kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 4 April 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Gagal
Masuk Jajaran DPP ---
Kader
PDI-P Bali Perlu Introspeksi 

Kongres II PDI-P berjalan sukses, Megawati merhasil dipilh kembali sebagai Ketua DPP secara aklamasi. Namun di balik kesuksesan itu para kader merasa kecewa karena tidak ada satu pun dalan kepengurusan DPP periode 2005-2010 nama kader dari Bali tercantum. Kenyataan ini sudah seharusnya membuat kader-kader PDI-P Bali introspeksi diri. Apakah SDM PDI-P Bali memang tidak ada yang memenuhi kriteria untuk berkiprah di tingkat nasional, dan hanya bisa ''bermain'' di daerah? Tetapi, itulah politik. Kalau ingin perubahan yang menyeluruh seharusnya sumber daya morallah yang diperbarui. Kekecewaan boleh-boleh saja ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa dikembalikan seperti sediakala lagi. Itulah antara lain opini dalam Warung Global interaktif Bali Post yang disiarkan Radio Global 96,5 FM Kinijani, Sabtu (2/4) lalu, yang dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

 

 

Menurut Jujur, orang Bali pemaaf, di sisi lain keberhasilan Megawati karena orang Bali. Namun, manisnya pemerintahan yang pernah sempat dipegang Mega adalah wujud dari kefanatisan warga Bali yang terlalu berlebihan. Sementara kefanatisan tersebut tidak memberikan yang lebih baik untuk Bali. Atau karena Bali bisa diatur?

Jero Wijaya menyatakan, penyebabnya adalah lantaran ada kekecewaan di hati sanubari seorang Mega, karena ketika Mega merencanakan melakukan Kongres II di Bali karena DPP berkeinginan menggali kembali kebangkitan PDI-P. Jika dibandingakn dengan kongres yang I hampir di setiap rumah simpatisan berisi bendera PDI-P, sementara sekarang satu pun tidak ada. Inilah menyebabkan target kader Bali menjadi pengurus di DPP tidak memungkinkan.

Sementara itu, Darma Yasa di Singaraja mengatakan, sebetulnya orang Bali bisa bersaing namun semuanya kembali ke masalah uang. Di samping itu, Mega sebaiknya memberikan kesempatan kepada yang lebih muda dan  Mega sebaiknya berposisi sebagai penasihat.

Dogler di Gianyar menyatahan, hal tersebut sah-sah saja, walau memang di satu sisi kecewa. Namun, harus diketahui bahwa kemenangan PDI-P di Bali bukan karena pengurus tetapi karena karisma Megawati. Di sisi lain karena elite-elite Bali kiprahnya secara nasional tidak kelihatan.

Sementara Mahayadi di Badung menyesalkan kalau Ibu Mega harus minta maaf. Bali dijadikan ajang kongres karena merupakan tempat yang aman. Warga Bali dianggap dari kinerja memimpin kurang pas. Menurut Mahayadi, tidak cukup hanya kata maaf, tetapi justru kita dibuat seperti kambing hitam.

Kata Pande, seharusnya kita berterima kasih karena Megawati sangat objektif, karena kata maaf yang paling tepat untuk kader-kader Bali. Kader-kader Bali belum pantas di pusat, hanya tepat untuk lingkup daerah. Namun, sejatinya bila berpikir lebih luas dan jauh tentang kemajuan partai ke depan, Kongres PDI-P belum bisa dipakai barometer kesuksesan.

Menurut Wijaya di Sanur, politik bagaikan sayur dalam kehidupan. Kongres di Bali belum melahirkan seorang pemimpin, jika ingin perubahan yang menyeluruh seharusnya SDM (sumber daya moral) yang harus diperbarui.

Agus Supra di Denpasar menambahkan, kemungkinan kekecewaan memang beralasan karena selama ini kader-kader partai di Bali banyak membantu kesuksesan kongres I maupun II. Namun disayangkan keputusan yang ada, ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa dikembalikan lagi. Sehingga yang perlu sekarang adalah introspeksi diri. Inilah politik. * panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)