Affandi, Pelukis Humanis Indonesia
Mengenang 15 Tahun Kepergiannya
Jika seniman Maestro Raden Saleh Sjarif Bustaman
dikenal sebagai perintis seni rupa Indonesia (1814-1880), maka
abad berikutnya baru terlahir seorang Maestro lagi yakni Affandi
Koesoema (1907-1990). Kedua seniman besar Indonesia ini memiliki
peranan sejarah sangat penting terhadap keberadaan dan
perkembangan seni rupa lukis di tanah air.
----------
SOSOK
Affandi Koesoema yang lebih dikenal dengan panggilan Affandi lahir
di Cirebon Jawa Barat tahun 1907. Sejak kecil ia memiliki kesukaan
menonton pertunjukan wayang kulit yang ternyata nantinya memiliki
pengaruh terhadap profesi yang digelutinya yakni seni lukis. Jiwa
seninya telah tercermin sejak kecil dengan kesukaannya melukis di
tanah yang berlanjut di atas batu tulis dan kertas (sarana belajar
di sekolah). Cita-cita orangtuanya untuk menjadikannya insinyur
tidak dapat dipenuhi demi memilih kecintaannya terhadap dunia
lukis atau tukang gambar -- seperti yang diistilahkannya.
Untuk mewujudkan keinginan menjadi pelukis, pada
awalnya Affandi menjadi guru pada sekolah di Jakarta bagi
anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan. Dari hasil ini
Affandi berharap dapat mendatangkan penghasilan untuk biaya hidup
dan memenuhi keperluan untuk melukis. Pada kesempatan ini Affandi
bertemu dengan Maryati yang menjadi anak didik, yang kemudian
menjadi istrinya. Sambil menjalani hidup berkeluarga yang masih
muda, Affandi merasa pekerjaan sebagai guru tidak memberi banyak
peluang untuk melukis.
Istrinya menyetujui keinginan Affandi mencari
pekerjaan lain. Berbagai pekerjaan sempat diambil Affandi di
antaranya menjadi pembuat poster, reklame, sobek karcis bioskop,
bahkan tukang cat. Program minimum keluarga dicanangkan yakni
memanfaatkan waktu 10 hari dalam sebulan untuk mencari penghasilan
demi terpenuhinya kebutuhan keluarga dan sisa waktu berikutnya
dapat dimanfaatkan untuk melukis.
Tantangan hidup dihadapinya dengan penuh
perjuangan, ketabahan, dan kesederhanaan. Dalam situasi ekonomi
yang sulit, Affandi melakoni aktivitias melukis dengan
teman-temannya seperti Wahdi, Barli, Hendra Gunawan, Abedy,
Sudarso, hingga S. Sudjojono. Dalam sebuah kesempatan pameran yang
diselenggarakan setiap tahun di alun-alun Kebon Raya Bandung,
karya Affandi dibeli seseorang. Alasan pembeli tersebut bukan
karena lukisan Affandi bagus, namun dalam karyanya terdapat
spirit, semangat, yang nantinya bisa melahirkan lukisan yang
bagus. Affandi disarankan untuk terus melanjutkan melukis.
Belakangan pembeli tersebut diketahui bernama Safei Samardja yang
memiliki pengalaman belajar seni lukis di Eropa, dan nantinya
menjadi Guru Besar pada Institus Teknologi Bandung (ITB).
Dengan kontinyuitas berkarya, Affandi menjadi
pelukis yang sangat produktif. Hal ini menjadikan ia dipercaya
pada berbagai kesempatan organisasi dalam bidang lukis, di
antaranya pengasuh bidang seni rupa di gedung Poetera (Badan
Poesat Tenaga Rakyat) Jakarta pada masa pendudukan Jepang, pendiri
Seniman Masyarakat di Yogyakarta tahun 1946, ketua Gabungan
Pelukis Indonesia di Jakarta tahun 1948. Pada 1949, ia dapat
beasiswa diri India untuk belajar melukis di Santiniketan --
perguruan tinggi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore.
Dua tahun di India, Affandi sempat mengadakan
beberapa pameran yang hasilnya cukup dipergunakan untuk
perjalanannya keliling beberapa negara Eropa dan Amerika.
Utamakan
Kebebasan
Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih
mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan,
Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik
melukis bentuk bahkan yang cenderung memperintah objeknya seperti
yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan
Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan
akibat penjajahan.
Dengan pengalaman dan melihat kondisi masyarakat
yang menderita, Affandi lebih tergugah mengungkapkan lewat
tumpahan dan goresan warna kusam dan tema kemelaratan. Pengamatan
terhadap sensitivitas lingkungan diungkapkan secara lugas,
sehingga karyanya yang berjudul "Pejuang Romusa" yang menampilkan
rakyat dalam kemelaratan tidak ditampilkan Jepang dalam usaha
mengumandangkan perjuangan Romusa. Jepang yang saat itu merebut
simpati masyarakat lewat gerakan Romusa, merekrut masyarakat
Indonesia untuk bersatu melawan Belanda dan sekutunya melihat
karya Affandi kurang menguntungkan pihaknya. Menurut pihak Jepang
karya tersebut memperlihatkan kekejaman penjajah terhadap
penduduk.
Humanisme Affandi terlihat juga pada karyanya "Dia
Datang, Menunggu, dan Pergi" (1944). Dalam karya ini ditampilkan
seorang pengemis yang baru datang, kemudian meminta, lalu pergi.
Raut muka pengemis yang kurus dengan pakaian lusuh, namun dari
sisa ketegarannya masih bersemangat menjalani kehidupan walaupun
dengan mengemis. Pengamatan Affandi seperti ini menunjukkan
keprihatinan jiwanya terhadap penderitaan sesama antara anak
bangsa. Tema-tema kerakyatan menjadi dominasi dalam karya-karya
Affandi.
Almarhum Dullah seniman lukis Indonesia
menyebutkan, Affandi punya perhatian yang sangat besar terhadap
kemanusiaan, seperti tercermin dalam lukisannya yang lebih banyak
menggambarkan sifat humanis. Karena itulah, dia jarang mau berucap
atau bertutur kata yang menyakitkan. Jiwa dan hasil karya Affandi
yang humanis menjadikan dirinya menerima hadiah perdamaian
internasional dari Dag Hammarskjoeld yang dibagikan dalam suatu
upacara di gedung San marzano, Florence, Itali.
Demikian sebagian perjuangan Affandi dalam bidang
seni lukis Indonesia yang kini diwariskan pada generasi sekarang.
Tanggal 23 Mei 1990 adalah waktu kepergian sang Maestro untuk
menghadap sang Pencipta. Tanpa terasa, 15 tahun sudah kepergian
seniman humanis Indonesia itu.
* i wayan
kondra,
ISI Denpasar