Paus
Paulus II
Wafat
Vatican City -
Perasaan
sedih
menyelimuti warga
kristiani
seluruh
dunia Minggu (3/4)
kemarin
di Vatikan.
Lebih
dari 100.000 orang
memenuhi
bundaran
Vatikan
dan mengitari
jalan-jalan
hingga
terlihat pemandangan
lautan
manusia saat
mereka
mengenang almarhum
Paus
Yohanes Paulus II
sebagai ''Bapa
dan
pelindung'' mereka.
''Ini
benar, jiwa
kami
sangat terguncang
oleh
peristiwa menyakitkan
ini.
Bapa
dan pelindung
kita
telah berpulang,''
kata
Kardinal Angelo Sodano,
yang merupakan
wakil
dari Paus,
di
depan ribuan
orang yang
mengenang
kepergian
almarhum
dan
dimpimpin oleh
lusinan
kardinal.
''Selama
26 tahun
dia
telah membawa
dan
menyampaikan harapan
dari
warga kristiani
ke
seluruh dunia,
dia
mengajarkan bahwa
kematian
kita
hanyalah salah
satu
lingkaran kehidupan
menuju
tempat yang abadi,''
kata
Sodano dengan nada
sedih.
Sodano,
yang hadir
di sisi
tempat
tidur saat
Paus
berpulang Sabtu
petang,
mengatakan Paus yang
berusia 84
tahun
berjuang menghadapi
komplikasi
penyakit yang
menggerogotinya
selama
beberapa bulan
terakhir.
Ia
berpulang
dengan
tenang.
''Saya
menyaksikan saat-saat
kepergiannya,
saat di
mana
dia terlihat
begitu
tenang dan
saya
berdoa di
samping
pembaringan Paus,''
kata
Sodano.
Saat
itu
musik paduan
suara Renaissance
terdengar
sayup-sayup
dan Apostolic Palace
menyaksikan
kepergian
Paus yang
dikelilingi
oleh
beberapa asisten
terdekatnya.
Setengah
Tiang
Di
seluruh
kota
Roma bendera
setengah
tiang
dikibarkan pada
gedung-gedung
pemerintahan
dan
publik Italia memulai
hari
pertama dari
tiga
hari untuk
memperingati
warga
terhormat yang meninggal.
Juru
bicara
Vatikan Joaquin Navarro-Valls
mengatakan
Paus
meninggal saat
ia
diberikan
upacara
keagamaan terakhirnya.
Media Italia melaporkan
pemimpin agama
terkemuka
ini
mengembuskan napas
terakhirnya
saat
ia
menggenggam
tangan
sekretaris pribadinya,
Uskup
Besar Sanislaw
Dziwisz
asal Polandia.
Paus
mengucapkan
kata
terakhirnya dengan
menyebutkan ''amin''.
Dalam
sejarah
selama empat
setengah
abad
terakhir, Yohanes
Paulus II
merupakan
Paus
pertama yang bukan
berkewarganegaraan Italia.
Dia
juga
merupakan Paus
pertama yang
berasal
dari belahan
Eropa
Timur. (ton/afp)
Pesan
Terakhirnya
DILAHIRKAN di Karol
Wojtyla,
Polandia
saat
negara ini
berada
dalam kondisi
terguncang,
ia
kemudian
tumbuh
dan menjadi
kepala
sebuah gereja
pada
umur 58 tahun,
Oktober 1978.
Ia
merupakan
sosok yang
hangat
dengan
gaya
komunikatif.
Diilhami
oleh
peran dari
pendahulunya,
Paus
berjuang untuk
melawan
kemiskinan dan
menciptakan
perdamaian
di
seluruh dunia.
Sesaat
sebelum
pemimpin agama ini
mengembuskan
napas
terakhirnya,
ia
sempat
mengucapkan beberapa
patah
pesan yang ditujukan
kepada
para pengikutnya.
Ia
mengatakan
dengan
penuh cinta;
tekanlah
keinginan
dan
berikan perdamaian.
Demikian
bunyi
pesan terakhir
Paus yang
dibacakan
di
depan kerumunan
massa
oleh
Uskup Besar Leonardo
Sandri.
Setelah
mendengar
Paus II
wafat, umat
Katolik
di berbagai
belahan
dunia menggelar
misa
khusus untuk
perhentian
jiwa
dari Paus
Yohanes
Paulus II.
Tak
ketinggalan
umat
Katolik di
Denpasar.
Dalam
suasana duka,
umat
Katolik mendaraskan
doa
ke
hadirat Ilahi
untuk Sri
Paus yang
telah
pergi dari
dunia
fana.
Dia
menyimpan
begitu
banyak kenangan
dalam
memori orang-orang
Katolik,
maupun yang
pernah
bersua dengannya.
