kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 28 Juli 2005

 Ekonomi


Perajin
belum Sepenuhnya Kuasai Informasi Pasar Jepang

Denpasar (Bali Post) -
Produk
kerajinan Bali yang diorientasikan untuk ekspor ke Jepang sebenarnya tidak kalah saing dengan produk sejenis dari negara-negara lain. Hanya, pengetahuan dan informasi pasar Jepang yang belum dimiliki perajin dan eksportir, sehingga volume ekspor kerajinan ke Jepang terus mengalami penurunan. Demikian disampaikan Deputy Program Manager IFC-Pensa, Handicraft Export Promotion Program Feraldi W. Loeis dan Pimpinan Design Development Organization Bali I Made Raka Metra, Rabu (27/7) kemarin, di sela-sela seminar videoconference Marketable Handicraft's Design Access for Japan and Production Skills di Kuta.

Dikatakan Feraldi, kerajinan bambu dan keramik cukup banyak diminati konsumen Jepang khususnya dan Amerika serta Uni Eropa pada umumnya. Bahkan, produk yang menggunakan bahan baku bambu kini sedang diminati di negara-negara tersebut. Hanya, sejauh pengamatannya, perajin maupun eksportir belum banyak yang bisa masuk ke pasar Jepang untuk menjual produk-produk ini. ''Produk kerajinan dari Bali tidak kalah bila dibandingkan produk sejenis dari negara lain. Cuma perajin belum mengetahui trend dan permintaan pasar Jepang saja,'' katanya.

Ditambahkan Raka, selama ini perajin cenderung memproduksi kerajinan yang tidak sesuai dengan selera pasar Jepang. Akibatnya, produk-produk yang dihasilkan sulit masuk ke pasar yang sebenarnya punya potensi sangat besar tersebut. Untuk itu, dia memandang perlu adanya informasi mengenai trend dan permintaan pasar sehingga perajin bisa memproduksi produk yang benar-benar diminati konsumen Jepang. ''Melalui seminar videoconference dengan expert dari Jepang inilah diharapkan ada informasi mengenai produk atau desain yang diminati masyarakat Jepang,'' jelasnya.

Sementara itu, JICA Expert on Local Industry Promotion Chisui Kurokawa mengatakan produk keramik dan bambu memiliki masa depan cerah untuk diekspor ke Jepang. Dia melihat di Bali sendiri, produk dari bahan dasar bambu dan keramik sedang berkembang, terutama untuk teknik desain dan keterampilan produksi. Guna, mensikronisasikan produk yang dibuat di Bali dengan keinginan konsumen Jepang, dia menilai sharing informasi yang dilakukan pelaku kerajinan bambu di Jepang akan sangat berguna.

Dalam seminar yang dihadiri sekitar 100 peserta ini, dihadirkan pembicara yang berbicara langsung dari Jepang lewat videoconference. Di antara pembicara tersebut, ada mantan tenaga ahli JICA untuk promosi desain bagi UKM di Departemen Perindustrian Koichi Yasui. Yasui memiliki pengalaman 30 tahun dalam hal mendesain kerajinan. Selain Yasui, terdapat dua pembicara lagi yakni Yasuhiro Shinomiya dari Shinomiya Bamboo Craft dan Teruko Mitarai dari Merchandising Specialist T-Pot Inc. Bertindak sebagai pembicara tamu adalah Shizuo Tamura Ketua ''Shigaraki Industrial Union'' dan Isao Takeda, mantan Tenaga Ahli JICA di DDSC Bali. (kmb18)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)