kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 28 Juli 2005

 Ekonomi


Mendag
Khawatirkan Penurunan Penjualan Ayam

Jakarta (Bali Post) -
Mendag
mengaku khawatir penurunan penjualan ayam di sejumlah daerah bisa mengakibatkan dampak negatif berantai, khususnya akan mempengaruhi peternak ayam dan pekerja yang terlibat langsung di sektor perunggasan. ''Kalau terus-menerus penjualan ayam potong dan hidup turun, kita khawatir terhadap nasib pedagang ayam dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya,'' kata Mendag Mari Pangestu kepada pers, ketika meninjau Pasar Modern BSD City, di Tangerang, Rabu (27/7) kemarin.

Menurutnya, mengenai terjadinya penurunan penjualan ayam potong, itu tergantung lokasinya. ''Memang ada lokasi yang penurunan penjualannya mencapai 20 persen, 30 persen dan 50 persen. Tetapi ada juga yang tidak mengalami penurunan seperti di Kalimantan dan Bali,'' katanya.

Khusus di Tangerang, Mendag seusai melakukan perbincangan dengan para pedagang ayam potong dan hidup mengatakan telah terjadi penurunan penjualan yang cukup signifikan, dan hal itu dialami oleh hampir semua pedagang ayam potong di kawasan tersebut.

Salah seorang pedagang ayam potong, Siti, mengaku konsumen yang berbelanja di pasar bersangkutan mengaku sangat terpengaruh dengan virus flu burung, sehingga kalau sebelumnya dalam sehari biasanya bisa menjual 100 ekor, tetapi sejak minggu ini rata-rata hanya terjual 20 ekor. ''Sepi Bu penjualan ayam potong kali ini akibat flu burung. Kami minta tolong kepada pemerintah agar bisa mengantisipasi situasi ini agar tidak berlangsung lama,'' pintanya kepada Mendag.

Akibat sepinya penjualan ayam potong, harganya pun menjadi turun drastis dari semula Rp 14.000/ekor menjadi Rp 12.500/ ekor. Sementara penjualan telor ayam relatif tidak mengalami penurunan dan harganya stabil sekitar Rp 9.000/kg.

Menurut Mendag Mari, pemerintah selama ini terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tidak berbahayanya mengkonsumsi daging ayam, karena sekalipun daging ayam yang jika kena virus flu burung maka virus tersebut akan mati jika dimasak dengan benar dengan suhu 80 derajat Celcius selama satu menit. ''Bersama Deptan dan Depkes, kita akan terus mensosialisasikan bahwa mengkonsumsi daging dan telor  ayam itu sehat jika dimasak dengan benar,'' kata Mendag.

 

Pintu Masuk

 

Sementara itu, mantan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudhohusodo beranggapan, kunci penanggulangan flu burung yang mewabah kembali di tanah air adalah menemukan pintu masuknya benih virus, sehingga masuk ke daerah sentra peternakan. Sayangnya, hingga kini pemerintah belum mampu melacaknya. ''Saya rasa, apa yang dilakukan pemerintah dengan membakar babi-babi dan unggas lainnya sia-sia, karena hal tersebut cuma menimbulkan efek jera. Sedangkan lalu lintas virus pada unggas yang terkontaminasi begitu terbuka,'' ujar Siswono kepada pers kemarin.

Siswono mengaku mendengar di Sumatera Utara, virus flu burung masuk melalui impor telur beku. ''Tetapi harus dipastikan betul oleh pemerintah dan jika benar, harus ditutup,'' terangnya.

Tindakan pemusnahan yang dilakukan pemerintah, saran Siswono, harus diikuti tindakan penutupan jalur masuk virus AI. ''Ini dua hal berbeda. Ada tindakan preventif ada pula represif,'' ujarnya.

Mantan Menteri Perumahan ini mengingatkan, faktor kebersihan mutlak dilakukan para peternak yang kandangnya telah dimusnahkan, dan dipastikan sudah bebas dari virus, sebelum meneruskan kembali usaha ternaknya. ''Jangan ditangani kulitnya saja. Jika sudah ditemukan ada wilayah yang sudah terjangkit, daerah itu bisa diisolir agar jangan sampai terjadi mutasi ternak,'' terangnya.  (kmb1)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)