Warga
PDI-P harus
Berpikir
Jernih
Denpasar
(Bali Post) -
Kongres
PDIP telah
digelar
di Bali sejak 28
Maret
lalu. Bahkan
kemarin
juga telah
digelar
kongres tandingan
yang intinya
menolak
hasil-hasil kongres
yang digelar
di
Inna
Grand Bali Beach. ''Terkait
dengan
hal itu
warga PDI-P
diharapkan
berpikir
jernih
dan tidak
sampai
terkooptasi oleh
jargon-jargon lips service,'' kata
L. Soepomo S.W.,
anggota
Fraksi PDI-P DPR
RI
saat dialog
seputar
Kongres II PDI-P yang
disiarkan langsung
Bali TV, Rabu (30/3)
kemarin.
Dialog itu
selain
menghadirkan L. Soepomo
S.W., juga
mantan
Ketua Pecalang
Kongres PDI-P
di Bali
tahun 1998 AA Oka
Ratmadi, S.H.
dan
utusan Kongres II PDI-P
dari Kota
Denpasar Made
Arjaya, S.E.
Kendati
ada
riak-riak persoalan
mewarnai
Kongres PDI-P,
kata
Soepomo, itu
wajar
sebagai romantika
atau
dinamika dalam
sebuah
organisasi. Tapi
sesungguhnya,
di
dalam kongres
sendiri
tidak ada
persoalan.
Kongres
berjalan lancar-lancar
saja.
Made Arjaya
mengatakan
hal yang
sama.
Bahwa sesungguhnya
tidak
ada persoalan
di
dalam kongres. Agenda
kongres
berlangsung lancar.
Bahkan, 99,99
persen
peserta kongres
mengharapkan Megawati
tetap
sebagai Ketua
Umum PDI-P.
Jika
menjadi
kenyataan--Megawati
dipercaya lagi
menjadi
ketua umum,
menurut AA
Oka
Ratmadi memang
sudah
sangat pantas.
Megawati-lah
menurut
Cok Rat--panggilan
akrab AA
Oka
Ratmadi-- sosok yang
tepat
memimpin PDI-P.
Bukti
masih
banyaknya dukungan
kepada Mega,
kata
Soepomo, ada
wong
cilik yang sampai
datang
ke Bali menaiki
becak
dan sepeda.
Jadi, PDI-P
sebagai
partai yang mengusung
visi
kerakyatan tetap
memperhatikan
wong
cilik. ''Jadi,
kecintaan
wong
cilik masih
besar
terhadap PDI-P,'' katanya.
Lalu,
ketika dalam
pelaksanaan
kongres
muncul gesekan
massa,
kata Cok Rat
menambahkan,
itu
sebuah romantika.
Menyinggung
pernyataan
seseorang yang
mengaku
capek memberi
masukan,
Soepomo
mengatakan sesungguhnya
Megawati sangat
terbuka.
Masukan yang
sifatnya
konstruktif
pasti
didengar. Barangkali,
waktu
dan cara
memberi
masukan itu
tidak
tepat. ''Mereka yang
mengatakan
capek
memberi masukan,
tapi
nyatanya membuat
tandingan,''
ujarnya.
Arjaya
menambahkan,
pintu PDI-P
sangat
terbuka bagi
mereka yang
ingin
masuk dan
keluar
partai berlambang
banteng
moncong putih
itu.
Mereka yang ingin
memasuki PDI-P,
diharapkan
betul-betul
ikut
membesarkannya. Mereka
yang merasa
tidak
betah di
dalam
tubuh PDI-P, tentu
pintu
keluar juga
terbuka
lebar.
Soal
pembaharuan,
kata
Arjaya, di
tubuh PDI-P
sendiri
sebetulnya sudah
dilakukan
hal itu.
Sementara
mengenai
hak
prerogatif, Arjaya
mengatakan,
sesungguhnya
itu
bersifat situasional.
Tetapi,
di akar
rumput
terjadi pembiasan
penerjemahan,
seakan-akan
keputusan
mutlak
ada pada
ketua.
Padahal, Mega sendiri
sebagai
ketua sangat
demokratis--mendengar
segala
aspirasi bawah.
(08)