Dari Warung Global
Interaktif Bali
Post
Gagal
Masuk
Jajaran DPP ---
Kader
PDI-P Bali Perlu
Introspeksi
Kongres
II PDI-P berjalan
sukses, Megawati
merhasil
dipilh
kembali
sebagai
Ketua DPP
secara
aklamasi.
Namun
di
balik
kesuksesan
itu
para
kader
merasa
kecewa
karena
tidak
ada
satu pun
dalan
kepengurusan DPP
periode 2005-2010
nama
kader
dari Bali
tercantum.
Kenyataan
ini
sudah
seharusnya
membuat
kader-kader PDI-P
Bali introspeksi
diri.
Apakah SDM
PDI-P Bali memang
tidak
ada yang
memenuhi
kriteria
untuk
berkiprah
di
tingkat
nasional,
dan
hanya
bisa ''bermain''
di
daerah?
Tetapi,
itulah
politik.
Kalau
ingin
perubahan yang
menyeluruh
seharusnya
sumber
daya
morallah yang
diperbarui.
Kekecewaan
boleh-boleh
saja
ibarat
nasi
sudah
menjadi
bubur,
tidak
ada yang
bisa
dikembalikan
seperti
sediakala
lagi.
Itulah
antara lain
opini
dalam
Warung Global
interaktif Bali
Post yang disiarkan
Radio Global 96,5
FM Kinijani,
Sabtu (2/4)
lalu, yang
dipancarluaskan
oleh Radio
Genta
Swara
Sakti Bali
dan Radio
Singaraja FM.
Berikut
rangkuman
selengkapnya.
Menurut
Jujur,
orang Bali
pemaaf,
di
sisi lain
keberhasilan
Megawati karena
orang Bali.
Namun,
manisnya
pemerintahan yang
pernah
sempat
dipegang Mega
adalah
wujud
dari
kefanatisan
warga
Bali
yang terlalu
berlebihan.
Sementara
kefanatisan
tersebut
tidak
memberikan yang
lebih
baik
untuk
Bali.
Atau
karena
Bali
bisa
diatur?
Jero
Wijaya
menyatakan,
penyebabnya
adalah
lantaran
ada
kekecewaan
di
hati
sanubari
seorang Mega,
karena
ketika Mega
merencanakan
melakukan
Kongres II
di Bali
karena DPP
berkeinginan
menggali
kembali
kebangkitan PDI-P.
Jika
dibandingakn
dengan
kongres yang I
hampir
di
setiap
rumah
simpatisan
berisi
bendera PDI-P,
sementara
sekarang
satu pun
tidak
ada.
Inilah
menyebabkan target
kader Bali
menjadi
pengurus
di DPP
tidak
memungkinkan.
Sementara
itu,
Darma
Yasa
di
Singaraja
mengatakan,
sebetulnya
orang Bali
bisa
bersaing
namun
semuanya
kembali
ke
masalah
uang.
Di
samping
itu, Mega
sebaiknya
memberikan
kesempatan
kepada yang
lebih
muda
dan
Mega sebaiknya
berposisi
sebagai
penasihat.
Dogler
di
Gianyar
menyatahan,
hal
tersebut
sah-sah
saja,
walau
memang
di
satu
sisi
kecewa.
Namun,
harus
diketahui
bahwa
kemenangan PDI-P
di Bali
bukan
karena
pengurus
tetapi
karena
karisma Megawati.
Di
sisi
lain
karena elite-elite
Bali kiprahnya
secara
nasional
tidak
kelihatan.
Sementara
Mahayadi
di
Badung
menyesalkan
kalau
Ibu Mega
harus
minta
maaf.
Bali
dijadikan
ajang
kongres
karena
merupakan
tempat yang
aman.
Warga
Bali dianggap
dari
kinerja
memimpin
kurang pas.
Menurut
Mahayadi,
tidak
cukup
hanya
kata
maaf,
tetapi
justru
kita
dibuat
seperti
kambing
hitam.
Kata
Pande,
seharusnya
kita
berterima
kasih
karena Megawati
sangat
objektif,
karena
kata
maaf yang paling
tepat
untuk
kader-kader Bali.
Kader-kader
Bali
belum
pantas
di
pusat,
hanya
tepat
untuk
lingkup
daerah.
Namun,
sejatinya
bila
berpikir
lebih
luas
dan
jauh
tentang
kemajuan
partai
ke
depan,
Kongres PDI-P
belum
bisa
dipakai barometer
kesuksesan.
Menurut
Wijaya
di
Sanur,
politik
bagaikan
sayur
dalam
kehidupan.
Kongres
di Bali
belum
melahirkan
seorang
pemimpin,
jika
ingin
perubahan yang
menyeluruh
seharusnya SDM (sumber
daya moral) yang
harus
diperbarui.
Agus
Supra di
Denpasar
menambahkan,
kemungkinan
kekecewaan
memang
beralasan
karena
selama
ini
kader-kader
partai
di Bali
banyak
membantu
kesuksesan
kongres I
maupun II.
Namun
disayangkan
keputusan yang
ada,
ibarat
nasi
sudah
menjadi
bubur,
tidak
bisa
dikembalikan
lagi.
Sehingga
yang perlu
sekarang
adalah
introspeksi
diri.
Inilah
politik.
*
panca