kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 16 April 2005

 Opini

 

TAJUK RENCANA

:

Daerah harus Ambil Alih Bina UKM 

A R T I K E L : Dinamisasi Vs ''Fosil'' Pendidikan
Oleh
I Wayan Artika 
Mimbar Agama Kristen : Sakramen Imamat

DIALOG  
INTERAKTIF- BALI POST

: Meneg BUMN harus Bertindak Tegas 

        CATATAN

:  

 

  • Jangan Biarkan ''Lempengan Beton''
    Ancam
    Tata Ruang Bali 

    KITA bisa sedikit menaruh harapan akan adanya pembenahan kualitas tata ruang Bali untuk menuju peningkatan kualitas lingkungan binaan yang kini sudah banyak telanjur menjadi lingkungan liar sesak ruang. Pemerintah Propinsi Bali telah  menuangkan tentang tata cara pembangunan dalam Rencana Strategis yang terkait dengan Tata Ruang untuk mengantisipasi derasnya kerusakan alam akibat kesalahan aksi-aksi pembangunan fisik. Kita sangat menanti dengan penuh harapan agar aturan-aturan yang telah dibuat dapat dipatuhi dan diamankan oleh para petinggi pemerintahan yang berkompeten dalam hal itu, dan tetap berpegang teguh pada Konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana harus ditegakkan agar keharmonisan lingkungan binaan tetap terjaga.

    Tetapi hati saya menjadi ragu dan pesimis, apakah pemerintah akan mampu secara maksimal sebagai sutradara yang baik dalam mengendalikan alur cerita pembangunan itu.

    Coba buka kembali lembaran Bali Post tanggal 28 Maret 2005 dalam kolom ekonominya tertulis, ''Meningkat, Penggunaan Semen di Bali''. Dalam berita itu disebutkan, 80 ribuan ton semen dari berbagai merek habis terkonsumsi setiap bulannya. Jelas ini semuanya masuk dan menumpuk di atas perut bumi (=Bali) menjelma menjadi onggokan beton yang keras dan pasti tidak ramah lingkungan, 80 ribu ton semen = 80.000 kg semen, dan bila memakai pendekatan 1 m3 beton membutuhkan semen sebanyak 400 kg. Itu berarti 80 juta kg semen itu akan dapat menjelma menjadi 200.000 m3 beton setiap bulannya. Itu juga berarti bahwa bila beton dibuat dengan ketebalan 10 m atau hampir setinggi bangunan lantai tingkat 3 maka dapat dibayangkan lahan seluas 2 hektar akan tertutup penuh oleh lempengan beton setebal 10 m setiap bulannya. Mengerikan sekali bila data yang tertulis itu memang valid dan kita melakukan kajian efek lingkungan seperti di atas. Lagi berapa bulan atau tahun Bali ini akan berubah menjadi ''lempengan beton'' yang pasti keras, panas dan menyesakkan? Inilah tantangan sangat serius yang harus diamati dan dicermati oleh para petinggi pemerintahan dan para legislator di dalam membuat kebijakan untuk mengamankan Rencana Tata Ruang tanah Bali agar ''lempengan beton'' itu tidak pernah terwujud.

    I Made Winarya, S.T.
    Br. Kebon Anyar, Kel./Desa Wanagiri
    Kauh

    Kec
    . Selemadeg, Tabanan

     

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)