kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 4 Mei 2005

 Bias Bali

 

Mencetak SDM Hindu Berkualitas---------------
Penguasaan Iptek dan Spiritual harus Imbang
 

Wacana peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) saat ini tengah menjadi perbincangan hangat. Terlebih ketika dikaitkan dengan ''napas'' Hardiknas yang diperingati tiap tanggal 2 Mei. Perayaan tersebut sesungguhnya memberi makna bagi kita bahwa peningkatan kualitas diri hanya bisa dilakukan lewat pendidikan. Itu berarti lembaga pendidikan sebagai media untuk mencetak SDM yang berkualitas, mesti mendapat perhatian berbagai pihak. Sementara dunia pendidikan kita -- khususnya bernapaskan Hindu -- masih belum mendapat perhatian yang memadai, di tengah tuntutan SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Akan sangat mustahil peningkatan kualitas itu tercapai jika pendidikan insan Hindu -- baik formal maupun nonformal -- terabaikan. Dalam konteks Hindu, berbagai konsep pun ditawarkan guna "mencetak" insan-insan Hindu unggul, intelek dan berdaya saing tinggi tanpa mengabaikan "roh" spiritualitasnya. Khususnya dari mereka yang peduli serta mau berjuang aktif untuk kejayaan SDM Hindu di masa datang. Lantas, dari mana ayunan langkah itu harus dimulai untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut?

 

PENGASUH Ashram Gandhi Puri Chatralaya dan Sevagram Agus Indra Udayana dan Wakil Ketua I Majelis Madya Desa Pakraman Gianyar I Gusti Agung Putu Yadnya tidak menginginkan upaya peningkatan kualitas SDM Hindu hanya berkutat dalam tataran wacana dan konsep "wah" semata. Yang paling urgen saat ini adalah sebuah aksi yang diimplementasikan dalam tindakan nyata. "Tidak perlu muluk-muluk. Kita bisa memulainya dari hal kecil-kecil saja. Namun, arah dan sasarannya jelas," kata Agus Indra Udayana yang dibenarkan pula oleh Yadnya kepada Bali Post, Selasa (3/5) kemarin.

Menurut Udayana dan Yadnya, Hindu sejatinya memandang pembangunan sektor pendidikan itu sebagai hal yang sangat urgen. Buktinya, Hindu mengenal masa brahmacari ashrama atau masa menuntut ilmu yang merupakan tahapan wajib yang mesti dilalui insan Hindu dalam perjalanan kehidupannya. Dalam konteks kekinian, masa brahmacari asrhama itu diimplementasikan ke dalam aktivitas pendidikan formal dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan formal itu saja belum cukup lantaran "kemasannya" cenderung dititikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sementara pendidikan yang ditujukan untuk pembangunan mental dan spiritual -- kendati tetap diberikan porsi -- dinilai belum memadai. "Kalau kita ingin mencetak insan Hindu yang berkualitas dalam arti yang sesungguhnya, segi penguasaan iptek dan spiritualitas itu harus diseimbangkan. Sebab, manusia pintar tanpa memiliki mental dan spiritualitas yang baik juga akan sia-sia dan tidak mampu membawa Bali ke kondisi yang lebih baik," katanya mengingatkan.

Ditambahkan, komitmen peningkatan kualitas SDM Hindu yang seimbang dari segi penguasaan iptek dan spiritualitas harus ditumbuhkembangkan sejak manusia Hindu itu menginjak usia sekolah dasar. Ada baiknya, seluruh SD di Bali yang mayoritas siswanya beragama Hindu mengembangkan konsep pesraman yang memberikan pendidikan agama Hindu dan budaya Bali secara lebih intensif. Agar program itu tidak "bentrok" dengan pelaksanaan pendidikan formal, akan jauh lebih baik jika pesraman itu digelar hari Minggu atau pada hari-hari libur lainnya. Misalnya, pada liburan kenaikan kelas. "Sejumlah sekolah sudah melaksanakan program pesraman ini secara kontinu. Namun, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Perlu upaya-upaya pemasalan yang lebih kongkret lagi," kata Yadnya.

