk nilai rupiah baru-baru ini. Dan 1,2  milyar rakyat Cina, jelas-jelas merupakan pasar luar biasa bagi ekspor negara manapun di dunia. Perusahan minuman Coca Cola dari Amerika Serikat sampai bersedia huruf kalengnya diubah dengan huruf Cina demi  mampu lebih luwes dalam menggarap pangsa anak muda Cina.

Di tengah  kesulitan ekonomi Indonesia saat ini, potensi yang dimiliki oleh negeri Tirai Bambu tersebut cukup menjanjikanProduk-produk ekspor Indonesia akan mampu bersaing di pasaran dalam negeri Ciba karena tingkat daya beli dan keperluan masyarakt di sana, hampir identik dengan Indonesia. Dengan demikian diplomasi yang dilakukan  terhadap negeri ini memang perlu. Jika hal tersebut kemudian sukses di masa yang akan datang, biaya yang dihabiskan rombongan presiden mungkin akan tidak ada artinya. Kalaupun kemudian kita ingin melihat kualitas pemborosan yang dilakukan atas kunjungan ke Cina ini, bisa dilihat dari perbandingannya dengan kunjungan-kunjungan di masa lalu.  Apakah jumlah rombongan presiden  lebih sedikit atau lebih banyak, kemudian kamar hotel yang bagaimana yang disewa di Cina, lantas ketika di Cina apa saja kegiatan informal dari rombongan tersebut

Jika mampu dimanfaatkan dengan baik, Indonesia sesungguhnya cukup beruntung karena memiliki nilai kebudayaan yang berasal dari Cina dan India. Kalau keakraban sudah berhasil dilakukan dengan Cina, maka selanjutnya yang harus diperjuangkan adalah keakraban dengan India. Negeri Bollywood ini mempunyai 1,1 milyar penduduk. Sebuah potensi dagang yang menggiurkan.

 GPB Suka Arjawa

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)