Mendag
Khawatirkan
Penurunan
Penjualan
Ayam
Jakarta (Bali Post) -
Mendag
mengaku
khawatir penurunan
penjualan
ayam di
sejumlah
daerah
bisa mengakibatkan
dampak
negatif berantai,
khususnya
akan
mempengaruhi
peternak
ayam
dan pekerja yang
terlibat
langsung
di
sektor perunggasan.
''Kalau
terus-menerus
penjualan
ayam
potong dan
hidup
turun, kita
khawatir
terhadap
nasib
pedagang ayam
dan
pihak-pihak lain yang
terlibat di
dalamnya,''
kata
Mendag Mari Pangestu
kepada
pers, ketika
meninjau
Pasar
Modern BSD City, di
Tangerang,
Rabu (27/7)
kemarin.
Menurutnya,
mengenai
terjadinya
penurunan
penjualan
ayam
potong, itu
tergantung
lokasinya.
''Memang
ada
lokasi yang penurunan
penjualannya
mencapai 20
persen, 30
persen
dan 50 persen.
Tetapi
ada
juga yang tidak
mengalami
penurunan
seperti
di
Kalimantan dan Bali,''
katanya.
Khusus
di
Tangerang, Mendag
seusai
melakukan perbincangan
dengan
para pedagang
ayam
potong dan
hidup
mengatakan telah
terjadi
penurunan penjualan
yang cukup
signifikan,
dan hal
itu
dialami oleh
hampir
semua pedagang
ayam
potong di
kawasan
tersebut.
Salah
seorang
pedagang ayam
potong,
Siti, mengaku
konsumen yang
berbelanja
di
pasar bersangkutan
mengaku
sangat terpengaruh
dengan virus flu
burung,
sehingga kalau
sebelumnya
dalam
sehari biasanya
bisa
menjual 100 ekor,
tetapi
sejak minggu
ini rata-rata
hanya
terjual 20 ekor.
''Sepi
Bu penjualan
ayam
potong kali ini
akibat flu
burung.
Kami
minta
tolong kepada
pemerintah agar
bisa
mengantisipasi situasi
ini agar
tidak
berlangsung lama,'' pintanya
kepada
Mendag.
Akibat
sepinya
penjualan ayam
potong,
harganya pun menjadi
turun
drastis dari
semula
Rp 14.000/ekor menjadi
Rp 12.500/
ekor.
Sementara
penjualan
telor
ayam relatif
tidak
mengalami penurunan
dan
harganya stabil
sekitar
Rp 9.000/kg.
Menurut
Mendag Mari,
pemerintah
selama
ini terus
melakukan
sosialisasi
kepada
masyarakat mengenai
tidak
berbahayanya mengkonsumsi
daging
ayam, karena
sekalipun
daging
ayam yang jika
kena virus flu
burung
maka virus tersebut
akan
mati jika
dimasak
dengan benar
dengan
suhu 80 derajat
Celcius
selama satu
menit. ''Bersama
Deptan
dan Depkes,
kita
akan terus
mensosialisasikan
bahwa
mengkonsumsi daging
dan
telor
ayam
itu
sehat jika
dimasak
dengan benar,''
kata
Mendag.
Pintu
Masuk
Sementara
itu,
mantan Ketua
Himpunan
Kerukunan
Tani Indonesia (HKTI)
Siswono
Yudhohusodo beranggapan,
kunci
penanggulangan flu burung
yang mewabah
kembali
di tanah air
adalah
menemukan pintu
masuknya
benih virus,
sehingga
masuk
ke daerah
sentra
peternakan.
Sayangnya,
hingga
kini pemerintah
belum
mampu melacaknya.
''Saya
rasa,
apa yang dilakukan
pemerintah
dengan
membakar babi-babi
dan
unggas lainnya
sia-sia,
karena
hal tersebut
cuma
menimbulkan efek
jera.
Sedangkan
lalu
lintas virus pada
unggas yang
terkontaminasi
begitu
terbuka,'' ujar
Siswono
kepada pers
kemarin.
Siswono
mengaku
mendengar di
Sumatera
Utara, virus flu
burung
masuk melalui
impor
telur beku.
''Tetapi
harus
dipastikan betul
oleh
pemerintah dan
jika
benar, harus
ditutup,''
terangnya.
Tindakan
pemusnahan yang
dilakukan
pemerintah, saran
Siswono,
harus
diikuti tindakan
penutupan
jalur
masuk virus AI.
''Ini
dua hal
berbeda.
Ada
tindakan
preventif
ada pula
represif,''
ujarnya.
Mantan
Menteri
Perumahan ini
mengingatkan,
faktor
kebersihan mutlak
dilakukan
para
peternak yang kandangnya
telah
dimusnahkan, dan
dipastikan
sudah
bebas dari virus,
sebelum
meneruskan kembali
usaha
ternaknya.
''Jangan
ditangani
kulitnya
saja.
Jika
sudah
ditemukan ada
wilayah yang
sudah
terjangkit, daerah
itu
bisa diisolir agar
jangan
sampai terjadi
mutasi
ternak,'' terangnya.
(kmb1)