Campak
di Indonesia
Program Pencegahan
dan
pemberantasan Campak
di Indonesia
pada
saat ini
berada
pada
tahap reduksi
dengan
pengendalian
dan
pencegahan KLB. Hasil
pemeriksaan sample
darah
dan urine penderita
campak
pada
saat KLB menunjukkan
Igm
positip sekitar 70%
- 100%
Sidang
WHA tahun 1988,
menetapkan
kesepakatan global
untuk
membasmi polio atau
Eradikasi Polio (Rapo),
Eliminasi Tetanus
Neonatorum (ETN)
dan
Reduksi Campak (RECAM)
pada
tahun 2000.
Beberapa
negara
seperti
Amerika,
Australia dan
beberapa
negara
lainnya
telah
memasuki tahap
eliminasi
campak.
Pada
sidang CDC/PAHO/WHO
tahun 1996
menyimpulkan
bahwa
campak dimungkinkan
untuk
dieradikasi, karena
satu-satunya
pejamu (host)
atau reservoir
campak
hanya
pada manusia
dan
adanya vaksin
dengan
potensi yang
cukup
tinggi dengan
effikasi
vanksin 85%.
Diperkirakan
eradikasi
akan
dapat
dicapai 10-15 tahun
setelah
eliminasi.
Program imunisasi
campak
di Indonesia
dimulai
pada
tahun 1982 dan
masuk
dalam pengembangan
program imunisasi.
Pada
tahun 1991,
Indonesia
dinyatakan
telah
mencapai UCI secara
nasional.
Dengan
keberhasilan
Indonesia
mencapai UCI
tersebut
memberikan
dampak
positip
terhadap
kecenderungan
penurunan
insidens
campak,
khususnya
pada
Balita dari
selama
tahun 1992 - 1997 (ajustment
data rutin SST).
Walaupun
imunisasi
campak
telah
mencapai UCI namun
dibeberapa
daerah
masih
terjadi KLB campak,
terutama
di
daerah dengan
cakupan
imunisasi
rendah
atau
daerah kantong.
Pemberantasan
Campak
Pemberantasan
campak
meliputi
beberapa
tahapan,
dengan
kriteria
pada
tiap tahap yang
berbeda-beda.
Tahap
reduksi
campak
dibagi
terdiri
atas
tahap pengendalian
campak.
Pada
tahap
ini terjadi
penurunan
kasus
dan kematian,
cakupan
imunisasi >80%,
dan interval
terjadinya KLB
berkisar
antara 4 - 8
tahun.
Tahap
pencegahan KLB.
Pada
tahun
ini cakupan
imunisasi
dapat
dipertahankan tinggi
dan
merata, terjadi
penurunan
tajam
kasus dan
kematian,
dan interval
terjadinya KLB relative
lebih
panjang.
Tahap
Eliminasi.
Pada
tahap
eliminasi, cakupan
imunisasi
sudah
sangat tinggi
(>95%), dan
daerah-daerah
dengan
cakupan
imunisasi
rendah
sudah
sangat kecil
jumlahnya.
Kasus
campak
sudah
jarang dan KLB
hampir
tidak
pernah terjadi.
Anak-anak
yang dicurigai
tidak
terlindung (susceptible)
harus diselidiki
dan
mendapat imunisasi
tambahan.
Tahap
Eradikasi.
Cakupan
imunisasi
tinggi
dan
merata, dan
kasus
campak sudah
tidak
ditemukan.
Transmisi
virus sudah
dapat
diputuskan, dan
negara-negara
di
dunia sudah
memasuki
tahap
eliminasi. Pada
TCG Meeting, Dakka, 1999,
menetapkan Indonesia
berada
pada
tahap reduksi
dengan
pencegahan
terjadinya KLB.
Tujuan
Reduksi
Campak
Reduksi
campak
bertujuan
menurunkan
angka
insidens campak
sebesar 90%
dan
angka kematian
campak
sebesar 95%
dari
angka sebelum
program imunisasi
campak
dilaksanakan.
Di
Indonesia, tahap
reduksi
campak
diperkirakan
dengan
insiden
menjadi 50/10.000
balita,
dan
kematian 2/10.000 (berdasarkan
SKRT tahun 1982).
Strategi
Reduksi
Campak.
Reduksi
campak
mempunyai 5
strategi
antara
lain imunisasi
rutin.
Imunisasi
Rutin 2 kali,
pada
bayi 9-11 bulan
dan
anak Sekolah
Dasar
Kelas I (belum
dilaksanakan
secara
nasional)
dan
Imunisasi Tambahan
atau
Suplemen.
Surveilans
Campak.
Surveilans
dalam
reduksi campak
di
Indonesia
masih
belum sebaik
surveilans
eradikasi polio.
Kendala
utama yang
dihadapi
adalah
kelengkapan data/laporan
rutin
Rumah Sakit
dan
Puskesmas yang masih
rendah,
beberapa KLB
campak yang
tidak
terlaporkan, pemantauan
dini (SKD KLB)
campak
pada
desa-desa berpotensi
KLB pada
umumnya
belum
dilakukan dengan
baik
terutama di
Puskesmas,
belum
semua unit pelayanan
kesehatan
baik
Pemerintah maupun
Swasta
ikut
berkontribusi melaporkan
bila
menemukan campak.
Angka
Insidens
Insidens
campak
di Indonesia
selama
tahun 1992-2004
dari data
rutin
Rumah sakit
dan
Puskesmas untuk
semua
kelompok umur
cenderung
menurun
dengan
kelengkapan
laporan rata-rata
Puskesmas
kurang
lebih 60%
dan
Rumah sakit 40%.
Penurunan
Insidens paling
tajam
terjadi pada
kelompok
umur
Kejadian Luar
Biasa (KLB).
Dampak
keberhasilan
cakupan
imunisasi
campak
nasional yang
tinggi
dapat
menekan insidens
rate yang cukup
tajam
selama 5 tahun
terakhir.
Namun
di
beberapa desa
tertentu
masih
sering terjadi KLB
campak.
Asumsi
terjadinya KLB
campak
di
beberapa desa
tersebut,
disebabkan
karena
cakupan
imunisasi yang
rendah (90%)
atau
kemungkinan masih
rendahnya
vaksin
effikasi
di
desa tersebut.
Rendahnya
vaksin
effikasi
ini
dapat disebabkan
beberapa
hal,
antara lain kurang
baiknya
pengelolaar:
rantai
dingin
vaksi yang
dibawa
kelapangan,
penyimpanan
vaksin
di
Puskesmas
cara
pemberian
imunisasi yang,
kurang
baik
dan sebagainya.
(litbang,
berbagai
sumber)