Mencetak SDM
Hindu Berkualitas---------------
Penguasaan Iptek dan Spiritual harus Imbang
Wacana peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)
saat ini tengah menjadi perbincangan hangat. Terlebih
ketika dikaitkan dengan ''napas'' Hardiknas yang
diperingati tiap tanggal 2 Mei. Perayaan tersebut
sesungguhnya memberi makna bagi kita bahwa peningkatan
kualitas diri hanya bisa dilakukan lewat pendidikan. Itu
berarti lembaga pendidikan sebagai media untuk mencetak
SDM yang berkualitas, mesti mendapat perhatian berbagai
pihak. Sementara dunia pendidikan kita -- khususnya
bernapaskan Hindu -- masih belum mendapat perhatian yang
memadai, di tengah tuntutan SDM yang berkualitas dan
berdaya saing tinggi. Akan sangat mustahil peningkatan
kualitas itu tercapai jika pendidikan insan Hindu --
baik formal maupun nonformal -- terabaikan. Dalam
konteks Hindu, berbagai konsep pun ditawarkan guna "mencetak"
insan-insan Hindu unggul, intelek dan berdaya saing
tinggi tanpa mengabaikan "roh" spiritualitasnya.
Khususnya dari mereka yang peduli serta mau berjuang
aktif untuk kejayaan SDM Hindu di masa datang. Lantas,
dari mana ayunan langkah itu harus dimulai untuk
mewujudkan tujuan mulia tersebut?
PENGASUH
Ashram Gandhi Puri Chatralaya dan Sevagram Agus Indra
Udayana dan Wakil Ketua I Majelis Madya Desa Pakraman
Gianyar I Gusti Agung Putu Yadnya tidak menginginkan
upaya peningkatan kualitas SDM Hindu hanya berkutat
dalam tataran wacana dan konsep "wah" semata. Yang
paling urgen saat ini adalah sebuah aksi yang
diimplementasikan dalam tindakan nyata. "Tidak perlu
muluk-muluk. Kita bisa memulainya dari hal kecil-kecil
saja. Namun, arah dan sasarannya jelas," kata Agus Indra
Udayana yang dibenarkan pula oleh Yadnya kepada Bali
Post, Selasa (3/5) kemarin.
Menurut Udayana dan Yadnya, Hindu sejatinya memandang
pembangunan sektor pendidikan itu sebagai hal yang
sangat urgen. Buktinya, Hindu mengenal masa brahmacari
ashrama atau masa menuntut ilmu yang merupakan tahapan
wajib yang mesti dilalui insan Hindu dalam perjalanan
kehidupannya. Dalam konteks kekinian, masa brahmacari
asrhama itu diimplementasikan ke dalam aktivitas
pendidikan formal dari jenjang pendidikan TK,
SD,
SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan
formal itu saja belum cukup lantaran "kemasannya"
cenderung dititikberatkan pada penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek). Sementara pendidikan
yang ditujukan untuk pembangunan mental dan spiritual --
kendati tetap diberikan porsi -- dinilai belum memadai.
"Kalau kita ingin mencetak insan Hindu yang berkualitas
dalam arti yang sesungguhnya, segi penguasaan iptek dan
spiritualitas itu harus diseimbangkan. Sebab, manusia
pintar tanpa memiliki mental dan spiritualitas yang baik
juga akan sia-sia dan tidak mampu membawa
Bali ke kondisi yang lebih baik," katanya mengingatkan.
Ditambahkan, komitmen peningkatan kualitas SDM Hindu
yang seimbang dari segi penguasaan iptek dan
spiritualitas harus ditumbuhkembangkan sejak manusia
Hindu itu menginjak usia sekolah dasar. Ada baiknya,
seluruh SD di Bali yang mayoritas siswanya beragama
Hindu mengembangkan konsep pesraman yang memberikan
pendidikan agama Hindu dan budaya
Bali
secara lebih intensif. Agar program itu tidak "bentrok"
dengan pelaksanaan pendidikan formal, akan jauh lebih
baik jika pesraman itu digelar hari Minggu atau pada
hari-hari libur lainnya. Misalnya, pada liburan kenaikan
kelas. "Sejumlah sekolah sudah melaksanakan program
pesraman ini secara kontinu. Namun, jumlahnya masih bisa
dihitung dengan jari. Perlu upaya-upaya pemasalan yang
lebih kongkret lagi," kata Yadnya.
