Warung Global
Iklim Investasi di Indonesia Kurang Aman
Bank dunia memberi warning (peringatan) kepada Indonesia
terkait dengan penurunan investasi yang terjadi dan juga
karena gagal mempertahankan investasi, demikian kata
Ketua Komisi VI DPR-RI Khofifah Indar Parawansa di
Padang, Selasa (26/7).
Bank Dunia itu sudah bertahun-tahun
memberi bantuan kepada
Indonesia dan di
dalamnya duduk orang-orang profesional, tetapi kenapa
tidak tahu watak Indonesia.
Bank Dunia kelihatannya terlalu
hati-hati untuk menyinggung korupsi di
Indonesia,
mungkin ini dianggap urusan pribadi.
Banyaknya biaya siluman dan keamanan
yang tidak terjamin mungkin menjadi poin utama yang
mereka perhitungkan. Demikian pernyataan yang
terungkap Rabu (27/7) kemarin dalam acara Warung Global
di Radio Global FM 96,5 yang
direlai Radio Singaraja FM dan Radio Genta Bali.
Berikut rangkuman
selengkapnya.
==========================================================
Alit di Kapal mengatakan kalau bicara iklim investasi
dan iklim ekonomi maka jangan sampai melupakan
apa yang sudah terjadi dalam
kurun waktu 30 tahun terakhir ini.
Siapa yang mengajarkan kepada bangsa kita untuk belajar
KKN. Bank Dunia tentu sudah
tahu situasi ini.
Alit juga bertanya, ada apa
dengan Bank Dunia pascareformasi ini. Dan, dirinya yakin
pasti Bank Dunia sudah mengagendakan untuk 30 tahun yang
akan datang.
Penjarahan terhadap
Indonesia ini
sebenarnya sangat besar-besaran.
Jika diminta iklim investasi yang
kondusif maka harus dikembalikan pertumbuhan negara dan
produktivitas masyarakat.
Selama ini yang menyebabkan tingkat produktivitas dan
lemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini siapa yang
membuat dan siapa yang memanjakannya, tentu dari
utang-utang Indonesia yang terdahulu.
Social cost akibat yang terjadi
setelah terjadi dalam kurun 30 tahun berutang itu banyak
sekali. Dan, sepertinya
Indonesia ini
sengaja dibuat supaya berutang.
Alit juga mengatakan yang terjadi sekarang tingkat
prduktivitas masyarakat rendah, konsumerisme tinggi,
daya saing rendah. Contoh ketika pemberantasan judi
seperti sekarang apa yang
terjadi di masyarakat ternyata masyarakat tidak siap.
Masyarakat sekarang surplus waktunya
berlebihan sehingga senang ngerumpi. Sikap
Indonesia ketika di-warning Bank Dunia tentu adalah
mengevaluasi kembali iklim investasi yang
akan dibuka kepada negara
maju. Kemudian proteksi pada dunia
pertanian harus digiatkan kembali.
Apakah sekarang elit pemerintah
punya komitmen untuk berdikari atau kita harus
mensyukuri rasa lapar dahulu baru kemudian negosiasi
dengan Bank Dunia.
UUD PMA
Sementara itu, Antonius di Tabanan mengatakan minimnya
penanaman modal asing di Indonesia.
Sudah banyak
Indonesia
ditinggal oleh investor asing seperti Sony mundur dari
Indonesia dan lain-lain.
Sebenarnya sejak zaman rezim Megawati disinyalir sudah
banyak yang akan hengkang
dari Indonesia. Oleh karena itu, banyak yang harus
dilakukan oleh negara Indonesia dalam melibatkan
investor asing antara lain
perangkat undang-undang. Semasa rezim Soeharto begitu
beliau berkuasa langsung ada UU PMA No. 1 tahun 1967
yang membuka pintu Indonesia selebarnya bagi para
investor dari luar negeri.
Apakah UU PMA itu sudah dicabut, ini yang menjadi
pertanyaan Antonius sehubungan dengan pernyataan Kofifah
yang menyatakan harus ada undang-undang penanaman modal
asing.
Kalau nantinya ada undang-undang
baru PMA tentu semua tergantung dari insan-insan penegak
hukum. Kalau tidak ada kemauan dan tekad insan
penegak hukum bagaiaman pun baiknya peraturan/undang-undang
akan menjadi mubazir saja.
Contoh bila masalah korupsi tidak
ada tekad kuat untuk benar-benar membasmi adalah
tindakan yang percuma. Tentu
perangkat hukumnya harus berperan.
Bank Dunia kelihatannya terlalu
hati-hati untuk menyinggung korupsi di
Indonesia,
mungkin ini dianggap urusan pribadi Indonesia.
Banyaknya
biaya siluman dan keamanan yang tidak terjamin mungkin
menjadi poin utama yang mereka perhitungkan.
Nang Tualen di Tabanan mengatakan Bank Dunia benar-benar
membuat ulah di Indonesia.
Indonesia
menjadi keblinger.
Sebagai orang awam seandainya dirinya jadi Bank Dunia
aturan di Indonesia yang begitu banyak ini
akan membuat bingung.
Ia menyarankan agar kita
tidak terlalu emosi menyikapi warning mereka.
