Mengembangkan
Wisata
tanpa
Mengganggu
Lumba-lumba
Menarik
tulisan
Wirasanjaya
di
kolom ini (Bali
Post, 14/4) tentang
lumba-lumba
di
Lovina.
Memang
sudah
saatnya dipikirkan
kemungkinan
pengembangannya
karena
selama
ini
karya alam
tersebut ''dikejar-kejar''
oleh
perahu-perahu motor yang
membawa wisatawan,
sehingga
lumba-lumba
tersebut
kocar-kacir.
Sampai-sampai
ada
wisatawan yang
berkomentar
kecewa
bahwa yang
mereka
tonton
bukanlah
lumba-lumbanya
melainkan
perahu-perahu motor yang
saling
kejar-kejaran.
Khawatirnya
lumba-lumba
itu
merasa terganggu
oleh
ulah tersebut
lalu
pindah tempat.
Kalau
ini terjadi
maka
Buleleng
akan
kehilangan
salah
satu daya
tarik
utamanya.
Apalagi
sampai
sekarang
obyek
wisata di
Buleleng
semuanya 'buatan'
alam,
selain Brahmavihara
di
Banjar.
Gagasan
berikut
ini
kiranya dapat
dijadikan
bahan
pertimbangan:
* Pembuatan
tongkang
apung
dari mana
wisatawan
menyaksikan
lumba-lumba.
Kalau
lumba-lumba tersebut
diberi
makanan
secara
teratur
di
sana,
pastilah
mereka
berkumpul
di
sekitar tongkang.
Lumba-lumba
tersebut
akan
beratraksi
secara
alamiah
karena
merasa
tenang
tidak
dikejar-kejar lagi.
* Perahu
motor hanya
dipakai
untuk
mengantar wisatawan
ke
tongkang dan
diusahakan
setenang
mungkin agar
tidak
mengganggu dolphin
tersebut.
Misalnya
dengan
menggunakan
daya
luncur untuk
mencapai
tongkang.
Mengingat
potensi
wisata
alam
maupun budaya
Buleleng yang
begitu
besar,
kalau
dikembangkan secara
profesional
akan
membuat
Buleleng
bangkit
dari
keterpurukannya.
Ir. Budi
Ain
Jl.
Ngurah
Rai No. 15
Singaraja