Agar program itu bisa jalan, kata Yadnya, pihak desa
pakraman di sekitar lokasi sekolah itu harus memberikan
dukungan nyata. Bentuk dukungan itu tidak hanya
diwujudkan dalam bentuk materi atau dana semata. Namun,
yang lebih penting adalah ikut menciptakan atmosfir yang
kondusif bagi terlaksananya program itu. "Dukungan yang
paling sederhana, orangtua siswa rela menyisihkan
sebagian penghasilannya untuk membiayai anak-anaknya
mengikuti program pesraman itu. Satu yang harus diingat,
pengelola pesraman jangan sampai menggelincirkan program
itu sebagai ajang profit oriented atau mengeruk
keuntungan materi. Konsepnya, harus murni untuk yadnya,"
kata mantan Kabag Kesra Setda Kabupaten Gianyar ini
mengingatkan.
Dikatakannya, urgensi pesraman itu harus difokuskan
sebagai media pencerahan di bidang agama Hindu maupun
pengenalan budaya Bali secara luas. Penyampaian
materi-materi pelajaran harus "dikemas" sedemikian rupa
yang disesuaikan dengan tingkatan usia peserta pesraman
sehingga mudah dipahami. "Misalnya untuk anak-anak usia
SD, mereka jelas belum mampu mencerna ajaran Weda secara
langsung karena memang terlalu berat untuk anak-anak
seusia mereka. Namun, inti sari dari ajaran itu bisa
ditransfer dengan metode bercerita yang dikemas dengan
bahasa anak-anak. Metode itu lebih efektif untuk
memberikan pemahaman tentang inti sari dari kitab-kitab
suci Hindu itu, sehingga bisa mereka jadikan pegangan
dalam berpikir, berkata serta berbuat yang baik dalam
kehidupan sehari-hari," katanya.
Dalam pesraman itu, kata Yadnya, peserta didik juga
perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang
berkaitan langsung dengan persiapan-persiapan upacara
keagamaan. Misalnya, keterampilan membuat canang sari,
ngulat tipat dan klakat serta kelengkapan upacara
sederhana lainnya.
Di bidang seni, mereka juga bisa diajari masanti,
makidung, magambel serta menari. "Dengan begitu, mereka
tidak akan kehilangan jati dirinya sebagai manusia Bali.
Jika konsep itu bisa diterapkan secara baik, aktivitas
pesraman itu juga sangat sejalan dengan misi dan upaya
pelestarian budaya Bali dalam arti yang sesungguhnya.
Bukan hanya sebatas wacana," tegasnya.
Tidak "Gagap" Teknologi
Sementara itu, Agus Indra Udayana mengingatkan bahwa
manusia Hindu tidak boleh gagap teknologi. Di samping
mendapat pelajaran agama, mereka yang belajar di
pesraman juga perlu mendapat keterampilan lain yang
bersentuhan dengan teknologi modern seperti komputer dan
pengetahuan lainnya. Bekal ini, katanya, bertujuan untuk
mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Dengan begitu,
mereka tidak akan jadi pecundang dalam persaingan di
tingkat global. "Karena dasar agama mereka sudah kuat,
saya optimis mereka tidak akan memanfaatkan kemajuan
teknologi itu untuk kepentingan-kepentingan yang
bertentangan dengan ajaran agama," tegasnya lagi.
Lantas, bagaimana komentar Agus Indra Udayana terkait
urgensi pembangunan sekolah-sekolah yang berbasis Hindu
(dari TK hingga SMU-red)? Menurut dia, wacana itu
sebenarnya bukan "barang baru" alias sudah digulirkan
sejak dulu. Namun, realisasinya terkesan sangat lamban
mengingat pendirian sekolah "berlabel" Hindu itu memang
memerlukan dana yang tidak sedikit. Baik dana untuk
membangun sarana prasarana fisik seperti gedung sekolah
maupun pengadaan sarana penunjang pendidikan lainnya
seperti buku dan sebagainya. Guna memotong siklus yang
panjang itu, Agus Indra cenderung menyarankan agar
sekolah-sekolah yang ada sekarang ini "disulap" untuk
kepentingan itu. Dengan kata lain, tidak perlu membangun
sekolah baru karena prosesnya menjadi sangat panjang.