Dikatakan Namg Tualen, harus ada kearifan di dalam
berpikir. Bank Dunia harus diberi
kepastian oleh pemerintah tentang peraturan di
Indonesia dalam
menangani berbagai jenis korupsi.
Dan, dirinya menyambut baik kalau
sistem penegakan hukum dan penanganan koruspi sedang
dicari dan dipelajari yaitu dengan keberangkatan SBY ke
Cina. Semoga SBY berhasil.
Jero Wijaya di Kintamani mengatakan bukan hanya Bank
Dunia saja yang me-warning Indonesia, termasuk IMF, ADB
dan yang lainnya harus memberi warning kepada Indonesia.
Mengapa demikian? Dirinya
melihat di Jawa Tengah ada bupati didemo oleh masyarakat
karena terlalu banyak memotong dana
proyek. Banyak jenis kasus-kasus
korupsi seperti itu. Di
Bangli juga ada proyek yang sudah dua tahun belum
terselesaikan. Dana proyek
itu sudah habis tetapi proyek tidak diselesaikan.
Di Indonesia ini paling banyak
adalah koruptor yang notabene orang nomor 1 dan 2 di
masing-masing daerahnya.
Ditinggal Investor
Natri Udiani di Denpasar mengatakan Indonesia ini sudah
nyata sekali ditinggalkan investor.
Lihat saja Mitsubishi, Sony,
hengkang dari
Indonesia, siapa
lagi yang menyusul tentu ini memprihatinkan.
Artinya, pemerintah benar-benar tidak bisa memberikan
iklim yang sejuk di Indonesia.
Apalagi
Indonesia sudah
dicap sarangnya teroris.
Kalau SBY bisa menghilangkan kesan itu tentu investasi
akan tumbuh lagi dan akan
seperti jamur di musim hujan.
Dengan hengkangnya Sony, Mitsubishi, tentu berdampak
pada jumlah pengangguran.
Mohon SBY jangan sering-sering ke
luar negeri dan legislatif juga jangan ikut ke luar
negeri. Jangan jor-joran semua ingin menikmati
devisa, tetapi tidak bisa mendatangkan devisa.
Ekspor juga sedang jeblok, tidak ada
yang meningkat.
Suardana di Gubug mengatakan lebih baik kita berhenti
saja berhubungan dengan Bank Dunia.
Indonesia,
menurut Suardana, sudah kebanyakan duit, buktinya para
pejabatnya keluyuran ke luar negeri.
Indonesia sudah
mendapatkan bantuan uangnya sudah dibawa ke luar negeri
malah ada proyek pekerjaannya nungkak.
Contoh di daerahnya ada proyek
bantuan Jepang untuk pemotongan hewan juga nungkak tidak
tahu kapan selesai. Apa
sih gunanya sekaranng kita meminjam lagi ke Bank Dunia.
Apalagi sekarang pejabat dan DPR
kita banyak diberikan bonus perumahan, mobil, padahal
itu uang pinjaman juga.
Putuskan saja hubungan kita dengan Bank Dunia.
Nuarta di Denpasar mengatakan dirinya setuju memutuskan
hubungan dengan Bank Dunia.
Tetapi, apakah
Indonesia mampu
berdikari?
Kalau mampu itu sah-saha saja.
Namun, perlu diingat kita adalah negara yang baru
berkembang dan Indonesia kelihatannya masih membutuhkan
negara lain, wajar Bank Dunia
memberikan warning. Solusinya, tegakkan peraturan hukum,
baru kita berani putus dengan bantuan negara lain.
Apalagi uang
kita banyak dikorup.
Gudes di Tabanan mengatakan investasi selalu saja
berhubungan dengan situasi aman.
Masalah KKN Indonesia selalu kecenderungan pada
birokrasi yaitu pada cost yang mahal.
Kebocoran investasi 30 persen inilah
yang menimbulkan masalah bagi investor.
Jadi
Indonesia ini
belum terwujud sebagai kawasan yang aman untuk investasi.
Negara lain seperti
Thailand sudah punya daerah yang aman.
Dan, ia melihat gerak
masyarakat Indonesia masih labil dan gampang dipengaruhi
unsur-unsur tertentu, sehingga sering menimbulkan
kerugian bagi fasilitas investasi.
Ini jelas mengundang keraguan. Padahal investasi
justru akan berhubungan
dengan peningkatan ekonomi, misalnya menangani
pengangguran dan daya beli masyarakat.
Tetapi, Gudes menilai saat ini sudah
mulai ada komitmen yang jelas yaitu gencarnya
pemberantasan korupsi dari SBY.
Lain lagi dengan Made Sura di Tegallalang.
Ia mengatakan pemberian
warning ini juga bentuk kegagalan dari Bank Dunia.
Bank Dunia itu sudah bertahun-tahun
memberi bantuan kepada
Indonesia dan di
dalamnya duduk orang-orang profesional, tetapi kenapa
tidak tahu watak Indonesia.
Bank kecil seperti BPR saja akan
bertindak bila satu dua kali gagal, kenapa Bank Dunia
tidak seperti itu.
Ini benar-benar sangat lucu.
*
bram