Agar program itu bisa jalan, kata Yadnya, pihak desa pakraman di sekitar lokasi sekolah itu harus memberikan dukungan nyata. Bentuk dukungan itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi atau dana semata. Namun, yang lebih penting adalah ikut menciptakan atmosfir yang kondusif bagi terlaksananya program itu. "Dukungan yang paling sederhana, orangtua siswa rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membiayai anak-anaknya mengikuti program pesraman itu. Satu yang harus diingat, pengelola pesraman jangan sampai menggelincirkan program itu sebagai ajang profit oriented atau mengeruk keuntungan materi. Konsepnya, harus murni untuk yadnya," kata mantan Kabag Kesra Setda Kabupaten Gianyar ini mengingatkan.

Dikatakannya, urgensi pesraman itu harus difokuskan sebagai media pencerahan di bidang agama Hindu maupun pengenalan budaya Bali secara luas. Penyampaian materi-materi pelajaran harus "dikemas" sedemikian rupa yang disesuaikan dengan tingkatan usia peserta pesraman sehingga mudah dipahami. "Misalnya untuk anak-anak usia SD, mereka jelas belum mampu mencerna ajaran Weda secara langsung karena memang terlalu berat untuk anak-anak seusia mereka. Namun, inti sari dari ajaran itu bisa ditransfer dengan metode bercerita yang dikemas dengan bahasa anak-anak. Metode itu lebih efektif untuk memberikan pemahaman tentang inti sari dari kitab-kitab suci Hindu itu, sehingga bisa mereka jadikan pegangan dalam berpikir, berkata serta berbuat yang baik dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Dalam pesraman itu, kata Yadnya, peserta didik juga perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang berkaitan langsung dengan persiapan-persiapan upacara keagamaan. Misalnya, keterampilan membuat canang sari, ngulat tipat dan klakat serta kelengkapan upacara sederhana lainnya.

Di bidang seni, mereka juga bisa diajari masanti, makidung, magambel serta menari. "Dengan begitu, mereka tidak akan kehilangan jati dirinya sebagai manusia Bali. Jika konsep itu bisa diterapkan secara baik, aktivitas pesraman itu juga sangat sejalan dengan misi dan upaya pelestarian budaya Bali dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya sebatas wacana," tegasnya.

 

Tidak "Gagap" Teknologi

 

Sementara itu, Agus Indra Udayana mengingatkan bahwa manusia Hindu tidak boleh gagap teknologi. Di samping mendapat pelajaran agama, mereka yang belajar di pesraman juga perlu mendapat keterampilan lain yang bersentuhan dengan teknologi modern seperti komputer dan pengetahuan lainnya. Bekal ini, katanya, bertujuan untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Dengan begitu, mereka tidak akan jadi pecundang dalam persaingan di tingkat global. "Karena dasar agama mereka sudah kuat, saya optimis mereka tidak akan memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan ajaran agama," tegasnya lagi.

Lantas, bagaimana komentar Agus Indra Udayana terkait urgensi pembangunan sekolah-sekolah yang berbasis Hindu (dari TK hingga SMU-red)? Menurut dia, wacana itu sebenarnya bukan "barang baru" alias sudah digulirkan sejak dulu. Namun, realisasinya terkesan sangat lamban mengingat pendirian sekolah "berlabel" Hindu itu memang memerlukan dana yang tidak sedikit. Baik dana untuk membangun sarana prasarana fisik seperti gedung sekolah maupun pengadaan sarana penunjang pendidikan lainnya seperti buku dan sebagainya. Guna memotong siklus yang panjang itu, Agus Indra cenderung menyarankan agar sekolah-sekolah yang ada sekarang ini "disulap" untuk kepentingan itu. Dengan kata lain, tidak perlu membangun sekolah baru karena prosesnya menjadi sangat panjang. Solusi lainnya, materi pendidikan Hindu yang ada saat ini di tiap-tiap jenjang pendidikan perlu ditambah porsinya. "Kalau dulu materi pendidikan agama itu misalnya hanya 10 persen kandungannya dari total kurikulum yang ada, porsi itu bisa ditingkatkan menjadi 25 hingga 30 persen. Ini juga merupakan sebuah solusi," katanya sambil menambahkan, pemerintah daerah juga dituntut memberikan perhatian yang nyata serta mengalokasikan sejumlah dana dalam APBD untuk menjaga "denyut kehidupan" pesraman itu tetap berlangsung. Dengan begitu, aktivitas pesraman itu tidak jadi trend sesaat yang akhirnya mati dengan sendirinya lantaran ditelikung kendala dana.

