Kekuatan Magis ''Pis Bolong'', Benarkah
Ada?
Pis bolong
atau uang kepeng pernah menjadi alat transaksi di Bali pada masa
lampau.
Bentuknya bulat pipih dan pada bagian
tengahnya berlobang. Pada kedua
permukaannya berisi tulisan huruf Cina. Di Bali, uang
kepeng ini masih memiliki fungsi di masyarakat Hindu Bali.
Berbagai sarana upacara masih
memanfaatkannya, serta dimanfaatkan pula untuk membuat benda-benda
cenderamata untuk kepentingan pariwisata.
--------------------------
PENDAPAT
beberapa para ahli di bidang benda-benda purbakala meyakini bahwa
uang kepeng berasal dari negeri Cina.
Salah satunya adalah pendapat dari F.A.
Liefrinch yang menyebutkan uang kepeng sebagai Chinese coins.
Pendapat ini didasari
karena pada kedua permukaan uang kepeng tersebut berisi tulisan
huruf Cina.
Menurut
cerita pada masa lampau, ada seorang musafir dari dari Cina yang
bernama Fa Hien pergi berlayar menuju ke tanah Hindu yaitu India
dan Srilangka.
Setelah beberapa lama berada di
sana,
ia kemudian kembali ke negeri asalnya sekitar 414 Masehi.
Namun di tengah perjalanan, kapal yang
ditumpanginya diserang badai dan mengalami kerusakan.
Kapal tersebut kemudian terdampar di sebuah
pulau yang kemudian dikenal sebagai Ya-wa-di.
Konon yang dimaksud dengan Ya-wa-di adalah
Jawa Dwipa atau Pulau Jawa. Ada kemungkinan pada masa itu
uang kepeng sudah mulai diperkenalkan di
sana.
Namun ada
para ahli yang berpendapat bahwa uang kepeng dikenal di Indonesia
pada masa kerajaan di Nusantara menjalin hubungan dagang dengan
negeri Cina.
Seperti diketahui bahwa bangsa Cina memang
terkenal sebagai bangsa pedagang sejak zaman dulu. Pada
masa itu mereka sudah melakukan perdagangan dengan bangsa-bangsa
di belahan dunia lain, baik lewat darat
maupun lewat lautan. Bukti adanya hubungan dagang antara negeri
Cina dengan raja-raja di Pulau Jawa dapat dibuktikan dengan
ditemukannya uang kepeng dalam jumlah yang cukup banyak di
beberapa kota seperti Pati, Kudus, Batang, Kendal, Cilacap,
Temanggung, Purworejo, Blora, yang secara geografis kebanyakan
terletak di pesisir pantai. R. Gorris, seorang sejarawan dari
Belanda yang lama tinggal di Sanglah, Denpasar, menyatakan bahwa
uang kepeng sudah dikenal di Bali sekitar 882 Masehi.
Bagi
sebagian masyarakat Hindu Bali, uang kepeng jenis tertentu
diyakini memiliki kekuatan gaib atau magis.
Menurut Koentjoroningrat, kemampuan manusia untuk menghadapi hidup
ini memang dilandasi oleh naluri dan ilmu pengetahuan. Namun
terkadang semua itu tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapinya secara tuntas dengan cara
rasional. Untuk itu mereka kemudian menyiasatinya dengan
cara yang irasional yakni dengan ilmu
gaib atau magis.
Dikatakan juga bahwa ilmu gaib yang dimaksud adalah cara-cara
manusia untuk mempengaruhi alam dalam usahanya untuk mencapai
tujuan.
Adanya
usaha manusia yang sedemikian itu pada akhirnya memunculkan
benda-benda yang memiliki kekuatan gaib, salah satunya adalah
dalam bentuk uang kepeng.
Tentunya uang kepeng jenis ini memiliki
kekhususan yang tidak dimiliki oleh uang kepeng biasa.
Kalau uang kepeng biasa pada umumnya pada dua sisinya berisi
tulisan Cina, namun pada uang kepeng gaib pada salah satu sisinya
akan berisi rerajahan atau gambar tertentu di antaranya gambar
Arjuna, Bima, Kresna, Panca Pandawa, Tualen, Sangut, Hanoman, Kuda,
Jaring, sampai Bulan Sabit.
Uang kepeng
yang berisi rerajahan itu pada umumnya memiliki kekuatan sesuai
dengan gambar yang terdapat pada salah satu sisi dari uang kepeng
tersebut.
Kekuatan gaibnya akan muncul kalau si
pemilik atau pembawa uang kepeng tersebut yakin akan hal itu.