Solusi lainnya, materi pendidikan Hindu yang ada saat
ini di tiap-tiap jenjang pendidikan perlu ditambah
porsinya. "Kalau dulu materi pendidikan agama itu
misalnya hanya 10 persen kandungannya dari total
kurikulum yang ada, porsi itu bisa ditingkatkan menjadi
25 hingga 30 persen. Ini juga merupakan sebuah solusi,"
katanya sambil menambahkan, pemerintah daerah juga
dituntut memberikan perhatian yang nyata serta
mengalokasikan sejumlah dana dalam APBD untuk menjaga "denyut
kehidupan" pesraman itu tetap berlangsung. Dengan begitu,
aktivitas pesraman itu tidak jadi trend sesaat yang
akhirnya mati dengan sendirinya lantaran ditelikung
kendala dana.
Tumbuh kembangnya ashram, gurukula atau resident school
yang mulai marak belakangan ini di Bali, kata dia,
sebuah pertanda yang positif. Media pendidikan seperti
ini memang khusus ditujukan kepada insan-insan Hindu
Bali yang serius ingin memperkaya diri di bidang
pendalaman spiritual dan kerohanian. Namun, konsep
ashram ini tetap tidak menafikan masuknya unsur-unsur
iptek ke dalam materi pendidikannya. Pasalnya,
penguasaan iptek tetap jadi syarat yang mutlak jika
insan Hindu ingin "bertarung" di kancah persaingan
global. "Tanpa iptek, manusia Bali akan tergilas. Di
Asrhram Gandhi sendiri yang menganut ajaran Swadhesi,
kami tetap memberikan keterampilan komputer dan
teknologi lainnya kepada para penghuni ashram. Tujuannya,
jelas agar mereka punya daya saing yang lebih tinggi,"
katanya lagi.
*
wayan sumatika
Kembangkan ''Yadnya'' dalam Pendidikan
KOMITMEN
untuk meningkatkan kualitas SDM Hindu tidak boleh
dilaksanakan secara parsial, tetapi harus menyeluruh.
Namun, Pengasuh Ashram Gandhi Puri Chatralaya dan
Sevagram Agus Indra Udayana masih melihat adanya
kesenjangan yang tajam di bidang pemerataan kesempatan
mengenyam pendidikan. Dikatakan, masih banyak insan
Hindu Bali yang tidak sempat "mengenal" bangku sekolah
lantaran ditelikung masalah dana. Ironisnya lagi,
kelompok yang tidak beruntung dari segi materi ini
terpaksa harus "terlempar" ke jalanan dan pusat-pusat
keramaian kota seperti pasar tradisional, terminal,
swalayan dan objek wisata dan berprofesi sebagai
pengemis. Guna "menambal" perut lapar mereka, krama
lacur (warga miskin-red) itu terpaksa menyingkirkan rasa
malunya dengan menadahkan tangan mereka. Berharap
sedekah dari para dermawan yang sejatinya telah
menistakan harkat dan martabat mereka selaku insan
manusia secara tidak langsung. "Tanpa bekal pendidikan
yang memadai, mereka tidak punya banyak pilihan untuk
bertahan di dunia yang penuh persaingan ini. Akhirnya,
profesi pengemis itu terpaksa dilakoni. Krama Bali yang
beruntung menikmati berkah ekonomi yang berlebihan harus
punya kepedulian terhadap mereka. Caranya sederhana saja,
sisihkanlah sedikit pendapatan untuk mendanai pendidikan
mereka. Kembangkan yadnya dalam bidang pendidikan,"
katanya.
Masih adanya insan Hindu yang mengemis adalah sebuah
keniscayaan. "Kantong-kantong" kemiskinan itu hampir
tersebar merata di seluruh wawengkon Bali, kendati tidak
semuanya memilih jalan mengemis sebagai perjuangan hidup
terakhir. Untuk daerah-daerah minus seperti itu,
alangkah mulianya jika ada dermawan yang mau "merangkul"
dan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang memadai. Misalnya, dengan jalan
membangun pesraman di lingkungan mereka dan
menggratiskan mereka dari segala biaya pendidikan. "Kita
semestinya sudah memfokuskan perhatian ke arah sana.
Selama ini, konsep penertiban gepeng yang diterapkan
pemerintahan sangat tidak efektif untuk menekan jumlah
mereka. Masalahnya, akar permasalahan yang sebenarnya
dihadapi mereka yakni kemiskinan itu tidak tersentuh
sama sekali," katanya menyayangkan.