Tumbuh kembangnya ashram, gurukula atau resident school yang mulai marak belakangan ini di Bali, kata dia, sebuah pertanda yang positif. Media pendidikan seperti ini memang khusus ditujukan kepada insan-insan Hindu Bali yang serius ingin memperkaya diri di bidang pendalaman spiritual dan kerohanian. Namun, konsep ashram ini tetap tidak menafikan masuknya unsur-unsur iptek ke dalam materi pendidikannya. Pasalnya, penguasaan iptek tetap jadi syarat yang mutlak jika insan Hindu ingin "bertarung" di kancah persaingan global. "Tanpa iptek, manusia Bali akan tergilas. Di Asrhram Gandhi sendiri yang menganut ajaran Swadhesi, kami tetap memberikan keterampilan komputer dan teknologi lainnya kepada para penghuni ashram. Tujuannya, jelas agar mereka punya daya saing yang lebih tinggi," katanya lagi.

* wayan sumatika

 

 

Kembangkan ''Yadnya'' dalam Pendidikan

 

 

KOMITMEN untuk meningkatkan kualitas SDM Hindu tidak boleh dilaksanakan secara parsial, tetapi harus menyeluruh.

Namun, Pengasuh Ashram Gandhi Puri Chatralaya dan Sevagram Agus Indra Udayana masih melihat adanya kesenjangan yang tajam di bidang pemerataan kesempatan mengenyam pendidikan. Dikatakan, masih banyak insan Hindu Bali yang tidak sempat "mengenal" bangku sekolah lantaran ditelikung masalah dana. Ironisnya lagi, kelompok yang tidak beruntung dari segi materi ini terpaksa harus "terlempar" ke jalanan dan pusat-pusat keramaian kota seperti pasar tradisional, terminal, swalayan dan objek wisata dan berprofesi sebagai pengemis. Guna "menambal" perut lapar mereka, krama lacur (warga miskin-red) itu terpaksa menyingkirkan rasa malunya dengan menadahkan tangan mereka. Berharap sedekah dari para dermawan yang sejatinya telah menistakan harkat dan martabat mereka selaku insan manusia secara tidak langsung. "Tanpa bekal pendidikan yang memadai, mereka tidak punya banyak pilihan untuk bertahan di dunia yang penuh persaingan ini. Akhirnya, profesi pengemis itu terpaksa dilakoni. Krama Bali yang beruntung menikmati berkah ekonomi yang berlebihan harus punya kepedulian terhadap mereka. Caranya sederhana saja, sisihkanlah sedikit pendapatan untuk mendanai pendidikan mereka. Kembangkan yadnya dalam bidang pendidikan," katanya.

Masih adanya insan Hindu yang mengemis adalah sebuah keniscayaan. "Kantong-kantong" kemiskinan itu hampir tersebar merata di seluruh wawengkon Bali, kendati tidak semuanya memilih jalan mengemis sebagai perjuangan hidup terakhir. Untuk daerah-daerah minus seperti itu, alangkah mulianya jika ada dermawan yang mau "merangkul" dan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Misalnya, dengan jalan membangun pesraman di lingkungan mereka dan menggratiskan mereka dari segala biaya pendidikan. "Kita semestinya sudah memfokuskan perhatian ke arah sana. Selama ini, konsep penertiban gepeng yang diterapkan pemerintahan sangat tidak efektif untuk menekan jumlah mereka. Masalahnya, akar permasalahan yang sebenarnya dihadapi mereka yakni kemiskinan itu tidak tersentuh sama sekali," katanya menyayangkan.

