kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 31 Maret 2005

 Tajuk Rencana

 

Peringatan Dini Tsunami 

RASANYA belum kering air mata ini karena musibah gempa dan tsunami yang meluluh-lantakkan Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, namun kini bencana itu datang lagi. Gempa dengan kekuatan 8,7 pada skala Richter kembali menerjang Pulau Nias dan Simelue. Pada bencana 26 Desember 2004 lalu, Nias dan Simelue juga porak-poranda. Kini, musibah itu menghampiri lagi saudara kita di sana.

Nias, mungkin tidak banyak yang mengenal pulau kecil ini. Namun pada peta pariwisata dunia, pulau ini memiliki kekhasan tersendiri. Budaya penduduknya terbilang unik. Sementara panorama alamnya, khususnya ketinggian gelombang lautnya, selalu menjadi incaran para peselancar dunia. Boleh dikatakan, Nias merupakan Bali-nya Sumatera.

Kini, sungguh menyedihkan, pulau yang elok itu kembali berantakan. Ribuan orang tewas dan kehilangan tempat tinggal. Sebagai negara kepulauan yang rentan bencana, seharusnya pemerintah Indonesia mempunyai satu lembaga yang secara khusus menangani mesalah bencana ini. Kalau sekarang ada Bakosarnas, harus diperbaiki lagi. Baik dari sisi pengurusnya maupun ruang gerak serta pendanaannya agar lembaga ini cepat tanggap dalam menangani bencana nasional. Banyak hal yang selalu menjadi kendala apabila terjadi bencana. Contohnya di Aceh. Koordinasi, sebagai salah satunya merupakan sisi yang paling banyak disorot. Kurang rapinya koordinasi menyebabkan evakuasi, distribusi maupun rehabilitasi menjadi tersendat.

Dengan memiliki badan khusus itu, paling tidak kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita juga mampu menangani kesulitan ini. Hal ini bukan berarti kita tidak perlu bantuan asing. Rasanya, menghadapi bencana sedemikian dahsyatnya, tidaklah mungkin suatu bangsa menanggulanginya sendiri. Solidaritas internasional akan menggerakkan rasa kemanusiaan untuk membantu sesamanya yang tengah ditimpa bencana.

Bencana di Aceh dapat dijadikan pelajaran berharga. Bantuan internasional yang mengalir deras harus dikoordinasikan sehingga benar-benar sampai ke tangan yang memerlukan. Tumpang tindih komando serta timbulnya keangkuhan sektoral harus dihilangkan. Dengan demikian, kasus Farid Faqih tidak akan pernah terjadi lagi. Kasus yang amat memalukan itu menjadi cerminan bagaimana kita ini sebenarnya tidak bisa mengatur diri sendiri.

Bencana memang tidak pernah kita undang. Datangnya begitu tiba-tiba dan akibatnya sangat mengerikan. Dalam konteks Bali, sesuai yang dimuat Bali Post Rabu (30/3) kemarin, disebutkan bahwa pantai Kuta rawan gempa. Ada persamaan kalau kita mencoba membandingkan Kuta dengan Nias. Paling tidak keduanya mempunyai pantai dengan ombak yang sangat ideal untuk berselancar. Sedangkan bagi Bali, Kuta merupakan barometer utama pariwisata di daerah ini.

Dalam rembuk bertajuk ''Peringatan Dini Bahaya Tsunami di Bali'' yang digelar di Puri Kesiman, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bali Jumadi mengatakan daerah Bali Selatan mempunyai pertemuan lempeng yang berjarak 180-200 kilometer. Sedangkan di Bali Utara terdapat patahan backtress. Inilah yang membuat daerah ini rawan gempa.

Berbekal fakta ini, maka perlu ditegaskan lagi pembangunan sebuah institusi yang profesional dalam mengantisipasi serta menanggulangi bencana. Aspek peringatan dini terhadap bahaya tsunami sudah saatnya dipikirkan dan dibangun. Paling tidak, hal itu untuk memperkecil kemungkinan korban yang akan jatuh.

Saat gempa menghantam Nias, getarannya sampai di Malaysia serta Thailand. Di Phuket, Thailand, yang juga luluh-lantak pada tsunami 26 Desember tahun lalu, peringatan dini sudah diuji coba. Sirene meraung-raung begitu getaran hebat terjadi.

Terlepas dari semua itu, kita tidak bisa mengingkari kekuatan Tuhan. Kita hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Namun, dalam konteks bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia, hendaknya pemerintah dapat bertindak tegas. Penebangan hutan secara liar, pelanggaran tata ruang, penambangan ilegal, merupakan salah satu contoh pemicu bencana. Bencana oleh ulah manusia tidak kalah hebatnya dengan bencana peringatan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)