kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 22 Mei 2005 tarukan valas
 

GEBYAR


Affandi, Pelukis Humanis Indonesia

Mengenang 15 Tahun Kepergiannya

Jika seniman Maestro Raden Saleh Sjarif Bustaman dikenal sebagai perintis seni rupa Indonesia (1814-1880), maka abad berikutnya baru terlahir seorang Maestro lagi yakni Affandi Koesoema (1907-1990). Kedua seniman besar Indonesia ini memiliki peranan sejarah sangat penting terhadap keberadaan dan perkembangan seni rupa lukis di tanah air.

----------

 

SOSOK Affandi Koesoema yang lebih dikenal dengan panggilan Affandi lahir di Cirebon Jawa Barat tahun 1907. Sejak kecil ia memiliki kesukaan menonton pertunjukan wayang kulit yang ternyata nantinya memiliki pengaruh terhadap profesi yang digelutinya yakni seni lukis. Jiwa seninya telah tercermin sejak kecil dengan kesukaannya melukis di tanah yang berlanjut di atas batu tulis dan kertas (sarana belajar di sekolah). Cita-cita orangtuanya untuk menjadikannya insinyur tidak dapat dipenuhi demi memilih kecintaannya terhadap dunia lukis atau tukang gambar -- seperti yang diistilahkannya.

Untuk mewujudkan keinginan menjadi pelukis, pada awalnya Affandi menjadi guru pada sekolah di Jakarta bagi anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan. Dari hasil ini Affandi berharap dapat mendatangkan penghasilan untuk biaya hidup dan memenuhi keperluan untuk melukis. Pada kesempatan ini Affandi bertemu dengan Maryati yang menjadi anak didik, yang kemudian menjadi istrinya. Sambil menjalani hidup berkeluarga yang masih muda, Affandi merasa pekerjaan sebagai guru tidak memberi banyak peluang untuk melukis.

Istrinya menyetujui keinginan Affandi mencari pekerjaan lain. Berbagai pekerjaan sempat diambil Affandi di antaranya menjadi pembuat poster, reklame, sobek karcis bioskop, bahkan tukang cat. Program minimum keluarga dicanangkan yakni memanfaatkan waktu 10 hari dalam sebulan untuk mencari penghasilan demi terpenuhinya kebutuhan keluarga dan sisa waktu berikutnya dapat dimanfaatkan untuk melukis.

Tantangan hidup dihadapinya dengan penuh perjuangan, ketabahan, dan kesederhanaan. Dalam situasi ekonomi yang sulit, Affandi melakoni aktivitias melukis dengan teman-temannya seperti Wahdi, Barli, Hendra Gunawan, Abedy, Sudarso, hingga S. Sudjojono. Dalam sebuah kesempatan pameran yang diselenggarakan setiap tahun di alun-alun Kebon Raya Bandung, karya Affandi dibeli seseorang. Alasan pembeli tersebut bukan karena lukisan Affandi bagus, namun dalam karyanya terdapat spirit, semangat, yang nantinya bisa melahirkan lukisan yang bagus. Affandi disarankan untuk terus melanjutkan melukis. Belakangan pembeli tersebut diketahui bernama Safei Samardja yang memiliki pengalaman belajar seni lukis di Eropa, dan nantinya menjadi Guru Besar pada Institus Teknologi Bandung (ITB).

Dengan kontinyuitas berkarya, Affandi menjadi pelukis yang sangat produktif. Hal ini menjadikan ia dipercaya pada berbagai kesempatan organisasi dalam bidang lukis, di antaranya pengasuh bidang seni rupa di gedung Poetera (Badan Poesat Tenaga Rakyat) Jakarta pada masa pendudukan Jepang, pendiri Seniman Masyarakat di Yogyakarta tahun 1946, ketua Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta tahun 1948. Pada 1949, ia dapat beasiswa diri India untuk belajar melukis di Santiniketan -- perguruan tinggi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore.

Dua tahun di India, Affandi sempat mengadakan beberapa pameran yang hasilnya cukup dipergunakan untuk perjalanannya keliling beberapa negara Eropa dan Amerika.

 

Utamakan Kebebasan

Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan, Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memperintah objeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan.

Dengan pengalaman dan melihat kondisi masyarakat yang menderita, Affandi lebih tergugah mengungkapkan lewat tumpahan dan goresan warna kusam dan tema kemelaratan. Pengamatan terhadap sensitivitas lingkungan diungkapkan secara lugas, sehingga karyanya yang berjudul "Pejuang Romusa" yang menampilkan rakyat dalam kemelaratan tidak ditampilkan Jepang dalam usaha mengumandangkan perjuangan Romusa. Jepang yang saat itu merebut simpati masyarakat lewat gerakan Romusa, merekrut masyarakat Indonesia untuk bersatu melawan Belanda dan sekutunya melihat karya Affandi kurang menguntungkan pihaknya. Menurut pihak Jepang karya tersebut memperlihatkan kekejaman penjajah terhadap penduduk.

Humanisme Affandi terlihat juga pada karyanya "Dia Datang, Menunggu, dan Pergi" (1944). Dalam karya ini ditampilkan seorang pengemis yang baru datang, kemudian meminta, lalu pergi. Raut muka pengemis yang kurus dengan pakaian lusuh, namun dari sisa ketegarannya masih bersemangat menjalani kehidupan walaupun dengan mengemis. Pengamatan Affandi seperti ini menunjukkan keprihatinan jiwanya terhadap penderitaan sesama antara anak bangsa. Tema-tema kerakyatan menjadi dominasi dalam karya-karya Affandi.

Almarhum Dullah seniman lukis Indonesia menyebutkan, Affandi punya perhatian yang sangat besar terhadap kemanusiaan, seperti tercermin dalam lukisannya yang lebih banyak menggambarkan sifat humanis. Karena itulah, dia jarang mau berucap atau bertutur kata yang menyakitkan. Jiwa dan hasil karya Affandi yang humanis menjadikan dirinya menerima hadiah perdamaian internasional dari Dag Hammarskjoeld yang dibagikan dalam suatu upacara di gedung San marzano, Florence, Itali.

Demikian sebagian perjuangan Affandi dalam bidang seni lukis Indonesia yang kini diwariskan pada generasi sekarang. Tanggal 23 Mei 1990 adalah waktu kepergian sang Maestro untuk menghadap sang Pencipta. Tanpa terasa, 15 tahun sudah kepergian seniman humanis Indonesia itu.

 

* i wayan kondra,

  ISI Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com