Takut
Operasi,
Hamil
Sampai 27 Tahun
Surabaya (Bali Post) -
Nyonya
Taminah (52)
asal
Bojonegoro, Jawa
Timur (Jatim),
mengandung
selama 27
tahun.
Perempuan
setengah
baya yang
sudah menopause
itu
kini dirawat
di
RSUD Dr. Soetomo Surabaya,
setelah
menjalani operasi.
Kehamilannya yang
mencapai 27
tahun
itu disebabkan
karena
Taminah takut
dioperasi.
Dokter
spesialis
kandungan RSUD Dr.
Soetomo,
Poedjo
Hartomo, kepada
wartawan
mengatakan
Ibu
Taminah hamil
di luar
kandungan,
tepatnya
di
dalam rongga
perut.
Istilah
kedokteran disebut
''abdomen lanjut''.
Kasus
langka yang menjadi
pembicaraan
hangat
di kalangan
dokter
itu karena
Taminah
hamil selama 27
tahun. ''Mungkin
Taminah
memecahkan rekor
dunia.
Sebelumnya, rekor
dipegang
oleh
seorang ibu
dari Brazil
tahun 2000
lalu.
Seorang ibu
hamil
selama 18 tahun,''
katanya.
Ibu
Taminah
dibawa ke Surabaya
setelah
dirujuk oleh RSUD
Bojonegoro, yang
sebelumnya
merawatnya.
Ia
menyatakan Taminah
masuk
ke RSUD Dr. Soetomo
Surabaya pada 12
Juli
lalu. Setelah
dirawat 14
hari,
katanya, Selasa
(26/7) lalu
Taminah
dioperasi. Alasan
yang dikemukakan,
karena
tim dokter
mempunyai
pertimbangan
etik
kedokteran. Bayi
tidak
lazim itu
sudah
mati, dan
mengeras
seperti
batu.
Ini
merupakan
kehamilan
keempat yang
dialami
Taminah. Dua
bulan
lalu dia
mengalami
pendarahan
akibat
benjolan di
perut
bagian kanan.
Ia pun
dirawat di RSUD
Bojonegoro,
dan
menjalani rawat
jalan.
Kasus
ini baru
diketahui
setelah
ibu yang bersangkutan
memeriksakan
diri ke
RSUD Bojonegoro.
Dua
bulan lalu
Taminah
mengalami pendarahan
akibat
benjolan di
perut
bagian bawah.
Pada
akhir Juni
lalu
dia dirontgen. ''Dari
foto
itu terungkap
bahwa
benjolan tersebut
adalah
bayi yang sudah
mengeras,''
ujar
Poedjo.
Karena
itu,
tim medis
di
Bojonegoro memberi
rujukan
ke RS Dr. Soetomo
Surabaya. Kehamilan
semacam
ini, katanya,
berisiko
tinggi
karena bisa
pecah
dan mengakibatkan
pendarahan
hebat
dan komplikasi
jika
rongga perut
tidak
kuat.
Bagaimana
kisah
sebenarnya kehamilan
yang sampai 27
tahun
itu? Taminah,
dengan
bahasa Indonesia
sepotong-sepotong itu
mengisahkan
awal
mulanya mengapa
bisa
hamil selama 27
tahun. ''Dulu
saya
hamil seperti
biasa.
Ini kehamilan
ketiga,''
ujarnya.
Peristiwa
kehamilan
itu
terjadi sejak
tahun 1978.
Ketika
kandungan sudah
mencapai
usia 9
bulan, dan
janin
di perutnya
tidak
segera lahir
seperti
dua anak
sebelumnya,
Taminah
kemudian memeriksakan
ke
bidan terdekat. ''Oleh
ibu
bidan, saya
diminta
ke Rumah
Sakit
Bojonegoro,'' ujarnya
liri.
Ketika
diperiksakan
ke
rumah sakit,
ternyata
bayi di
perut
Taminah sudah
meninggal
dunia.
Kemudian, Taminah
diminta
untuk memeriksakan
lebih
lanjut kehamilannya
dan
harus menjalani
operasi.
Mendengar
penjelasan
itu,
Taminah yang saat
itu
masih berusia 25
tahun,
langsung membayangkan
betapa
besar biaya yang
harus
dikeluarkan apabila
menjalani
operasi.
Sementara
penghasilan
suami
sehari-hari dari
pekerjaan
tani
sangat tidak
memadai. ''Selain
itu
saya takut,''
ujarnya.
Ia
ngeri
membayangkan harus
tergolek
di meja
operasi,
dan
perutnya dibedah
dengan
pisau. Karena
kerisauan
itulah
Taminah dan
suaminya,
Taslim,
memutuskan untuk
tidak
menggubris saran dari
tim
medis RSUD Bojonegoro.
Taminah
dibawa pulang
ke Desa
Sukowati,
dan
kembali menjalankan
aktivitas
seperti
hari-hari sebelumnya.
''Tetapi,
perut
saya yang semula
gendut,
lambat-laun mengempes,''
tambahnya.
Karena
kempes,
makin tidak
mempedulikan saran
untuk
operasi. Taminah
menganggap
persoalan
di
perutnya sudah
selesai.
Apalagi,
ia
dapat menjalani
menstruasi
seperti
biasa, layaknya
sebelum
kehamilan. ''Saya
juga
tidak merasakan
sakit
apa-apa. Nyeri
memang
pernah, tetapi
saya
anggap biasa.
Saya
berpikir telah
kembali normal,''
ujarnya.
Rasa nyeri
itu,
jelas Taminah,
datang
setelah dirinya
memasuki menopause,
tepatnya
tujuh
tahun lalu.
Puncaknya,
dua
bulan lalu
ia
merasakan nyeri yang
sangat
hebat. Selain
itu ada
benjolan
di
perut kanannya.
Benjolan
itu
pecah, lalu
keluar
nanah. ''Kencing
dan
buang air besar
juga
lewat lubang yang
pecah
itu. Tidak
lewat
dubur,'' ujar
Taminah.
Mendapati
lukanya
makin parah,
Taminah
memeriksakan diri
di RSUD
Bojonegoro. Dari hasil
rontgen
rumah sakit
diketahui
ada
gumpalan yang mengeras,
dan
diduga sebagai
mayat
bayi. Pihak
rumah
sakit kemudian
merujuknya
ke RS Dr.
Soetomo
di Surabaya, 12 Juli
lalu.
Setelah dioperasi
Selasa (26/7)
lalu,
ternyata benjolan
itu
adalah mayat
bayi
berjenis kelamin
laki-laki,
dan
sudah mengeras.
(059)