Lantas, bagaimana solusi pengentasan krama lacur itu-- khususnya gepeng cilik -- sehingga mereka tidak terus-menerus "berkeliaran" di jalan?

Menurut Udayana, kitab suci Niti Sastra paling tidak merekomendasikan dua solusi yaitu melalui guna widya dan tatwa adyatmika. Dikatakan, guna widya berarti memberikan bekal keterampilan kepada mereka yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk mencari nafkah. Sedangkan tatwa adyatmika dititikberatkan pada aktivitas mengisi mereka dengan ilmu pengetahuan kerohanian. Dalam konteks ini, ajaran agama itu akan mencerahkan pikiran mereka bahwa aktivitas menggepeng - apalagi dilakukan dengan pertimbangan tidak mau bekerja keras - yang mereka lakoni tidak direstui Tuhan. "Ajaran guna widya dan tatwa adyatmika itu harus dilaksanakan seiring sejalan. Di samping diberikan bekal keterampilan agar mereka bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, mereka juga wajib diberikan siraman rohani yang memadai sehingga tergerak untuk menghindari segala jenis perbuatan yang dilarang agama. Agar mereka mampu menjadi generasi muda Hindu yang suputra, para krama Hindu yang kebetulan mendapat berkah yang berlimpah harus punya kesadaran untuk menyelamatkan nasib mereka. Tentu saja, dana punia harus diberikan dalam bentuk yang tepat sehingga tidak justru jadi bumerang yang membuat mereka makin ketergantungan dengan sedekah yang diberikan orang lain. Berikan mereka bekal pengetahuan dan keterampilan ugar mampu jadi pribadi yang mandiri. Bangunlah pesraman dan bebaskan mereka dari biaya pendidikan," paparnya panjang lebar.

Ditambahkan, pembangunan sarana pendidikan dan keterampilan yang khusus diperuntukan bagi para gepeng yang terjaring operasi penertiban maupun komunitas masyarakat miskin lainnya sudah sangat urgen di Bali. Wujudnya bisa berupa persraman, sanggar-sanggar keterampilan dan sebagainya. Di tempat itu, mereka bisa ditempa dengan berbagai jenis keterampilan di mana produknya punya potensi pasar yang jelas. Mereka juga perlu dibekali dengan pendidikan agama guna mencetak generasi-generasi muda Hindu yang berbudi pekerti luhur serta tidak tercerabut dari akar budaya dan agamanya. "Konsep pesraman saya nilai cukup efektif untuk mengentaskan hal itu. Sebenarnya, ajaran Hindu sudah memberikan solusi mengentaskan permasalahan kemiskinan (gepeng-red) itu secara terpola dan sistematis. Sekarang berpulang pada kesadaran dan keseriusan kita, mau tidak mengimplementasi ajaran-ajaran mulia itu ke tataran praktis dan nyata," katanya lagi.

Udayana menegaskan, sudah saatnya umat Hindu Bali memelopori yadnya kemanusiaan yang manusiawi. Sebab, kegiatan yadnya sejatinya bukan saja hanya memuja Tuhan untuk keselamatan hidup pribadi semata. Melainkan juga mendapatkan kesucian hati dan kekuatan melayani mereka yang menderita dan sangat memerlukan pengabdian sesama. Lebih lanjut, dia berharap lembaga umat seperti PDHI mau memelopori hal itu dengan menghimpun dana punia dari para dermawan. Tujuannya, jelas untuk membiayai pendidikan krama Hindu yang memang berada di bawah garis kemiskinan. Hanya saja, dana yang terkumpul itu harus dikelola dengan penuh rasa tanggung jawab dan dialokasikan kepada mereka yang benar-benar berhak.

"Jika yadnya kemanusiaan itu bisa dipolakan dan diterapkan dengan baik, saya yakin pemerataan pendidikan itu akan cepat terealisasi. Sudah sewajarnya, mereka yang kaya membantu yang miskin dan yang kuat melindungi yang lemah," katanya mengingatkan. w.sumatika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)