Belum
Pengaruhi
Permintaan
Denpasar
(Bali Post) -
Adanya
isu flu
burung ternyata
tidak
mempengaruhi permintaan
daging
ayam.
Selama
ini
memang terjadi
penurunan
permintaan
sekitar 30
persen
dari sebelumnya,
namun
bukan merupakan
pengaruh
isu flu
burung.
Demikian
disampaikan
Ketua
Paguyuban Pengusaha
Ayam Bali (PPAB)
Ketut
Yahya Kurniadi,
Rabu (27/7)
kemarin.
Menurut
Kurniadi,
terjadinya
penurunan
permintaan
lebih
dikarenakan liburan
sekolah yang
sudah
usai.
Kalau
sebelumnya
permintaan
bisa
mencapai 70-80 ribu
ekor/hari,
kini
pasar hanya
meminta
sekitar 50 ribu
ekor/hari.
Dia
menolak
kalau penurunan
permintaan
ini
dikaitkan dengan
isu flu
burung yang kembali
muncul.
''Sesuai
pantauan
dan
laporan dari
pengusaha yang
menjual
daging ayam,
penurunan
permintaan
ini
lebih dikarenakan
liburan
sekolah sudah
usai,''
katanya.
Dikatakannya,
justru
kini harga
daging
ayam di
pasaran
sedang membaik.
''Kalau
sebelumnya
harganya
hanya
Rp 12.000-13.000/kg, kini
justru
meningkat menjadi
Rp 14.000 -
Rp 15.000/kg,''
ujarnya.
Diakuinya,
harga
daging ayam
di
pasaran tersebut
cukup
mahal apabila
dibandingkan
harga
ketika isu flu
burung
muncul dua
tahun
lalu.
Menurutnya,
mahalnya
harga
daging ayam
ini
tidak terlepas
dari
menurunnya stok yang
dimiliki
peternak.
Terlebih
setelah
stok ayam
dari
luar
Bali tidak
boleh
masuk karena
dikhawatirkan
membawa virus AI.
Dia
memaparkan,
penurunan
permintaan yang
terjadi
saat ini,
belum
membuat peternak
dan
pedagang ayam
merasa
khawatir.
Pasalnya,
dengan
adanya penurunan
daya
beli ini,
stok yang
jumlahnya
terbatas pun
masih
bisa memenuhi
permintaan.
Sehingga,
tidak
ada keinginan yang
mendesak
untuk
mendatangkan stok
ayam
dari luar.
''Kalau
permintaannya
turun
hingga 30 persen
dari
sebelumnya, kami
tidak
khawatir.
Karena
musim
liburan sudah
usai.
Mudah-mudahan
saja
tidak ada
penurunan
permintaan
drastis
akibat isu flu
burung
ini, harapnya.
Berdasarkan
data yang dimilikinya,
kemampuan
peternak Bali
untuk
memenuhi stok
daging
ayam setiap
harinya
mencapai 50 ribu
ekor.
Ketika
izin
memasukkan ayam
dari
luar masih
dikeluarkan
Disnak Bali,
biasanya
terjadi
pemasukan ayam
sekitar 30
ribu
ekor/hari.
Masuknya
ayam
dari luar
ini
untuk menjaga
keseimbangan
stok
dan permintaan agar
harga
tidak melonjak
terlalu
tinggi.
Kini
dengan
adanya penutupan
keran ''impor''
ayam
dari luar
Bali,
otomatis
permintaan
hanya
bisa dipenuhi
pasokan
lokal.
(kmb18)