Berdasarkan catatan gempa merusak di
Bali sejak tahun 1800-an zone subduksi megathrust di
selatan Bali belum pernah menimbulkan gempa besar yang
merusak. Tsunami juga belum pernah terjadi akibat
penyusupan lempeng Indo-Australia ke bawah Bali.
Seringnya Bali diguncang gempa dengan intensitas
III-IV MMI yang tidak menyebabkan kerusakan
menunjukkan bahwa kondisi tektonik kawasan Bali sangat
rapuh dan tidak elastis. Sehingga ketika mendapat
stres langsung patah dan dilepaskan yang
dimanifestasikan sebagai gempa dengan magnitude kecil.
Keadaan ini justru baik karena justru tidak akan
terjadi akumulasi energi yang akan dilepaskan dalam
bentuk gempa besar yang merusak.
Perbedaan
Karakteristik Gempa di Sumatera dan Bali
Oleh Daryono, S.Si., M.Si.
GEMPA
bumi yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 dan di
Nias pada 28 Maret 2005 lalu memiliki magnitude besar
dengan kedalaman dangkal di zone penyusupan lempeng.
Bagaimana dengan aktivitas gempa bumi di zone
penyusupan lempeng samudera di selatan
Bali? Ada perbedaan karakteristik gempa
dan tektonik antara Sumatera dan Bali berdasarkan data
kegempaan yang ada.
Besar kemungkinan, gempa yang terjadi
di Nias, Senin (28/3) malam lalu adalah gempa baru
yang dipicu oleh gempa Aceh pada 26 Desember tahun
lalu. Gempa ini bukan merupakan gempa susulan Aceh,
namun masih berada dalam satu rangkaian lempeng kerak
bumi.
Pusat gempa Nias berada di zone
penyusupan megathrust di sebelah selatan gempa Aceh
dan masih berada dalam jalur banturan lempeng Samudera
Hindia dengan lempeng Eurasia. Jadi gempa ini bukan
gempa susulan, tetapi memang terpicu oleh gempa Aceh,
di mana energi yang dilepaskan gempa Aceh menyebabkan
gaya-gaya yang bekerja mencari kesetimbangan dengan
membuat titik-titik rawan lain menjadi lebih tegang.
Pada kejadian gempa kali ini, gelombang
tsunami tidak muncul karena perubahan kerak bumi tidak
terlalu mempengaruhi permukaan lantai samudera. Sebab,
meskipun gempanya besar, deformasi yang terjadi di
lantai samudera kecil, sehingga permukaan laut di
atasnya tidak terlalu bergoyang dan berosilasi untuk
bisa terjadi tsunami.
Tektonik Sumatera
Berdasarkan data historis, sekitar 121
tahun lalu, di sekitar kawasan ini memang pernah
terjadi gempa besar berkekuatan 9 skala Richter,
tepatnya di perairan Kepulauan Mentawai, Smatera Barat.
Guncangan akibat gempa megathrust yang dahsyat itu
menimbulkan gelombang tsunami yang menerjang wilayah
pesisir barat Pulau Sumatera. Bahkan, pengaruhnya
dirasakan sampai Singapura dan Malaysia.
Memang, tak ada data pasti tanggal
kejadian gempa itu dan kerusakan yang ditimbulkannya.
Namun, berdasarkan beberapa laporan, gempa yang
dirasakan sampai di Singapura tersebut terjadi pada
tanggal 24 November 1833. Gempa pada 1833 ini bukanlah
rekaan. Gempa besar yang magnitudonya hampir sama,
juga terjadi pada tahun 1608 dan 1381. Diyakini,
siklus gempa besar itu terjadi dalam kurun waktu
200-300 tahun.
Seringnya terjadi gempa di Kepulauan
Mentawai dan Nias di sebelah barat pesisir Sumatera
bersumber di zone gempa besar, yaitu Zone Subduksi
Lempeng yang terletak di bawah Kepulauan Mentawai dan
Kepulauan Nias. Zone ini mempunyai potensi gempa yang
sangat tinggi sebagai generator gempa merusak.
Sumber gempa tektonik di Aceh dan Nias
merupakan segmen (gempa bumi) paling utara pada Zone
Subduksi Sumatera, yang membentang sampai ke Selat
Sunda dan berlanjut hingga selatan Pulau Jawa. Khusus
di pantai barat Sumatera, terdapat 6 zone subsuksi
yang sangat berpotensi sebagai gempa besar yang
biasanya diikuti tsunami, yaitu segmen Simeulue, Nias,
Kepulauan Batu, Siberut, Sipora, Pagai, dan Bengkulu.
Subsuksi ini mendesak lempeng Eurasia
di bawah Samudera Hindia ke arah barat laut di
Sumatera dan frontal ke utara terhadap Pulau Jawa,
dengan kecepatan pergerakan yang bervariasi. Puluhan
hingga ratusan tahun, dua lempeng itu saling menekan.
Namun lempeng Indo-Australia dari selatan bergerak
lebih aktif.
Pergerakannya yang hanya beberapa
milimeter hingga beberapa sentimeter per tahun ini
memang tidak terasa oleh manusia. Karena dorongan
lempeng Indo-Australia terhadap bagian utara Sumatera
kecepatannya hanya 5,2 cm per tahun, sedangkan yang di
bagian selatannya kecepatannya 6 cm per tahun.
