kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 28 Juli 2005

 Ekonomi


Menurun
, Kesejahteraan Petani

Jakarta (Bali Post)-
Kesejahteraan
petani Indonesia berdasarkan sensus pertanian 2003 mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Hal ini disebabkan pendapatan dan kualitas petani yang juga menurun. Akibatnya, tingkat pendidikan petani cenderung tidak pernah meningkat. Demikian hasil sesus pertanian 2003 yang disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum di Jakarta, Rabu (27/7) kemarin.

Tetapi, menurutnya, tidak semua sektor pertanian mengalami penurunan. Sektor yang tingkat kesejahteraannya rendah adalah petani tanaman pangan. Sedangkan petani perkebunan justru memperlihatkan kecenderungan naik. Indikator lainnya, dapat dilihat dari makin meningkatnya petani gurem, yakni dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektar. Dengan luas yang hanya sebesar itu secara ekonomi, menurut Choiril, penghasilan petani diperkirakan tidak mencukupi. Penguasaan lahan petani yang mengecil itu terutama terjadi di wilayah Pulau Jawa. Salah satu penyebabnya adalah tradisi warisan yang mengharuskan lahan persawahan dibagi ke beberapa ahli warisnya. Selain itu, banyak juga petani yang mengalihkan lahannya di luar non pertanian karena dianggap lebih menguntungkan.

Data BPS juga menyebutkan jumlah rumah tangga petani gurem di pedesaan seluruh Indonesia mencapai 10.549.420 rumah tangga. Sementara di perkotaan rumah tangga petani gurem 2.703.890. Dari survei pendapatan petani 2004 di delapan propinsi, BPS menemukan bahwa di Jawa dan NTB lebih dari separuh rumah tangga pertanian mengusahakan lahan kurang dari 0,5 ha (petani gurem). Khusus untuk Bali jumlah petani guram di perkotaan mencapai 67.322, NTT 21.964 dan NTB 70.384 rumah tangga. Sedangkan di pedesaan masing-masing adalah 151.202, 178.654 dan 210.786 rumah tangga petani gurem.

Masalah lain yang dihadapai adalah pendidikan petani juga masih rendah, tanaman padi masih mendominasi penghasilan rumah tangga terutama rumah tangga pertanian tanaman pangan. ''Juga ditemukan bahwa baru sedikit petani yang menerima bantuan dari pemerintah,'' jelas Choiril.

Menurut data sensus itu sektor tanaman pangan dan perkebunan mempunyai peranan besar dalam menciptakan pendapatan. Sensus pertanian 2003 ini dimaksudkan untuk menghasilkan data yang dapat digunakan untuk penentuan kebijakan pemerintah. Dari hasil sensus tersebut jumlah rumah tangga pertanian secara absolut meningkat. Tercatat di perkotaan rumah tangga pertanian 3.727.402, sementara di pedesaan rumah tangga pertanian tercatat 21.141.273. Sementara persentase rumah tangga pertanian terhadap total rumah tangga menurun. Disebutkan, total rumah tangga di perkotaan sebanyak 22.704.483. Di pedesaan total rumah tangga sebanyak 30.199.812. Sedang hasil sensus pertanian terhadap rumah tangga padi dan palawija menunjukkan kenaikan. Sebagian besar rumah tangga palawija mengusahakan komunitas jagung, kacang tanah dan ubi kayu. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)