Jelang
Konferda PDI-P
...
Menunggu
Tampilnya Elite
Politik
Profesional
KONFERDA
PDI-P Bali tinggal
tiga
hari lagi.
Namun,
aksi
dan reaksi
menjelang
suksesi
pimpinan DPD PDI-P Bali
telah bergulir lama
dan
panas.
Kader
partai
mulai dari
anak ranting
hingga DPC
sibuk
melakukan manuver
untuk
meloloskan jagonya.
Hasilnya,
sejumlah
nama
telah
diusung untuk
dinominasikan.
Ada
Cok.
Ratmadi,
Alit Kelakan, IB
Wesnawa,
Adi
Wiryatama dan
Winasa.
Nama-nama
ini
adalah figur
mantan
pejabat dan
pejabat
teras dalam
pemerintahan
di Bali.
Peta
kekuatan sang kandidat
ketua DPD PDI-P Bali pun
mulai
terbaca menyusul
telah
dilakukannya rangkaian
konfercabsus
di
kabupaten/kota.
Tampaknya
bagi PDI-P
permasalahannya
bukan
sekadar melakukan
pergantian
ketua DPD.
Fakta
politik
menunjukkan, PDI-P mengalami
degradasi
dukungan
setelah
masa jayanya
tahun 1999.
Bahkan,
dalam
Pemilu 2004 dukungan
PDI-P melorot
sampai 25
persen.
Sejumlah
kadernya
ada yang
lompat
pagar dan
terpaksa
meninggalkan
kandang
karena dipecat.
Fakta
lainnya
adalah tak
berdayanya PDI-P
menguasai
kemenangan
di
lima
kabupaten/kota
saat
pilkada lalu.
Dua
posisi
bupati melayang,
padahal
di Karangasem
dan
Badung, suara PDI-P
dominan.
Setidaknya
kekuasaan PDI-P
tercermin
dari
dominasi wakil
rakyatnya
di
legislatif.
Fakta
ini
setidaknya menggambarkan
bahwa
telah terjadi
migrasi
kepercayaan publik
terhadap
figur PDI-P.
PDI-P selaku
partai
dominan di Bali
haruslah
segera
melakukan evaluasi
kinerja
partai selain
melakukan
inovasi
dalam pengelolaan
partai.
Setidaknya,
mantan
pengurus DPC PDI-P Kota
Denpasar I Nyoman
Gede
Subrata Lempung, S.H.
mengingatkan agar
kader PDI-P
khususnya
fungsionaris
untuk
segera kembali
pada AD/ART
dan
mentabukan rangkap
jabatan
dalam pengelolaan
partai.
Pimpinan
partai yang
sibuk
akan
membuat
hubungan dengan
kader
menjauh.
Risikonya,
PDI-P yang merupakan
partai
tradisional bagi
masyarakat
Bali bisa
dianggap
asing
karena terputusnya
komunikasi.
Mantan
Wakil
Ketua DPRD Kota Denpasar
ini
selanjutnya berkomentar,
kiprah PDI-P
mengorbitkan
kader
muda dalam
percaturan
politik
ke depan
dinilai ideal.
Namun,
tetap harus
diingat
dalam sistem
politik yang
berbasis
massa,
ketokohan
harus
mendapat porsi yang
jelas.
''PDI-P harus
membangun
kembali
kepercayaan publik
yang telanjur
telah
memiliki penilaian
miring.
Untuk
itu,
dalam konferda
mendatang
ruang
demokrasi harus
dibangun agar
semua
aspirasi terwadahi,''
sarannya.
Selebihnya,
kader PDI-P
nonstruktural I
Gusti
Bagus Yudhara, MBA
berharap PDI-P
jangan
hanya berkutat
pada
sesi pembicaraan
figur.
Hal mendesak
yang harus
dilakukan
adalah
melahirkan program strategis
untuk
mengakomodasi kekuatan
partai.
''Partai
haruslah
dekat
dengan kadernya.
Partai
jangan dijadikan
rumah
untuk mencari
wibawa
dn
kekuasaan,''
sarannya.
Praktisi
pariwisata yang
juga
Konsul Kehormatan
Meksiko
ini mengatakan,
tanpa program yang
jelas,
pimpinan partai
tak
akan
berdaya.
Ia
akan
lumpuh dan
krisis
inovasi. Padahal,
dalam era
multipartai,
kreasi
politik dan
strategi
akan
sangat
menentukan.
Pemimpin
Profesional
Sekretaris
PAC PDI-P Denpasar
Barat I
Wayan Darsa,
S.Sos.
malah
melihat
ketokohan dan
etika
akan menjadikan PDI-P
tetap
disegani.
Dalam
memulihkan
kembali
apriori masyarakat
terhadap
politisi PDI-P,
konferda
mendatang
hendaknya
bisa
melahirkan ketua
partai yang
profesional.
Pimpinan
PDI-P harus
memiliki
waktu
banyak untuk
mengakomodasi
kepentingan
kadernya
serta
masyarakat sekitarnya.
''Memilih
ketua DPD PDI-P
haruslah
berangkat
dari
etika dan
potensi
kandidat,'' jelasnya.
Selebihnya,
Subrata
Lempung berharap agar
pimpinan
partai
introspeksi,
bukan
hanya bisa
menyalahkan.
Ia
berharap agar
kader-kader
muda PDI-P
benar-benar
bisa
membangun komunikasi
dengan
semua lini
termasuk media
untuk
membangun pencitraan
partai.
Keterpurukan PDI-P dalam
lima
tahun
terakhir dinilai
akibat
lemahnya kecakapan
dalam
mendekati wong
cilik
selaku basis
massa
partai.
(dir)