Beberapa selentingan memang terdengar santer
di masyarakat bahwa kekuatan gaib uang kepeng memang sangat
dahsyat. Seseorang yang menjuarai lomba
lari jarak jauh digosipkan memiliki uang kepeng bergambar kuda
atau lebih dikenal dengan pis jaran.
Seorang pemuda yang wajahnya
tidak begitu menjanjikan tiba-tiba menikah dengan seorang gadis
secantik bidadari, kemudian diisukan punya pis Rejuna.
Fungsi
Magis
Benarkah
itu?
Bagi sebagian lainnya hal itu dianggap sebagai
lelucon murahan. Uang kepeng Arjuna
atau pis Rejuna, sesuai dengan sebutannya, maka pada salah satu
sisinya terdapat gambar Arjuna. Dalam
cerita Mahabharata, Arjuna dikenal sebagai putra ketiga dari Dewi
Kunti dan nomor tiga dari Panca Pandawa. Di samping pandai
memanah, ia juga dikenal sebagai
ksatria yang gagah berani. Wajahnya yang rupawan menyebabkan
ia diidolakan oleh banyak wanita.
Hal ketampanan itulah
yang sebenarnya menjadi penyebab pengapa banyak lelaki kemudian
berkeinginan untuk memiliki pis Rejuna tersebut.
Di samping itu, sebagian masyarakat ada yang
meyakini bahwa dengan menjadikan pis Rejuna sebagai jimat
akan menyebabkan banyak wanita
tergila-gila pada si pemilik pis tersebut. Namun ada pendapat lain
yang mengatakan bahwa pis Rejuna fungsinya tiada lain untuk
melanggengkan hubungan orang bersuami-istri atau hubungan sejoli
yang sedang dilanda
asmara.
Lalu, pis
Kresna, sesuai dengan peran Kresna dalam dunia pewayangan, maka
fungsinya adalah sebagai penuntun ke arah kebajikan dan kebijakan.
Dipercaya juga bahwa orang yang menjadikan pis Kresna sebagai
jimat akan memiliki sifat-sifat mulia
seperti selalu berpihak pada kebenaran, jujur, dan selalu
menegakkan keadilan.
Oleh karenanya benda ini sangat cocok dimiliki oleh seorang
pemimpin negara.
Pis Bima
memiliki kekuatan gaib yang pada intinya menjunjung tinggi
kejujuran dan kebenaran.
Oleh karenanya, pis Bima sangat cocok dimiliki
oleh orang yang mengemban tugas sebagai Pecalang. Di
samping itu, bagi orang yang menjadikan pis Bima sebagai jimat
akan menjadikan dirinya tangkas dan
mahir dalam berperang.
Begitu pula halnya dengan pis Anoman, keistimewaannya adalah mampu
memberikan kekuatan dan tenaga seperti angin kepada orang yang
membawanya.
Pis Panca Pandawa, dinamakan demikian, karena pada
permukaan trep terdapat gambar dari kelima ksatria putra Pandu,
yaitu: Dharmawangsa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa.
Pis ini dipercaya memiliki
kekuatan gaib seperti kewibawaan, kekuatan, dan juga kebijaksanaan.
Lantas, pis
Sangut?
Ini sangat diminati oleh banyak orang karena memiliki kekuatan
magis sama seperti tokoh Sangut dalam
cerita pewayangan. Dengan membawa pis Sangut sebagai jimat maka
orang akan menjadi sangat lihai dalam
berdebat. Demikian pula halnya dengan pis
Tualen yang juga diyakini memiliki kekuatan gaib. Dipercaya
bahwa dengan membawa pis Tualen ini orang akan
merasa tenang saat berhadapan dengan situasi apapun.
Ia akan disegani oleh musuh-musuhnya,
serta mampu mempengaruhi pikiran dan pendapat orang lain.
Pis jaring,
sesuai dengan namanya, diyakini memiliki kekuatan untuk "menjaring"
rezeki.
Sesuai dengan namanya, benda ini sangat cocok
dimiliki oleh nelayan.
Di samping untuk mendapatkan banyak ikan, pis
jaring ini juga diyakini mampu memberikan keselamatan pada
pemiliknya.
Sebenarnya
masih ada banyak lagi jenis pis bolong atau uang kepeng rerajahan
yang beredar terbatas di masyarakat dengan gambar atau simbol yang
berbeda-beda satu dengan lainnya.
Namun perlu dipahami bahwa pis bolong jenis
ini juga ada banyak tiruannya.
Tentunya yang ini tidak memiliki kekuatan gaib
apa-apa dan perannya juga hanya terbatas sebagai benda aksesoris
belaka.
*
gung man