Penyelenggaraan
misa di
sejumlah
gereja
Katolik di
Denpasar
secara
khusus mengenang Sri
Paus.
Antara
lain di
Gereja Katedral,
Gereja
Kepundung, Gereja
Emmanuel Sudirman
dan
Gereja Monang
Maning. Pastor
Paroki St.
Yoseph
Denpasar Servatius
Subagya, SVD yang
memimpin
misa di
Gereja
Kepundung menegaskan,
Paus
merupakan sosok yang
patut
diteladani.
Paus
sumber
inspirasi bagi
kedamaian
dan
cinta kasih.
Selama
memimpin gereja
Katolik
sedunia dalam 26
tahun
terakhir, Paus
Yohanes
Paulus II telah
menggoreskan
sederet
karya monumental bagi
kemanusiaan
dan
perdamaian.
Sebelum
dinobatkan
jadi
Paus pada 16
Oktober 1978,
pria
bernama asli Karol
Joseph Wojtyla
adalah
seorang kardinal.
Wojtyla
lahir di
sebuah
kota
kecil
Wadowice, Polandia
pada 18
Mei 1920. Dalam
usia
26 tahun,
dia
ditabiskan menjadi
seorang pastor
setelah
sebelumnya belajar
teologi
di seminari
di
kotanya.
Dinilai
berhasil
menjalankan
tugas
pastoralnya pada
tahun 1964,
Pater
Wajtyla dikukuhkan
sebagai
uskup agung
untuk
tiga tahun
kemudian
diangkat
jadi
kardinal.
Sebagian
besar
umat Katolik
dunia
sebelumnya tak
begitu
mengenal sosok
Wojtyla.
Namun,
semuanya
takjub
ketika dia
menggantikan
Paus
Yohanes Paulus I yang
mangkat
setelah menjadi
Paus
selama 33 hari.
Sekaligus
tercatat
sebagai
Paus pertama yang
bukan
berwarga negara
Italia dalam
lima
abad
terakhir.
Seorang
koleganya,
Uskup
Agung dari Filipina
dengan
jenaka melukiskan
penobatan
Wojtyla, ''Dia
pergi
ke Roma untuk
pertemuan
tertutup
Dewan
Kardinal berbekal
tiket
pulang-pergi dari
Krakow,
Polandia.
Namun,
tiket
pulangnya tak
pernah
dipakai karena
keburu
terpilih jadi
Paus.''
Paus
Yohanes
Paulus II dikenal
punya
komitmen tinggi
pada
kemanusiaan dan
cinta
kasih.
Dalam
berbagai
lawatannya
ke
lebih dari 100
negara, Sri
Paus
selalu menyerukan
perdamaian
dunia.
Dunia,
bumi
selalu punya
tempat
tersendiri dalam
hatinya yang
lembut yang
dianggapnya
sebagai
ciptaan Tuhan yang
suci.
Tak
aneh
ketika Sri Paus
mengunjungi
berbagai
negara,
setelah turun
dari
tangga pesawat,
dia
pasti bersujud
mencium
bumi. ''Terberkatilah
engkau
bumi, ciptaan-Nya,''
begitu
selalu dia
bergumam.
Sri Paus
juga
menyadari perdamaian
tidak
datang begitu
saja,
melainkan harus
diperjuangkan.
Itulah
sebabnya selama
berkarya
lebih
dari 26 tahun, Sri
Paus
intens membangun
relasi
dengan berbagai
unsur
di luar
Katolik,
lintas
budaya, dan
lintas
bangsa.
Kehadirannya
di Indonesia
tahun 1989
bisa
jadi contoh,
dia
ingin menawarkan
persahabatan
dengan
negara yang mayoritas
Islam. Tak
hanya
itu, dia
juga
membangun relasi
dengan
kelompok agama lain, Buddha, Hindu,
bahkan
Yahudi. Bagi
Paus,
semua agama mewartakan
kebenaran.
Paus
tak
pernah memendam
kebencian,
termasuk
kepada
mereka yang memusuhinya.
Dengan
penuh
ketulusan Sri Paus
memaafkan Ali
Agca, yang
sempat
merobek lambungnya
dengan
pelor dalam
suatu drama
penembakan
tahun 1981.
Sebagaimana
diketahui,
kendati
berhasil dioperasi,
efek
penembakan itu
kemudian
menjadi
pemicu kian
merosotnya
kondisi
kesehatan Paus
Yohanes
Paulus II.
Beberapa
tahun
kemudian, sosok yang
selalu
menebar senyum
ini
menjadi langganan
meja
operasi, sampai
akhirnya
dirawat
karena flu sebelum
perayaan
Paskah 2005.
Ternyata,
inilah
Paskah terakhir
baginya,
sebelum
tutup
usia Minggu
dini
hari kemarin.
(ton/gre)