Peringatan
Dini Tsunami
RASANYA
belum
kering air
mata
ini
karena musibah
gempa
dan tsunami yang
meluluh-lantakkan
Nanggroe
Aceh Darussalam
dan
Sumatera Utara,
namun
kini
bencana
itu
datang lagi.
Gempa
dengan
kekuatan 8,7
pada
skala Richter
kembali
menerjang
Pulau
Nias
dan
Simelue.
Pada
bencana 26
Desember 2004
lalu,
Nias
dan
Simelue juga
porak-poranda.
Kini,
musibah
itu
menghampiri lagi
saudara
kita
di
sana.
Nias,
mungkin
tidak
banyak yang
mengenal
pulau
kecil
ini.
Namun
pada
peta
pariwisata
dunia,
pulau
ini
memiliki kekhasan
tersendiri.
Budaya
penduduknya
terbilang
unik.
Sementara
panorama alamnya,
khususnya
ketinggian
gelombang
lautnya,
selalu
menjadi
incaran
para
peselancar
dunia.
Boleh
dikatakan,
Nias
merupakan Bali-nya
Sumatera.
Kini,
sungguh
menyedihkan,
pulau yang
elok
itu
kembali berantakan.
Ribuan
orang
tewas
dan
kehilangan tempat
tinggal.
Sebagai
negara
kepulauan yang
rentan
bencana,
seharusnya
pemerintah
Indonesia
mempunyai
satu
lembaga yang
secara
khusus
menangani
mesalah
bencana
ini.
Kalau
sekarang
ada
Bakosarnas, harus
diperbaiki
lagi.
Baik
dari
sisi
pengurusnya
maupun
ruang
gerak
serta
pendanaannya agar
lembaga
ini
cepat tanggap
dalam
menangani
bencana
nasional.
Banyak
hal yang
selalu
menjadi
kendala
apabila
terjadi
bencana.
Contohnya
di
Aceh.
Koordinasi,
sebagai
salah
satunya
merupakan
sisi yang paling
banyak
disorot.
Kurang
rapinya
koordinasi
menyebabkan
evakuasi,
distribusi
maupun
rehabilitasi
menjadi
tersendat.
Dengan
memiliki
badan
khusus
itu, paling
tidak
kita
menunjukkan
kepada
dunia
bahwa
kita
juga
mampu
menangani
kesulitan
ini.
Hal ini
bukan
berarti
kita
tidak
perlu
bantuan
asing.
Rasanya,
menghadapi
bencana
sedemikian
dahsyatnya,
tidaklah
mungkin
suatu
bangsa
menanggulanginya
sendiri.
Solidaritas
internasional
akan
menggerakkan
rasa
kemanusiaan
untuk
membantu
sesamanya yang
tengah
ditimpa
bencana.
Bencana
di
Aceh dapat
dijadikan
pelajaran
berharga.
Bantuan
internasional yang
mengalir
deras
harus
dikoordinasikan
sehingga
benar-benar
sampai
ke
tangan yang memerlukan.
Tumpang
tindih
komando
serta
timbulnya
keangkuhan
sektoral
harus
dihilangkan.
Dengan
demikian,
kasus
Farid
Faqih
tidak
akan
pernah
terjadi
lagi.
Kasus
yang amat
memalukan
itu
menjadi cerminan
bagaimana
kita
ini
sebenarnya tidak
bisa
mengatur
diri
sendiri.
Bencana
memang
tidak
pernah
kita
undang.
Datangnya
begitu
tiba-tiba
dan
akibatnya sangat
mengerikan.
Dalam
konteks
Bali,
sesuai yang
dimuat Bali Post
Rabu (30/3)
kemarin,
disebutkan
bahwa
pantai
Kuta
rawan
gempa.
Ada
persamaan
kalau
kita
mencoba
membandingkan
Kuta
dengan
Nias.
Paling
tidak keduanya
mempunyai
pantai
dengan
ombak yang
sangat ideal
untuk
berselancar.
Sedangkan
bagi
Bali, Kuta
merupakan barometer
utama
pariwisata
di
daerah ini.
Dalam
rembuk
bertajuk ''Peringatan
Dini
Bahaya Tsunami
di Bali'' yang
digelar
di
Puri Kesiman,
Kepala
Badan
Meteorologi
dan
Geofisika (BMG) Bali
Jumadi mengatakan
daerah Bali
Selatan
mempunyai
pertemuan
lempeng yang
berjarak 180-200
kilometer.
Sedangkan
di Bali
Utara
terdapat
patahan
backtress.
Inilah
yang membuat
daerah
ini
rawan gempa.
Berbekal
fakta
ini,
maka
perlu
ditegaskan
lagi
pembangunan
sebuah
institusi yang
profesional
dalam
mengantisipasi
serta
menanggulangi
bencana.
Aspek
peringatan
dini
terhadap
bahaya tsunami
sudah
saatnya
dipikirkan
dan
dibangun. Paling
tidak, hal
itu
untuk memperkecil
kemungkinan
korban yang
akan
jatuh.
Saat
gempa
menghantam
Nias,
getarannya
sampai
di Malaysia
serta Thailand.
Di
Phuket, Thailand, yang
juga
luluh-lantak
pada tsunami 26
Desember
tahun
lalu,
peringatan
dini
sudah
diuji
coba.
Sirene
meraung-raung
begitu
getaran
hebat
terjadi.
Terlepas
dari
semua
itu,
kita
tidak
bisa
mengingkari
kekuatan
Tuhan.
Kita hanya
berusaha
dan
Tuhan yang menentukan.
Namun,
dalam
konteks
bencana yang
ditimbulkan
oleh
ulah
manusia,
hendaknya
pemerintah
dapat
bertindak
tegas.
Penebangan
hutan
secara liar,
pelanggaran
tata
ruang,
penambangan
ilegal,
merupakan
salah
satu
contoh
pemicu
bencana.
Bencana
oleh
ulah
manusia
tidak
kalah
hebatnya
dengan
bencana
peringatan yang
diberikan
oleh Yang
Maha
Kuasa.