Berdagang
dengan
Cina
HARI
Rabu
kemarin, Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono
dan
rombongannya pergi
ke Cina
dalam
kunjungan yang dilakukan
selama
empat hari.
Muncul
banyak pendapat
di
dalam negeri,
apakah
kunjungan itu
pantas
dilakukan di
saat
negara masih
dalam
keadaan kalut
dengan
kelangkaan bahan
bakar
minyak, flu
burung,
busung lapar,
serta
perundingan dengan
GAM yang masih
dimasalahkan.
Muncul
pula suara-suara yang
mengaitkan
Presiden
dengan
tindakan yang dilakukan
beberapa
anggota DPR
bepergian
ke luar
negeri yang
konon
untuk studi banding.
Yang harus
dilihat
dalam perjalanan
presiden
ke luar
negeri,
adalah sisi
diplomasinya.
Dengan
demikian,
perjalanan yang
dilakukan
tersebut
masuk
dalam katagori
diplomasi
tingkat
tinggi, tingkat
kepala
pemerintahan.
Perundingan yang
dilakukan
oleh
kepala
pemerintahan pasti
memiliki
tingkat
urgensi besar,
menentukan
hidup
orang banyak,
dan
mendesak untuk
segera
dilakukan demi
memenuhi
kepentingan
nasional.
Bisa
pula diplomasi
tingkat
kepala pemerintahan
tersebut
merupakan
penandatanganan
kesepakatan yang
telah
berproses cukup lama
sebelumnya
pada
tingkat di
bawah
kepala pemerinatahan.
Diplomasi
merupakan
sebuah
keperluan amat vital
di
zaman
globalisasi
karena
setiap
negara tidak
mungkin
lagi hidup
sendirian
tanpa
menggantungkan diri
dengan
negara lain.
Karena
itu
zaman sekarang,
diplomasi
tersebut
adalah
sebuah keharusan
dan
kewajiban. Negara yang
tidak
melakukan diplomasi
adalah
sama
dengan
negara tanpa
usaha.
Jika
tidak
ada usaha,
maka
tinggal menunggu
waktu
negara tersebut
bangkrut.
Diplomasi
langsung yang
dilakukan
itu
memberikan dampak
kepastian,
keyakinan
dan
ketulusan dalam
bekerjasama,
bukan
sekadar harapan
dan
janji-janji belaka.
Artinya
proses pelaksanaan
terhadap
kerjasama
itu
akan
segera
terealisir.
Dari titik
pandang
itu, agak
sukar
membandingkan dengan
tuntutan
penghematan yang
dilakukan
di Indonesia
dengan
sebuah kewajiban
diplomasi yang
sebenarnya
terkatagori
sebagai
kepentingan nasional.
Selama
empat hari
di Cina,
di
samping bertemu
dengan
presiden, Ketua
Kongres
Rakyat dan
Perdana
Menteri Cina,
Presiden SBY
juga
akan bertemu
dengan
Gubernur Bank
Pembangunan, Gubernur
Bank Exim,
Pejabat
Tras Perminyakan,
Investasi
serta
kereta api
Cina.
Mereka-mereka
yang akan
ditemui
oleh presiden
bukanlah
orang
sembarangan.
Dalam
arti,
mempunyai kaitan
dengan
sektor yang paling
memerlukan perhatian
di
Indonesia.
Cina
bukanlah
negara
yang terkatagori
identik
dengan negara
berkembang lain.
Tetapi
negara
berkembang yang mempunyai
pertumbuhan
ekonomi
di atas 8
persen per
tahun
dengan jumnlah
penduduk 1
milyar 200
juta
jiwa.
Pembangunan
ekonomi
Cina yang demikian
pesat,
mampu mempengaruhi
harga
pasar minyak
internasional.
Harga
minyak saat
ini yang
mencapai 60
dolar As
per barel
itu,
sebagian dipengaruhi
oleh
aktivitas industri
mereka yang
sangat
dinamis. Bergeraknya
pabrik-pabrik
industri
Cina
membuat keperluan
minyak
dunia meningkat
dan
para pialang
minyak
lebih
banyak
berjualan ke
Cina.
Inilah salah
satu
faktor
yang membuat
harga
minyak dunia
melambung
tinggi.
Ketika inilai
mata
uang Yuan diambangkan
di
pasar internasional,
hal
demikian justru
mampu
membantu menaikkan
nilai
mata uang
lain di
Asia Timur
dan
Tenggara, termasuk
nilai
rupiah baru-baru
ini. Dan 1,2
milyar
rakyat Cina,
jelas-jelas
merupakan
pasar
luar biasa
bagi
ekspor negara
manapun
di dunia.
Perusahan
minuman Coca Cola
dari
Amerika Serikat
sampai
bersedia huruf
kalengnya
diubah
dengan huruf
Cina
demi
mampu
lebih
luwes dalam
menggarap
pangsa
anak muda
Cina.
Di
tengah
kesulitan
ekonomi Indonesia
saat
ini, potensi yang
dimiliki
oleh
negeri Tirai
Bambu
tersebut cukup
menjanjikan.
Produk-produk
ekspor Indonesia
akan
mampu
bersaing di
pasaran
dalam negeri Ciba
karena
tingkat daya
beli
dan keperluan
masyarakt
di
sana,
hampir
identik dengan
Indonesia. Dengan
demikian
diplomasi yang
dilakukan
terhadap
negeri
ini memang
perlu.
Jika hal
tersebut
kemudian
sukses
di masa yang
akan
datang,
biaya yang dihabiskan
rombongan
presiden
mungkin
akan tidak
ada
artinya.
Kalaupun
kemudian
kita
ingin melihat
kualitas
pemborosan yang
dilakukan
atas
kunjungan ke
Cina
ini, bisa
dilihat
dari perbandingannya
dengan
kunjungan-kunjungan di
masa
lalu. Apakah
jumlah
rombongan
presiden
lebih
sedikit
atau lebih
banyak,
kemudian kamar hotel
yang bagaimana yang
disewa
di Cina,
lantas
ketika di
Cina
apa saja
kegiatan informal
dari
rombongan tersebut.
Jika
mampu
dimanfaatkan dengan
baik, Indonesia
sesungguhnya
cukup
beruntung karena
memiliki
nilai
kebudayaan yang berasal
dari
Cina dan India.
Kalau
keakraban
sudah
berhasil dilakukan
dengan
Cina, maka
selanjutnya yang
harus
diperjuangkan adalah
keakraban
dengan
India.
Negeri
Bollywood ini
mempunyai 1,1
milyar
penduduk.
Sebuah
potensi
dagang yang menggiurkan.
GPB
Suka
Arjawa