Ratusan
Kades
Datangi Pemkab
Banyuwangi
Ancam
Boikot
Pilkada--
Banyuwangi
(Bali Post) -
Sedikitnya
176 kepala
desa (kades)
yang tergabung
dalam Forum
Komunikasi
dan
Solidaritas (Fokus)
Kepala
Desa se-Banyuwangi
mendatangi
Kantor
Pemkab Banyuwangi,
Jumat (15/4)
kemarin.
Mereka
menuntut
Bupati
Samsul Hadi
untuk
segera mencopot
semua
anggota KPUD Banyuwangi.
Alasannya,
mereka
dinilai telah
banyak
melakukan pelanggaran
yang mengakibatkan
suhu
politik di
Banyuwangi
terus
memanas.
Para
kepala
desa itu
menyatakan KPUD
sudah
tidak layak
dipercaya
lagi
kinerjanya.
Hal itu
terbukti,
keputusan yang
telah
diambil banyak yang
menyalahi
peraturan
dan
perudang-undangan yang ada.
Di
antaranya,
secara
sepihak memutuskan
salah
satu calon
bupati
dari DPC PKB yang tidak
mendapat
rekomendasi
dari DPP.
Kemudian,
ada
salah satu
anggota KPUD yang
mencalonkan
diri
dalam pilkada,
namun
belum ada
pemberitahuan yang
resmi
kepada masyarakat.
KPUD juga
dinilai
tidak transparan
dan
cenderung tidak
memproses
aspirasi
dari
masyarakat.
Akibatnya,
muncul
banyak kontroversi
dan
gesekan-gesekan di
masyarakat yang
bisa
menghambat jalannya
pilkada.
Jika
dalam
waktu tujuh
hari
jajaran muspida
tidak
segera mengambil
langkah
tegas, para
kepala
desa mengancam
tidak
akan
bertanggung
jawab
terhadap segala
akibat
karena tidak
suksesnya
pilkada. ''Jika
pilkada
diteruskan dalam
kondisi yang
terus
memanas, kami
tidak
yakin
akan sukses.
Justru
akan
ada
gesekan-gesakan dari
masyarakat,''
ujar
Abdus Salam,
Ketua
Fokus yang juga
Kades
Genteng Kulon.
Sementara
itu,
Kades Kali Kotak
Ahmad Mulyono
mengancam
tidak
akan
melaksanakan
pilkada
jika KPUD tetap
tidak
mau bertindak
jujur.
Lain lagi
keluhan
dari Kades
Wongsorejo,
Nanang.
Ia
sangat
menyesalkan KPUD yang
memiliki kewenangan
khusus
melaksanakan pilkada,
tetapi
malah membuat
suasana
makin kacau.
Menyikapi
tuntutan
para
kepala desa
itu,
Bupati Samsul
Hadi
berjanji
akan
segera
membuat kebijakan.
''Kalau
memang
ada landasan
hukum yang
mengatur,
saya
siap untuk
mengganti
semua
anggota KPUD,'' katanya.
Namun,
Bupati
meminta aturan main
yang ada
harus
dilaksanakan. ''Kita
harus benar-benar
mengkaji
secara
mendalam untuk
membuat
kebijakan
itu,''
lanjut
Samsul.
Ratusan
kades
itu datang
secara
tertib dan
langsung
diterima
oleh
Plt. Sekreatris
Daerah
Kabupaten Banyuwangi
Asmai
Hadi di
ruang
rapat Sritanjung.
Namun,
mereka
menolaknya.
Mereka
ingin
bisa bertemu
langsung
dengan
semua jajaran
Muspida
Banyuwangi khususnya
Bupati
Samsul Hadi.
Tak
pelak,
tuntutan itu
membuat
kelabakan pemkab.
Pasalnya,
tidak
satu pun jajaran
muspida yang
sebelumnya
diberi
informasi mengenai
kedatangan
mereka.
Ini
yang membuat
pemkab
secara mendadak
membuat
undangan secara
lisan
kepada muspida.
Setelah
menunggu
kurang
lebih satu jam,
satu per
satu
jajaran muspida,
mulai
dari Bupati
Samsul
Hadi, Kapolres
Banyuwangi AKBP Dolly
Bambang
Hermawan, Kepala
Kejaksaan
Negeri
Fatah, Perwakilan
Lanal
Banyuwangi, dan
Perwakilan
Kodim 0825
Banyuwangi
masuk
ke ruang
pertemuan.
Kedatangan
para
muspida langsung
disambut
tepuk
tangan dan
sorak
para kades.
Pada
akhir
pertemuan, Bupati
Samsul
Hadi mengajak
semua
kepala desa
dalam
penyampaian sebuah
aspirasi
jangan
sampai ada
motif-motif yang lain.
Menurutnya,
tidak
hanya di
Banyuwangi
kisruh
menjelang pilkada
terjadi.
Masih
Aman
Sementara
itu,
menurut Kapolres
Banyuwangi AKBP Dolly
Bambang
Hermawan, situasi
Banyuwangi
masih
dalam kondisi normal.
''Saya
melihat
kondisi Banyuwangi
masih
aman terkendali.
Bahkan,
belum
perlu adanya
penambahan
personel
pengamanan,''
katanya
seusai pertemuan
kemarin.
Mengenai
ancaman
dari para
kepala
desa itu, Dolly
menegaskan
bahwa
tidak ada
satu pun
warga yang
ingin
pilkada gagal.
''Kita berdoa
saja
supaya pilkada
sukses,
dan Polri
siap
mengamankannya,'' katanya.
(udi)