kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 16 April 2005

 Surat Pembaca


Mengembangkan
Wisata tanpa Mengganggu Lumba-lumba 

Menarik tulisan Wirasanjaya di kolom ini (Bali Post, 14/4) tentang lumba-lumba di Lovina. Memang sudah saatnya dipikirkan kemungkinan pengembangannya karena selama ini karya alam tersebut ''dikejar-kejar'' oleh perahu-perahu motor yang membawa wisatawan, sehingga lumba-lumba tersebut kocar-kacir. Sampai-sampai ada wisatawan yang berkomentar  kecewa bahwa yang mereka tonton bukanlah lumba-lumbanya melainkan perahu-perahu motor yang saling kejar-kejaran.

Khawatirnya lumba-lumba itu merasa terganggu oleh ulah tersebut lalu pindah tempat. Kalau ini terjadi maka Buleleng akan kehilangan salah satu daya tarik utamanya. Apalagi sampai sekarang obyek wisata di Buleleng semuanya 'buatan' alam, selain Brahmavihara di Banjar.

Gagasan berikut ini kiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan:

* Pembuatan tongkang apung dari mana wisatawan menyaksikan lumba-lumba. Kalau lumba-lumba tersebut diberi makanan secara teratur di sana, pastilah mereka berkumpul di sekitar tongkang. Lumba-lumba tersebut akan beratraksi secara alamiah karena merasa tenang tidak dikejar-kejar lagi.

* Perahu motor hanya dipakai untuk mengantar wisatawan ke tongkang dan diusahakan setenang mungkin agar tidak mengganggu dolphin tersebut. Misalnya dengan menggunakan daya luncur untuk mencapai tongkang. Mengingat potensi wisata alam maupun budaya Buleleng yang begitu besar, kalau dikembangkan secara profesional akan membuat Buleleng bangkit dari keterpurukannya.

 

Ir. Budi Ain

Jl. Ngurah Rai No. 15 Singaraja

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)