Perajin
belum
Sepenuhnya
Kuasai
Informasi
Pasar
Jepang
Denpasar
(Bali Post) -
Produk
kerajinan Bali yang
diorientasikan
untuk
ekspor ke
Jepang
sebenarnya tidak
kalah
saing dengan
produk
sejenis dari
negara-negara lain.
Hanya,
pengetahuan
dan
informasi pasar
Jepang yang
belum
dimiliki perajin
dan
eksportir, sehingga
volume ekspor
kerajinan
ke
Jepang terus
mengalami
penurunan.
Demikian
disampaikan Deputy Program
Manager IFC-Pensa,
Handicraft Export Promotion Program
Feraldi W. Loeis
dan
Pimpinan Design Development Organization Bali I
Made Raka
Metra,
Rabu (27/7) kemarin,
di
sela-sela seminar videoconference Marketable
Handicraft's Design Access for Japan and Production
Skills di
Kuta.
Dikatakan
Feraldi,
kerajinan
bambu
dan keramik
cukup
banyak diminati
konsumen
Jepang
khususnya dan
Amerika
serta Uni
Eropa
pada umumnya.
Bahkan,
produk yang menggunakan
bahan
baku
bambu
kini sedang
diminati
di
negara-negara tersebut.
Hanya,
sejauh
pengamatannya, perajin
maupun
eksportir belum
banyak yang
bisa
masuk ke
pasar
Jepang untuk
menjual
produk-produk ini.
''Produk
kerajinan
dari Bali
tidak
kalah bila
dibandingkan
produk
sejenis dari
negara lain.
Cuma
perajin
belum mengetahui
trend dan
permintaan
pasar
Jepang saja,''
katanya.
Ditambahkan
Raka,
selama ini
perajin
cenderung memproduksi
kerajinan yang
tidak
sesuai dengan
selera
pasar Jepang.
Akibatnya,
produk-produk yang
dihasilkan
sulit
masuk ke
pasar yang
sebenarnya
punya
potensi sangat
besar
tersebut.
Untuk
itu,
dia memandang
perlu
adanya informasi
mengenai trend
dan
permintaan pasar
sehingga
perajin
bisa memproduksi
produk yang
benar-benar
diminati
konsumen
Jepang.
''Melalui
seminar videoconference dengan
expert dari
Jepang
inilah diharapkan
ada
informasi mengenai
produk
atau desain yang
diminati
masyarakat
Jepang,''
jelasnya.
Sementara
itu, JICA Expert on Local
Industry Promotion Chisui
Kurokawa
mengatakan
produk
keramik dan
bambu
memiliki masa
depan
cerah untuk
diekspor
ke
Jepang.
Dia
melihat
di
Bali
sendiri,
produk
dari bahan
dasar
bambu dan
keramik
sedang berkembang,
terutama
untuk
teknik desain
dan
keterampilan produksi.
Guna,
mensikronisasikan produk
yang dibuat
di Bali
dengan keinginan
konsumen
Jepang,
dia menilai sharing
informasi yang
dilakukan
pelaku
kerajinan bambu
di
Jepang
akan sangat
berguna.
Dalam
seminar yang dihadiri
sekitar 100
peserta
ini, dihadirkan
pembicara yang
berbicara
langsung
dari
Jepang lewat
videoconference.
Di
antara
pembicara tersebut,
ada
mantan tenaga
ahli JICA
untuk
promosi desain
bagi UKM
di
Departemen Perindustrian
Koichi Yasui.
Yasui
memiliki
pengalaman 30
tahun
dalam hal
mendesain
kerajinan.
Selain
Yasui, terdapat
dua
pembicara lagi
yakni Yasuhiro
Shinomiya
dari
Shinomiya Bamboo Craft dan
Teruko Mitarai
dari Merchandising
Specialist T-Pot Inc. Bertindak
sebagai
pembicara tamu
adalah
Shizuo Tamura Ketua
''Shigaraki Industrial
Union'' dan Isao Takeda,
mantan
Tenaga Ahli JICA
di DDSC Bali.
(kmb18)