Pergerakan lempeng di daerah barat Sumatera yang
miring posisinya ini lebih cepat dibandingkan dengan
penyusupan lempeng di selatan Jawa.
Akibat dorongan lempeng Indo-Australia
tersebut, Pulau Sumatera terbelah menjadi dua bagian
yang memanjang. Patahan yang terbentuk itu sangat
populer disebut sebagai Patahan Semangko yang
merupakan generator gempa merusak di daratan Sumatera.
Belahan Sumatera yang kecil di bagian barat daya
bergerak ke barat laut, berlawanan dengan belahan yang
besar di timur laut.
Selama puluhan sampai ratusan tahun,
tekanan lempeng Samudera Hindia ini akan terus
meningkat sampai melampaui kekuatan elastisitas batuan,
sehingga batuan di bawah pulau-pulau akan runtuh dan
bergeser secara tiba-tiba. Bila ini terjadi, maka
timbul gempa bumi. Sehingga aktivitas lempeng baru
diketahui ketika terjadi gempa. Karena sesungguhnya
gempa merupakan petunjuk adanya bagian dari batuan di
tempat pertemuan lempeng yang tidak mampu lagi menahan
tekanan, pada saat itu batuan tersebut patah.
Kawasan Bali
Untuk daerah Bali, berdasarkan pada
karakteristik kegempaan dan tektonik, serta ditunjang
dengan karakteristik data geofisika yang ada, maka
sumber gempa yang mempengaruhi kawasan Bali dan
sekitarnya dapat dibagi atas dua bagian, yaitu zone
subduksi di selatan Bali dan patahan busur belahan di
utara Bali.
Gempa yang terjadi pada zone subduksi
Bali umumnya dipisahkan atas dua kelompok, yaitu gempa
megathrust yang merupakan gempa akbat penyusupan
dangkal dan gempa Benioff yang merupakan gempa akibat
penyusupan dalam. Zone megathrust adalah bagian
dangkal dari zone subduksi yang mempunyai sudut tukik
yang landai, sedangkan zone Benioff adalah bagian
dalam dari zone subduksi yang mempunyai sudut tukik
yang curam.
Berbeda dengan di Sumatera, berdasarkan
catatan gempa merusak di Bali sejak tahun 1800-an zone
subduksi megathrust di selatan Bali belum pernah
menimbulkan gempa besar yang merusak. Tsunami juga
belum pernah terjadi akibat penyusupan lempeng
Indo-Australia ke bawah Bali.
Seringnya Bali diguncang gempa dengan
intensitas III-IV MMI yang tidak menyebabkan kerusakan
menunjukkan bahwa kondisi tektonik kawasan Bali sangat
rapuh dan tidak elastis. Sehingga ketika mendapat
stres langsung patah dan dilepaskan yang
dimanifestasikan sebagai gempa dengan magnitude kecil.
Keadaan ini justru baik karena tidak akan terjadi
akumulasi energi yang akan dilepaskan dalam bentuk
gempa besar yang merusak.
Apakah mungkin daerah Bali dilanda
tsunami? Meskipun secara teoretik, empirik dapat
dijawab ''mungkin'', karena kawasan laut di sekitar
Bali memiliki potensi distribusi patahan naik
pembangkit tsunami, namun perlu diketahui bahwa
gempa-gempa di kawasan Bali dan sekitarnya memiliki
karakteristik magnitude kurang dari 6,5 skala Richter,
di bawah syarat magnitude suatu gempa menyebabkan
tsunami.
Berdasarkan data, dapat dipastikan
bahwa frekuensi terjadi tsunami di Bali sangat kecil.
Kalaupun sampai tsunami terjadi di Bali, kemungkinan
tinggi gelombang yang sampai ke pantai tidak terlalu
besar. Berdasarkan simulasi komputer yang didasarkan
pada asumsi serta data empirik yang ada, hanya ada dua
tsunami yang terjadi di sekitar Bali, yaitu tsunami di
selatan Sumba tahun 1977 dan tsunami di selatan
Banyuwangi tahun 1994.
Secara umum ada sejumlah syarat
terjadinya tsunami; yakni terjadi gempa di dasar laut
yang kedalamannya dangkal (h<50 km), memiliki kekuatan
di atas 6,5 skala Richter dengan tipe deformasi dasar
lautan berupa patahan vertikal. Kalau kekuatannya di
bawah 7 SR, mungkin bisa menyebabkan tsunami tetapi
gelombangnya sangat lemah, bahkan tidak sampai di
darat. Jadi kalau ada yang bertanya apakah di Bali
bisa terjadi tsunami, secara ilmiah dapat dijawab ''mungkin
saja''. Tetapi kekuatannya tidak besar, karena
karakteristik gempa bumi di Bali dan sekitarnya
memiliki magnitude kurang dari 7 skala Richter.
Yang paling mendesak saat ini,
bagaimana mendidik masyarakat agar tidak panik bila
terjadi tsunami. Kalau masyarakat mempunyai
pengetahuan yang memadai masyarakat tidak mudah
dipengaruhi isu-isu yang menyesatkan. Jadi masyarakat
janganlah terlalu cemas dan ketakutan berlebihan,
karena kemungkinan tsunami di Bali sangat kecil.
Penulis, karyawan Balai Besar
Meteorologi dan Geofisika Denpasar