kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 31 Maret 2005

 Politik


Warga
PDI-P harus Berpikir Jernih 

Denpasar (Bali Post) -
Kongres
PDIP telah digelar di Bali sejak 28 Maret lalu. Bahkan kemarin juga telah digelar kongres tandingan yang intinya menolak hasil-hasil kongres yang digelar di Inna Grand Bali Beach. ''Terkait dengan hal itu warga PDI-P diharapkan berpikir jernih dan tidak sampai terkooptasi oleh jargon-jargon lips service,'' kata L. Soepomo S.W., anggota Fraksi PDI-P DPR RI saat dialog seputar Kongres II PDI-P yang disiarkan langsung Bali TV, Rabu (30/3) kemarin.

Dialog itu selain menghadirkan L. Soepomo S.W., juga mantan Ketua Pecalang Kongres PDI-P di Bali tahun 1998 AA Oka Ratmadi, S.H. dan utusan Kongres II PDI-P dari Kota Denpasar Made Arjaya, S.E.

Kendati ada riak-riak persoalan mewarnai Kongres PDI-P, kata Soepomo, itu wajar sebagai romantika atau dinamika dalam sebuah organisasi. Tapi sesungguhnya, di dalam kongres sendiri tidak ada persoalan. Kongres berjalan lancar-lancar saja

Made Arjaya mengatakan hal yang sama. Bahwa sesungguhnya tidak ada persoalan di dalam kongres. Agenda kongres berlangsung lancar. Bahkan, 99,99 persen peserta kongres mengharapkan Megawati tetap sebagai Ketua Umum PDI-P.

Jika menjadi kenyataan--Megawati dipercaya lagi menjadi ketua umum, menurut AA Oka Ratmadi memang sudah sangat pantas. Megawati-lah menurut Cok Rat--panggilan akrab AA Oka Ratmadi-- sosok yang tepat memimpin PDI-P.

Bukti masih banyaknya dukungan kepada Mega, kata Soepomoada wong cilik yang sampai datang ke Bali menaiki becak dan sepeda. Jadi, PDI-P sebagai partai yang mengusung visi kerakyatan tetap memperhatikan wong cilik. ''Jadi, kecintaan wong cilik masih besar terhadap PDI-P,'' katanya. Lalu, ketika dalam pelaksanaan kongres muncul gesekan massa, kata Cok Rat menambahkan, itu sebuah romantika.

Menyinggung pernyataan seseorang yang mengaku capek memberi masukan, Soepomo mengatakan sesungguhnya Megawati sangat terbuka. Masukan yang sifatnya konstruktif pasti didengar. Barangkali, waktu dan cara memberi masukan itu tidak tepat. ''Mereka yang mengatakan capek memberi masukan, tapi nyatanya membuat tandingan,'' ujarnya.

Arjaya menambahkan, pintu PDI-P sangat terbuka bagi mereka yang ingin masuk dan keluar partai berlambang banteng moncong putih itu. Mereka yang ingin memasuki PDI-P, diharapkan betul-betul ikut membesarkannya. Mereka yang merasa tidak betah di dalam tubuh PDI-P, tentu pintu keluar juga terbuka lebar.     

Soal pembaharuan, kata Arjaya, di tubuh PDI-P sendiri sebetulnya sudah dilakukan hal itu. Sementara mengenai hak prerogatif, Arjaya mengatakan, sesungguhnya itu bersifat situasional. Tetapi, di akar rumput terjadi pembiasan penerjemahan, seakan-akan keputusan mutlak ada pada ketua. Padahal, Mega sendiri sebagai ketua sangat demokratis--mendengar segala aspirasi bawah. (08)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)