kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 4 April 2005

 Mancanegara


Paus
Paulus II Wafat 

Vatican City -
Perasaan
sedih menyelimuti warga kristiani seluruh dunia Minggu (3/4) kemarin di Vatikan. Lebih dari 100.000 orang memenuhi bundaran Vatikan dan mengitari jalan-jalan hingga terlihat pemandangan lautan manusia saat mereka mengenang almarhum Paus Yohanes Paulus II sebagai ''Bapa dan pelindung'' mereka.

''Ini benar, jiwa kami sangat terguncang oleh peristiwa menyakitkan ini. Bapa dan pelindung kita telah berpulang,'' kata Kardinal Angelo Sodano, yang merupakan wakil dari Paus, di depan ribuan orang yang mengenang kepergian almarhum dan dimpimpin oleh lusinan kardinal.

''Selama 26 tahun dia telah membawa dan menyampaikan harapan dari warga kristiani ke seluruh dunia, dia mengajarkan bahwa kematian kita hanyalah salah satu lingkaran kehidupan menuju tempat yang abadi,'' kata Sodano dengan nada sedih.

Sodano, yang hadir di sisi tempat tidur saat Paus berpulang Sabtu petang, mengatakan Paus yang berusia 84 tahun berjuang menghadapi komplikasi penyakit yang menggerogotinya selama beberapa bulan terakhir. Ia berpulang dengan tenang.

''Saya menyaksikan saat-saat kepergiannya, saat di mana dia terlihat begitu tenang dan saya berdoa di samping pembaringan Paus,'' kata Sodano.

Saat itu musik paduan suara Renaissance terdengar sayup-sayup dan Apostolic Palace menyaksikan kepergian Paus yang dikelilingi oleh beberapa asisten terdekatnya.

 

Setengah Tiang 

Di seluruh kota Roma bendera setengah tiang dikibarkan pada gedung-gedung pemerintahan dan publik Italia memulai hari pertama dari tiga hari untuk memperingati warga terhormat yang meninggal.

Juru bicara Vatikan Joaquin Navarro-Valls mengatakan Paus meninggal saat ia diberikan upacara keagamaan terakhirnya.

Media Italia melaporkan pemimpin agama terkemuka ini mengembuskan napas terakhirnya saat ia menggenggam tangan sekretaris pribadinya, Uskup Besar Sanislaw Dziwisz asal Polandia. Paus mengucapkan kata terakhirnya dengan menyebutkan ''amin''.

Dalam sejarah selama empat setengah abad terakhir, Yohanes Paulus II merupakan Paus pertama yang bukan berkewarganegaraan Italia. Dia juga merupakan Paus pertama yang berasal dari belahan Eropa Timur. (ton/afp)

 

 

Pesan Terakhirnya

 

DILAHIRKAN di Karol Wojtyla, Polandia saat negara ini berada dalam kondisi terguncang, ia kemudian tumbuh dan menjadi kepala sebuah gereja pada umur 58 tahun, Oktober 1978. Ia merupakan sosok yang hangat dengan gaya komunikatif.

Diilhami oleh peran dari pendahulunya, Paus berjuang untuk melawan kemiskinan dan menciptakan perdamaian di seluruh dunia.

Sesaat sebelum pemimpin agama ini mengembuskan napas terakhirnya, ia sempat mengucapkan beberapa patah pesan yang ditujukan kepada para pengikutnya. Ia mengatakan dengan penuh cinta; tekanlah keinginan dan berikan perdamaian. Demikian bunyi pesan terakhir Paus yang dibacakan di depan kerumunan massa oleh Uskup Besar Leonardo Sandri.

Setelah mendengar Paus II wafat, umat Katolik di berbagai belahan dunia menggelar misa khusus untuk perhentian jiwa dari Paus Yohanes Paulus II. Tak ketinggalan umat Katolik di Denpasar. Dalam suasana duka, umat Katolik mendaraskan doa ke hadirat Ilahi untuk Sri Paus yang telah pergi dari dunia fana. Dia menyimpan begitu banyak kenangan dalam memori orang-orang Katolik, maupun yang pernah bersua dengannya.

