kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 28 Juli 2005

 Bali


Jelang
Konferda PDI-P   ...
Menunggu
Tampilnya Elite Politik Profesional

KONFERDA PDI-P Bali tinggal tiga hari lagi. Namun, aksi dan reaksi menjelang suksesi pimpinan DPD PDI-P Bali telah bergulir lama dan panas. Kader partai mulai dari anak ranting hingga DPC sibuk melakukan manuver untuk meloloskan jagonya.

Hasilnya, sejumlah nama telah diusung untuk dinominasikan. Ada Cok. Ratmadi, Alit Kelakan, IB Wesnawa, Adi Wiryatama dan Winasa. Nama-nama ini adalah figur mantan pejabat dan pejabat teras dalam pemerintahan di Bali. Peta kekuatan sang kandidat ketua DPD PDI-P Bali pun mulai terbaca menyusul telah dilakukannya rangkaian konfercabsus di kabupaten/kota.

Tampaknya bagi PDI-P permasalahannya bukan sekadar melakukan pergantian ketua DPD. Fakta politik menunjukkan, PDI-P mengalami degradasi dukungan setelah masa jayanya tahun 1999. Bahkan, dalam Pemilu 2004 dukungan PDI-P melorot sampai 25 persen. Sejumlah kadernya ada yang lompat pagar dan terpaksa meninggalkan kandang karena dipecat.

Fakta lainnya adalah tak berdayanya PDI-P menguasai kemenangan di lima kabupaten/kota saat pilkada lalu. Dua posisi bupati melayang, padahal di Karangasem dan Badung, suara PDI-P dominan. Setidaknya kekuasaan PDI-P tercermin dari dominasi wakil rakyatnya di legislatif. Fakta ini setidaknya menggambarkan bahwa telah terjadi migrasi kepercayaan publik terhadap figur PDI-P.

PDI-P selaku partai dominan di Bali haruslah segera melakukan evaluasi kinerja partai selain melakukan inovasi dalam pengelolaan partai. Setidaknya, mantan pengurus DPC PDI-P Kota Denpasar I Nyoman Gede Subrata Lempung, S.H. mengingatkan agar kader PDI-P khususnya fungsionaris untuk segera kembali pada AD/ART dan mentabukan rangkap jabatan dalam pengelolaan partai. Pimpinan partai yang sibuk akan membuat hubungan dengan kader menjauh. Risikonya, PDI-P yang merupakan partai tradisional bagi masyarakat Bali bisa dianggap asing karena terputusnya komunikasi.

Mantan Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar ini selanjutnya berkomentar, kiprah PDI-P mengorbitkan kader muda dalam percaturan politik ke depan dinilai ideal. Namun, tetap harus diingat dalam sistem politik yang berbasis massa, ketokohan harus mendapat porsi yang jelas.

''PDI-P harus membangun kembali kepercayaan publik yang telanjur telah memiliki penilaian miring. Untuk itu, dalam konferda mendatang ruang demokrasi harus dibangun agar semua aspirasi terwadahi,'' sarannya.

Selebihnya, kader PDI-P nonstruktural I Gusti Bagus Yudhara, MBA berharap PDI-P jangan hanya berkutat pada sesi pembicaraan figur. Hal mendesak yang harus dilakukan adalah melahirkan program strategis untuk mengakomodasi kekuatan partai. ''Partai haruslah dekat dengan kadernya. Partai jangan dijadikan rumah untuk mencari wibawa dn kekuasaan,'' sarannya.

Praktisi pariwisata yang juga Konsul Kehormatan Meksiko ini mengatakan, tanpa program yang jelas, pimpinan partai tak akan berdaya. Ia akan lumpuh dan krisis inovasi. Padahal, dalam era multipartai, kreasi politik dan strategi akan sangat menentukan.

 

Pemimpin Profesional

 

Sekretaris PAC PDI-P Denpasar Barat I Wayan Darsa, S.Sos. malah melihat ketokohan dan etika akan menjadikan PDI-P tetap disegani. Dalam memulihkan kembali apriori masyarakat terhadap politisi PDI-P, konferda mendatang hendaknya bisa melahirkan ketua partai yang profesional. Pimpinan PDI-P harus memiliki waktu banyak untuk mengakomodasi kepentingan kadernya serta masyarakat sekitarnya. ''Memilih ketua DPD PDI-P haruslah berangkat dari etika dan potensi kandidat,'' jelasnya.

Selebihnya, Subrata Lempung berharap agar pimpinan partai  introspeksi, bukan hanya bisa menyalahkan. Ia berharap agar kader-kader muda PDI-P benar-benar bisa membangun komunikasi dengan semua lini termasuk media untuk membangun pencitraan partai. Keterpurukan PDI-P dalam lima tahun terakhir dinilai akibat lemahnya kecakapan dalam mendekati wong cilik selaku basis massa partai. (dir)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)