kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 4 Mei 2005

 Nusatenggara


Terancam
, Lima Anggota KPUD Dompu Diungsikan di Polres  

Dompu (Suara NTB) -
Pasca
penetapan bakal calon bupati dan wakil bupati (bacabup/bacawabup) Dompu yang menghasilkan lima bakal calon lolos untuk seleksi tahap berikutnya, mengundang protes dari pendukung bakal calon (balon) yang gugur. Aksi massa yang memprotes keputusan KPUD Dompu sejak Jumat (29/4) lalu hingga Selasa (3/5), belum surut. Keselamatan para anggota KPUD setempat terancam, hingga terpaksa polisi mengungsikan lima anggota penyelenggara pemilu dan pilkada itu di Polres Dompu.

Kapolres Dompu AKBP Drs. Suyata yang dikonfirmasi via telepon Selasa (3/5) malam kemarin, mengakui bahwa situasi politik di Dompu kian memanas. Karena pertimbangan itu, sejak Jumat lalu, lima anggota KPUD Dompu -- Ir. Rusdi (Ketua) dan empat anggota kelompok kerja (Pokja) masing masing Drs. Satria Irawan, Drs. Mahdi, Irvan, S.E. dan Maman, S.H. ''Hingga Selasa ini (kemarin-red), kami belum berani mengizinkan kelimanya ke luar Polres karena situasi politik kian memanas,'' jelas Suyata.

Dijelaskan, aksi massa yang memprotes KPUD Dompu terjadi sejak Jumat lalu menyusul ditetapkannya lima bacabu/bacawabup yang lolos, sementara dua paket lain dinyatakan gugur Kamis (28/4) lalu. Salah satu paket yang dinyatakan tidak lolos verifikasi yakni pasangan Drs. Najib/Rusdi Taufik. Tidak lolosnya paket ini mengundang protes keras dari para pendukungnya.

Sekolompok warga pendukung paket tak lolos ini memprotes hasil keputusan KPUD Dompu Jumat lalu. Protes tersebut menurut Kapolres ditanggapi KPUD dengan menggelar dialog yang difasilitasi DPRD setempat. ''Dialog berlangsung mulai Jumat malam hingga Sabtu lalu dan tanpa menghasilkan kesepakatan,'' terangnya.

Senin (2/5) lalu, direncanakan akan ada penetapan pengundian nomor urut calon yang lolos, namun gagal dilakukan karena kondisi keamanan tak memungkinkan.

Kekecewaan pendukung balon yang tak lolos terus berlanjut dan sedikitnya 300 warga, Selasa (3/5) kemarin menggelar aksi di Kantor KPUD dan Kantor Bupati Dompu, meminta pilkada ditunda. Menurut Kaporles, aksi massa tidak sampai anarkis dan berhasil dikendalikan.

Melihat situasi belum kondusif, Polres Dompu selain menurunkan dua pertiga dari seluruh kekuatan yang dimilikinya, juga meminta bantuan ke Bima dan Sumbawa. ''Kami meminta bantuan masing-masing satu peleton Dalmas dari polres Bima dan Sumbawa, karena situasinya semakin memanas,'' terang Kapolres. (049)


Klik di Sini
 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)