Lantas, bagaimana solusi pengentasan krama lacur itu--
khususnya gepeng cilik -- sehingga mereka tidak
terus-menerus "berkeliaran" di jalan?
Menurut Udayana, kitab suci Niti Sastra paling tidak
merekomendasikan dua solusi yaitu melalui guna widya dan
tatwa adyatmika. Dikatakan, guna widya berarti
memberikan bekal keterampilan kepada mereka yang
nantinya bisa dimanfaatkan untuk mencari nafkah.
Sedangkan tatwa adyatmika dititikberatkan pada aktivitas
mengisi mereka dengan ilmu pengetahuan kerohanian. Dalam
konteks ini, ajaran agama itu akan mencerahkan pikiran
mereka bahwa aktivitas menggepeng - apalagi dilakukan
dengan pertimbangan tidak mau bekerja keras - yang
mereka lakoni tidak direstui Tuhan. "Ajaran guna widya
dan tatwa adyatmika itu harus dilaksanakan seiring
sejalan. Di samping diberikan bekal keterampilan agar
mereka bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, mereka
juga wajib diberikan siraman rohani yang memadai
sehingga tergerak untuk menghindari segala jenis
perbuatan yang dilarang agama. Agar mereka mampu menjadi
generasi muda Hindu yang suputra, para krama Hindu yang
kebetulan mendapat berkah yang berlimpah harus punya
kesadaran untuk menyelamatkan nasib mereka. Tentu saja,
dana punia harus diberikan dalam bentuk yang tepat
sehingga tidak justru jadi bumerang yang membuat mereka
makin ketergantungan dengan sedekah yang diberikan orang
lain. Berikan mereka bekal pengetahuan dan keterampilan
ugar mampu jadi pribadi yang mandiri. Bangunlah pesraman
dan bebaskan mereka dari biaya pendidikan," paparnya
panjang lebar.
Ditambahkan, pembangunan sarana pendidikan dan
keterampilan yang khusus diperuntukan bagi para gepeng
yang terjaring operasi penertiban maupun komunitas
masyarakat miskin lainnya sudah sangat urgen di Bali.
Wujudnya bisa berupa persraman, sanggar-sanggar
keterampilan dan sebagainya. Di tempat itu, mereka bisa
ditempa dengan berbagai jenis keterampilan di mana
produknya punya potensi pasar yang jelas. Mereka juga
perlu dibekali dengan pendidikan agama guna mencetak
generasi-generasi muda Hindu yang berbudi pekerti luhur
serta tidak tercerabut dari akar budaya dan agamanya. "Konsep
pesraman saya nilai cukup efektif untuk mengentaskan hal
itu. Sebenarnya, ajaran Hindu sudah memberikan solusi
mengentaskan permasalahan kemiskinan (gepeng-red) itu
secara terpola dan sistematis. Sekarang berpulang pada
kesadaran dan keseriusan kita, mau tidak
mengimplementasi ajaran-ajaran mulia itu ke tataran
praktis dan nyata," katanya lagi.
Udayana menegaskan, sudah saatnya umat Hindu Bali
memelopori yadnya kemanusiaan yang manusiawi. Sebab,
kegiatan yadnya sejatinya bukan saja hanya memuja Tuhan
untuk keselamatan hidup pribadi semata. Melainkan juga
mendapatkan kesucian hati dan kekuatan melayani mereka
yang menderita dan sangat memerlukan pengabdian sesama.
Lebih lanjut, dia berharap lembaga umat seperti PDHI mau
memelopori hal itu dengan menghimpun dana punia dari
para dermawan. Tujuannya, jelas untuk membiayai
pendidikan krama Hindu yang memang berada di bawah garis
kemiskinan. Hanya saja, dana yang terkumpul itu harus
dikelola dengan penuh rasa tanggung jawab dan
dialokasikan kepada mereka yang benar-benar berhak.
"Jika
yadnya kemanusiaan itu bisa dipolakan dan diterapkan
dengan baik, saya yakin pemerataan pendidikan itu akan
cepat terealisasi. Sudah sewajarnya, mereka yang kaya
membantu yang miskin dan yang kuat melindungi yang lemah,"
katanya mengingatkan.
w.sumatika