Menurun,
Kesejahteraan
Petani
Jakarta (Bali Post)-
Kesejahteraan
petani Indonesia
berdasarkan
sensus
pertanian 2003 mengalami
penurunan
dibandingkan
sebelumnya.
Hal ini
disebabkan
pendapatan
dan
kualitas petani yang
juga
menurun.
Akibatnya,
tingkat
pendidikan petani
cenderung
tidak
pernah meningkat.
Demikian
hasil
sesus pertanian 2003
yang disampaikan
Kepala
Badan Pusat
Statistik (BPS)
Choiril
Maksum di Jakarta,
Rabu (27/7)
kemarin.
Tetapi,
menurutnya,
tidak
semua sektor
pertanian
mengalami
penurunan.
Sektor
yang tingkat
kesejahteraannya
rendah
adalah petani
tanaman
pangan.
Sedangkan
petani
perkebunan justru
memperlihatkan
kecenderungan
naik.
Indikator
lainnya,
dapat
dilihat dari
makin
meningkatnya petani
gurem,
yakni dengan
luas
lahan kurang
dari 0,5
hektar.
Dengan
luas yang
hanya
sebesar itu
secara
ekonomi, menurut
Choiril,
penghasilan
petani
diperkirakan tidak
mencukupi.
Penguasaan
lahan
petani yang mengecil
itu
terutama terjadi
di
wilayah Pulau
Jawa.
Salah
satu
penyebabnya adalah
tradisi
warisan yang mengharuskan
lahan
persawahan dibagi
ke
beberapa ahli
warisnya.
Selain
itu,
banyak juga
petani yang
mengalihkan
lahannya
di luar
non pertanian
karena
dianggap lebih
menguntungkan.
Data BPS juga
menyebutkan
jumlah
rumah tangga
petani
gurem di
pedesaan
seluruh Indonesia
mencapai 10.549.420
rumah
tangga.
Sementara
di
perkotaan rumah
tangga
petani gurem
2.703.890. Dari survei
pendapatan
petani 2004
di
delapan propinsi, BPS
menemukan
bahwa
di Jawa
dan NTB
lebih dari
separuh
rumah tangga
pertanian
mengusahakan
lahan
kurang dari 0,5 ha (petani
gurem).
Khusus
untuk
Bali
jumlah
petani guram
di
perkotaan mencapai
67.322, NTT 21.964 dan NTB
70.384 rumah
tangga.
Sedangkan
di
pedesaan masing-masing
adalah 151.202, 178.654
dan 210.786
rumah
tangga petani
gurem.
Masalah
lain yang
dihadapai
adalah
pendidikan petani
juga
masih rendah,
tanaman
padi masih
mendominasi
penghasilan
rumah
tangga terutama
rumah
tangga pertanian
tanaman
pangan. ''Juga
ditemukan
bahwa
baru sedikit
petani yang
menerima
bantuan
dari pemerintah,''
jelas
Choiril.
Menurut
data sensus
itu
sektor tanaman
pangan
dan perkebunan
mempunyai
peranan
besar dalam
menciptakan
pendapatan.
Sensus
pertanian 2003
ini
dimaksudkan untuk
menghasilkan data yang
dapat
digunakan untuk
penentuan
kebijakan
pemerintah.
Dari hasil
sensus
tersebut jumlah
rumah
tangga pertanian
secara
absolut meningkat.
Tercatat
di
perkotaan rumah
tangga
pertanian 3.727.402,
sementara di
pedesaan
rumah
tangga pertanian
tercatat 21.141.273.
Sementara
persentase
rumah
tangga pertanian
terhadap total
rumah
tangga menurun.
Disebutkan,
total rumah
tangga
di perkotaan
sebanyak 22.704.483.
Di
pedesaan total rumah
tangga
sebanyak 30.199.812.
Sedang
hasil
sensus pertanian
terhadap
rumah
tangga padi
dan
palawija menunjukkan
kenaikan.
Sebagian
besar
rumah tangga
palawija
mengusahakan
komunitas
jagung,
kacang tanah
dan ubi
kayu.
(kmb2)