Perbankan Tahan Kenaikan Bunga
Jakarta (Bali Post) -
Kalangan perbankan masih akan menahan kenaikan bunga
bank, meski bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
memiliki trend yang terus naik. Paling tidak, inilah
yang dilakukan Bank Permata untuk tidak menjadi
price leader dalam hal bunga perbankan. "Kami tidak mau
jadi price leader. Lihat dululah situasi pasar seperti
apa," kata Direktur Retail Banking Bank Permata Irman A.
Zahiruddin saat meluncurkan program Wish Come True di
Jakarta, Selasa (3/5) kemarin.
Menurutnya, saat ini Bank Permata terus memonitor
kondisi liabilities (kewajiban) secara produk ataupun
region setiap harinya. Hasilnya, manajemen memutuskan
untuk belum saatnya menaikkan bunga pinjaman.
Saat ini, paparnya, tingkat suku bunga dana tabungan
Bank Permata adalah 4,5 persen, sedangkan suku bunga
deposito sekitar 5,5 persen. Angka-angka ini lebih
rendah dari suku bunga penjaminan maksimal ditetapkan
Bank Indonesia. Seperti diketahui, mulai tanggal 1-31
Mei 2005, BI menetapkan suku bunga penjaminan dana pihak
ketiga dalam rupiah adalah 7,51 persen untuk jangka
waktu satu bulan, 7,56 persen untuk tiga bulan, 7,61
untuk enam bulan, 7,17 persen untuk 12 bulan dan 8,06
persen untuk 24 bulan.
Irman mengungkapkan, per 31 Maret 2005, Bank Permata
membukukan laba bersih Rp 131 milyar, meningkat tiga
persen dari tahun lalu. Sedangkan, rasio cukupnya modal
(CAR) 13 persen dengan total aset Rp 29,6 trilyun. Rasio
kredit seret (NPL) turun dari posisi tahun lalu 2,6
persen menjadi 1,4 persen.
Di tempat berbeda, Head of Treasury Sales and Debt
Markets HSBC Radianto Kusumo mengatakan, kenaikan suku
bunga SBI akan mengubah penggunaan uang (kredit) dari
tujuan private consumption (konsumsi) ke sektor
investasi. Artinya, menurut Radianto, kenaikan suku
bunga SBI akan menyebabkan kredit murah dari bank (Cheap
Banking Credit/CBC) berkurang, sehingga penggunaan uang
yang beredar akan beralih dari tujuan konsumsi ke sektor
investasi.
Dia menduga, kenaikan bunga SBI ke depan akan terus
terjadi, mengingat tingkat bunga saat ini merupakan yang
terendah sepanjang sejarh perbankan Indonesia. Akibatnya,
pengurangan kredit murah bank tidak dapat terhindarkan
lagi. "Bank akan memilih untuk menanamkan di SBI lagi,"
tandasnya.
(kmb2)