Subsidi
Langsung
Diupayakan
Tahun
Depan
Jakarta (Bali Post) -
Menteri
Negara Perencanaan
Pembangunan
Nasional/Kepala
Bappenas Sri
Mulyani
Indrawati mengatakan,
pola
subsidi langsung
akan
mulai
dilaksanakan tahun
2006. Sejauh
ini,
berbagai persiapan
terhadap
perubahan
kebijakan
di
bidang subsidi
tersebut
masih
dilakukan, termasuk
ketersediaan data
kemiskinan
dari
Badan Pusat
Statistik (BPS).
''Paling
ambisius
kalau
bisa dilakukan
akhir
tahun ini,''
kata Sri
Mulyani
di Jakarta, Rabu
(27/7) kemarin.
Menurutnya,
untuk
mengubah subsidi
langsung
ke
masyarakat dari
sebelumnya
subsidi
pada produk
membutuhkan
waktu
hingga berbulan-bulan.
Karena
itu,
pemerintah telah
mempersiapkan
jauh
sebelumnya.
Sri Mulyani
mengakui
bahwa
pengalihan pola
subsidi
ini merupakan
hal yang
sangat
mendasar, karenanya
disiapkan
persiapan
luar
biasa.
Ada
tiga
langkah utama yang
tengah
dipersiapkan pemerintah.
Pertama,
pemerintah
tengah
mengidentifikasi masyarakat
berdasarkan
tingkat
ekonominya.
Dengan
demikian,
pemerintah
bisa
secara pasti
dan
tepat siapa
saja yang
berhak
mendapatkan subsidi
langsung
tersebut.
Saat
ini data kemiskinan
tengah
dipersiapkan oleh BPS
bekerja
sama
dengan
Badan Koordinasi
Keluarga
Berencana
Nasional (BKKBN)
dan
pemerintah daerah.
Kedua,
pemerintah tengah
menyusun
aturan yang
baku
mengenai
subsidi
langsung tersebut.
Hal yang bakal
diatur,
misalnya, subsidi
yang akan
diberikan
dalam
bentuk apa,
kepada
siapa, caranya
bagaimana
dan
langkah preventif
agar subsidi
tersebut
tidak
bocor. ''Semua
itu
kita sadari
tidak
akan mudah,''
tandasnya.
Sebab,
lanjut Sri
Mulyani,
ada
beberapa kendala
seperti
birokrasi, kemungkinan
bocor,
dan pelaksanaan
teknis
di lapangan.
Ketiga,
pemerintah ingin
benar-benar
menjamin
bahwa
pengalihan subsidi
ini
bisa mengatasi
masalah
kemiskinan di
Indonesia. Untuk
itu,
salah satu
penanganan
kemiskinan yang
bakal
ditempuh antara lain
melalui
jalur kesehatan,
pendidikan,
atau
infrastruktur desa.
Jadi,
tegasnya, subsidi
langsung
ini
tidak terlepas
sama
sekali
dari program-program
antikemiskinan yang sedang
diupayakan
pemerintah.
Pada
kesempatan
tersebut, Sri
Mulyani
juga mengatakan
bahwa
dana
kompensasi BBM
tahun 2005
tidak
akan diubah
karena
sudah merupakan
keputusan
dengan DPR.
Subsidi
secara
langsung, menurutnya,
lebih
pada sasaran
jangka
menengah-panjang.
Apakah
dengan
pengalihan subsidi
langsung
ini
berarti indikasi
bahwa
harga BBM
akan
naik
lagi? Sri
Mulyani
mengatakan bahwa
semua
sedang dipikirkan
berbagai
aspeknya.
Dia
menegaskan
bahwa
pemerintah saat
ini
belum berpikir
untuk
menaikkan harga BBM.
''Yang
kita
lakukan sejauh
ini
hanya penghematan
konsumsi BBM,''
ujarnya.
Sementara
itu,
Kepala BPS Choiril
Maksum
mengatakan, sensus
data kemiskinan yang
diminta
pemerintah kemungkinan
baru
selesai pada
awal
Oktober mendatang.
Itu pun,
jika
dana
sebesar
Rp 252 milyar yang
akan
digunakan sebagai
operasional
sensus
bisa dicairkan
pada
Agustus mendatang.
Data yang akan
diberikan BPS
pada
pemerintah sebagai
landasan
pemberian
subsidi
langsung, menurut
dia,
hanya berupa
direktori
umum
rumah tangga
miskin.
Sedangkan tahapan
berikutnya
akan
merinci
penyebab kemiskinan
tersebut.
''Tetapi
kalau
untuk keperluan
subsidi,
direktori
saja
sudah cukup,''
tandas
Choiril.
Dikatakannya,
indikator
kemiskinan
bukan
saja pada
tingkat
penghasilan sebuah
rumah
tangga.
Setidaknya
ada 14
variabel yang
akan
dikompilasikan
untuk
kemudian bisa
disimpulkan
sebuah
rumah tangga
miskin
atau tidak.
Variabel
tersebut
di
antaranya, pendapatan,
perumahan,
sandang,
pangan
dan aksesabilitas.
Cuma
dia
mengingatkan bahwa
anggaran
untuk
keperluan tersebut
harus
segera cair.
Dari total kebutuhan
Rp 252
milyar, saat
ini
baru dibayarkan
Rp 50
milyar. (kmb2)