Penyelenggaraan misa di sejumlah gereja Katolik di Denpasar secara khusus mengenang Sri Paus. Antara lain di Gereja Katedral, Gereja Kepundung, Gereja Emmanuel Sudirman dan Gereja Monang Maning. Pastor Paroki St. Yoseph Denpasar Servatius Subagya, SVD yang memimpin misa di Gereja Kepundung menegaskan, Paus merupakan sosok yang patut diteladani. Paus sumber inspirasi bagi kedamaian dan cinta kasih. Selama memimpin gereja Katolik sedunia dalam 26 tahun terakhir, Paus Yohanes Paulus II telah menggoreskan sederet karya monumental bagi kemanusiaan dan perdamaian.

Sebelum dinobatkan jadi Paus pada 16 Oktober 1978, pria bernama asli Karol Joseph Wojtyla adalah seorang kardinal. Wojtyla lahir di sebuah kota kecil Wadowice, Polandia pada 18 Mei 1920. Dalam usia 26 tahun, dia ditabiskan menjadi seorang pastor setelah sebelumnya belajar teologi di seminari di kotanya. Dinilai berhasil menjalankan tugas pastoralnya pada tahun 1964, Pater Wajtyla dikukuhkan sebagai uskup agung untuk tiga tahun kemudian diangkat jadi kardinal.

Sebagian besar umat Katolik dunia sebelumnya tak begitu mengenal sosok Wojtyla. Namun, semuanya takjub ketika dia menggantikan Paus Yohanes Paulus I yang mangkat setelah menjadi Paus selama 33 hari. Sekaligus tercatat sebagai Paus pertama yang bukan berwarga negara Italia dalam lima abad terakhir. Seorang koleganya, Uskup Agung dari Filipina dengan jenaka melukiskan penobatan Wojtyla, ''Dia pergi ke Roma untuk pertemuan tertutup Dewan Kardinal berbekal tiket pulang-pergi dari Krakow, Polandia. Namun, tiket pulangnya tak pernah dipakai karena keburu terpilih jadi Paus.''

Paus Yohanes Paulus II dikenal punya komitmen tinggi pada kemanusiaan dan cinta kasih. Dalam berbagai lawatannya ke lebih dari 100 negara, Sri Paus selalu menyerukan perdamaian dunia. Dunia, bumi selalu punya tempat tersendiri dalam hatinya yang lembut yang dianggapnya sebagai ciptaan Tuhan yang suci. Tak aneh ketika Sri Paus mengunjungi berbagai negara, setelah turun dari tangga pesawat, dia pasti bersujud mencium bumi. ''Terberkatilah engkau bumi, ciptaan-Nya,'' begitu selalu dia bergumam.  

Sri Paus juga menyadari perdamaian tidak datang begitu saja, melainkan harus diperjuangkan. Itulah sebabnya selama berkarya lebih dari 26 tahun, Sri Paus intens membangun relasi dengan berbagai unsur di luar Katolik, lintas budaya, dan lintas bangsa. Kehadirannya di Indonesia tahun 1989 bisa jadi contoh, dia ingin menawarkan persahabatan dengan negara yang mayoritas Islam. Tak hanya itu, dia juga membangun relasi dengan kelompok agama lain, Buddha, Hindu, bahkan Yahudi. Bagi Paus, semua agama mewartakan kebenaran.

Paus tak pernah memendam kebencian, termasuk kepada mereka yang memusuhinya. Dengan penuh ketulusan Sri Paus memaafkan Ali Agca, yang sempat merobek lambungnya dengan pelor dalam suatu drama penembakan tahun 1981. Sebagaimana diketahui, kendati berhasil dioperasi, efek penembakan itu kemudian menjadi pemicu kian merosotnya kondisi kesehatan Paus Yohanes Paulus II. Beberapa tahun kemudian, sosok yang selalu menebar senyum ini menjadi langganan meja operasi, sampai akhirnya dirawat karena flu sebelum perayaan Paskah 2005. Ternyata, inilah Paskah terakhir baginya, sebelum tutup usia Minggu dini hari kemarin. (ton/gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)